Rabu, 13 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Features

Atmaniyah, Janda Miskin yang Tidak Dapat Bantuan Pemerintah

Tempati Rumah Tabing Bolong-Bolong

05 Oktober 2019, 11: 24: 41 WIB | editor : Abdul Basri

MEMPRIHATINKAN: Atmaniyah bersama anak-anaknya berada di dalam rumah, Rabu (2/10).

MEMPRIHATINKAN: Atmaniyah bersama anak-anaknya berada di dalam rumah, Rabu (2/10). (MOH. ALI MUHSIN/RadarMadura.id)

Share this      

Jika kita bisa tidur nyenyak di kasur empuk, hal berbeda dialami Atmaniyah. Tiap malam dia harus tidur kedinginan. Angin masuk melalui lubang anyaman bambu rumah gedeknya.

TENDA perkawinan terpasang di depan rumah warga yang dilengkapi hiasan kaligrafi, Rabu (2/10). Bunyi tata suara dengan lagu dangdut menggema di Dusun Panyepen, Desa Konang, Kecamatan Galis, Pamekasan.

Satu per satu tamu berdatangan di rumah tersebut. Rumah-rumah itu terlihat bagus dipandang mata. Apalagi ditempeli hiasan bunga-bunga khas hajatan penganten. Namun, kondisi rumah yang mapan itu berbeda dengan rumah milik Atmaniyah yang terletak tepat di depan rumah warga yang memiliki hajatan.

Bangunan rumah yang terbuat dari anyaman bambu (tabing, Mdr) cukup memprihatinkan. Banyak yang berlubang. Janda yang baru saja ditinggal pergi suaminya untuk selama-lamanya itu tidak mampu untuk memperbaiki.

Rumah dan dapur menjadi satu. Hanya dibatasi bangunan dinding. Saat makan bersama putra-putrinya, sering kali mereka menempati tempat tidur. Sebab, mereka memang tidak memiliki dapur atau tempat khusus untuk makan.

Rumah itu merupakan warisan orang tuanya. Perempuan 35 tahun tersebut mengaku tidak mampu untuk memperbaiki. Apalagi membangun rumah baru. Bahkan, ketika suaminya masih hidup.

”Mas Bukhori, suami saya, sekitar sembilan belas hari yang lalu meninggal dunia dan ibu saya juga baru meninggal sebelumnya,” terang Atmaniyah sembari menemani anaknya.

Hasil perkawinan dengan Bukhori dianugerahi delapan anak. Di rumah itulah dia bersama suami dan anak-anaknya berteduh. ”Tidurnya mencar-mencar. Ada yang di pojok, ada di dekat dapur, dan lain-lain,” terangnya.

Anak-anak Atmaniyah sudah ada yang sekolah di tingkat SMA, SMP, SD, dan PAUD. Namun, ada juga yang putus sekolah sejak SD kelas III. ”Ya karena faktor ekonomi,” ucap perempuan berkerudung itu.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Atmaniyah berjualan lauk pauk, ikan, dan kebutuhan dapur ke rumah-rumah warga. Hasil dari jualan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, saat ini dirinya sudah tidak bisa lagi mencarikan nafkah untuk anak-anaknya.

”Sudah tidak bisa jualan lagi karena gak ada yang mau jaga anak,” terangnya sembari melihat anaknya yang keluar masuk ke rumah gedek itu.

Sampai saat ini dirinya mengaku belum pernah mendapatkan bantuan program keluarga harapan (PKH) atau bantuan lain dari pemerintah. ”Kalau ibu dulu dapat, saya tidak,” terangnya.

Atmaniyah akan sangat senang jika ada pihak yang berkenan membantu. Tidak hanya kepada pemerintah, siapa pun yang bersedia untuk meringankan beban keluarga. Terutama untuk membantu renovasi rumahnya.

”Kalau malam kedinginan karena angin masuk. Tapi, alhamdulillah sudah ada orang yang peduli memberikan semen dan pasir,” terangnya.

Terpisah, Camat Galis Ach. Farid tidak membantah kondisi Atmaniyah. Dia memang termasuk golongan warga tidak mampu. Farid mengaku sudah mengecek dan ikut memberikan bantuan.

Karena itu, pihaknya akan terus memperhatikan. Tarmasuk mengupayakan agar bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah. ”Warga iuran untuk membantu renovasi rumah yang bersangkutan. Tapi, bahannya belum cukup,” tandasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia