Minggu, 15 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Kisah Jupri, Petani yang Menemukan Arca saat Menguruk Lahan

Dikira Benda Biasa, Sempat Jadi Mainan Cucu

08 Oktober 2019, 03: 10: 59 WIB | editor : Abdul Basri

SAKSI SEJARAH: Warga menyaksikan langsung penampakan arca yang ditemukan Jupri di Desa Ambat, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, kemarin.

SAKSI SEJARAH: Warga menyaksikan langsung penampakan arca yang ditemukan Jupri di Desa Ambat, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, kemarin. (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

Share this      

Arca ditemukan di lahan pertanian milik warga Desa Ambat, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan. Saksi sejarah itu sempat dijadikan mainan anak-anak lantaran diduga benda biasa.

GAZEBO di kediaman anggota DPRD Pamekasan Abd. Aziz sesak kemarin (7/10). Sejumlah warga mengenakan sarung lengkap dengan kopiah berkumpul di tempat itu. Salah satu warga bernama Muhammad Jupri yang menjadi ”pembicara” dalam forum tidak resmi tersebut.

Petani berusia 45 tahun itu menjadi sorotan netizen sejak beberapa hari terakhir. Petani asal Dusun Duko, Desa Ambat, Kecamatan Tlanakan itu viral setelah patung kepala mirip arca Buddha yang ditemukan di lahannya diunggah ke laman media sosial.

Patung tersebut mirip arca bersemedi. Sayangnya tidak utuh. Hanya bagian kepala yang ditemukan. Bahannya terbuat dari batu hitam. Sangat kuat. Seolah menandakan bahwa patung itu tidak dibuat dengan sembarangan.

Arca itu sebenarnya ditemukan sekitar sembilan bulan lalu di lahan pertanian. Jupri menceritakan, lahan tersebut sempat dikeruk sedalam tiga meter beberapa tahun lalu. Tanah hasil kerukannya dijual untuk bahan pembuatan tambat labuh.

Sembilan bulan lalu, Jupri ingin bertani. Tetapi, lahannya tidak bisa langsung ditanami. Lubang bekas kerukan itu harus diratakan. Dengan demikian, dia mulai meratakan galian itu. Sebagian gundukan digali kembali agar merata.

Ketika menggali salah satu gundukan, cangkulnya mengenai benda keras. Setelah dicek ternyata batu berbentuk kepala. Benturan antara cangkul dengan batu itu sangat keras. Tetapi, sama sekali tidak merusak batu berwujud kepala itu.

Patung kepala itu tidak dihiraukan. Bahkan, ditinggal selama lima hari di lahan itu. Beberapa hari kemudian, patung itu diambil untuk mainan cucu. Keputusan ayah dari dua anak itu membawa patung itu lantaran bentuknya aneh. Mirip boneka.

Cucunya sangat suka mainan. Patung itu lalu dibawa ke rumah dan dibersihkan dari tanah yang menempel. ”Saat ditemukan, posisi patung itu tegak. Bahkan, setelah lima hari saya tinggal tetap tegak,” ceritanya.

Semenjak viral, patung mirip arca Buddha itu tidak lagi ditempatkan sembarangan. Benda yang diyakini bersejarah itu disimpan lantaran banyak yang menanyakan. ”Saya simpan rapi di rumah,” ujarnya.

Kepala Desa Ambat, Kecamatan Tlanakan, Samhari mengatakan, lahan tempat ditemukan patung itu terkenal keramat. Tetapi, belum bisa dipastikan apakah lokasi itu tempat peninggalan sejarah.

Pasca penemuan patung itu, pemerintah desa akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Tujuannya, agar dilakukan penelitian lebih lanjut. ”Siapa tahu tempat itu mengandung nilai sejarah,” katanya.

Sementara itu, Kepala Disparbud Pamekasan Achmad Sjaifudin mengaku mendapat informasi mengenai penemuan patung itu. Hanya, dia belum bisa memastikan apakah masuk benda bersejarah atau benda biasa.

Sebab, tim ahli cagar budaya bentukannya belum melakukan penelitian. Alasannya, disparbud masih fokus menyiapkan peringatan hari jadi Pamekasan. ”Kami masih fokus harjad,” terangnya.

Desa Ambat memang bukan kawasan kerajaan. Tetapi, berdasarkan penelitian lembaga arkeologi, wilayah pesisir Pamekasan dulunya sempat tumbuh budaya Tionghoa. Salah satunya di pesisir Talang Siring yang menyimpan sejumlah artefak.

Tidak menutup kemungkinan, pesisir Ambat juga sempat ada budaya Tionghoa yang tumbuh dan berkembang. Tetapi, pihaknya belum bisa menyimpulkan sebelum kajian dan penelitian dilakukan. ”Setelah harjad, kami akan lakukan kajian,” tandasnya.

(mr/onk/pen/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia