Rabu, 13 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Berita Kota

Sentra Batik Belum Difungsikan

Pemkab Kucurkan Dana Rp 7,6 Miliar

02 Oktober 2019, 08: 21: 40 WIB | editor : Abdul Basri

MUBAZIR: Warga berada di emper gedung sentra batik di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan, kemarin.

MUBAZIR: Warga berada di emper gedung sentra batik di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan, kemarin. (RadarMadura.id)

Share this      

SALAH satu upaya pemerintah mengembangkan batik yakni dengan membangun gedung sentra batik. Gedung tersebut akan digunakan untuk pameran, pemasaran, dan pelatihan batik.

Pembangunan dimulai pada 2017. Total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp 7,6 miliar (selengkapnya lihat grafis). Sayangnya, gedung di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan, itu belum difungsikan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan Bambang Edy Suprapto mengakui sentra batik belum difungsikan. Sekarang masih ada pembangunan showroom. Jika pembangunan tersebut selesai, sentra batik akan dioperasikan.

Pasar 17 Agustus juga bakal dikembangkan. Anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 3,8 miliar. Dana tersebut untuk membangun 14 toko dan 132 los. ”Kalau operasional sentra batik menunggu bangunan yang sekarang selesai,” kata Bambang kemarin (1/10).

Anggota DPRD Pamekasan Harun Suyitno mengatakan, gedung sentra batik seharusnya difungsikan. Sebab, pembangunannya dimulai tiga tahun lalu. Seharusnya, gedung yang menelan anggaran miliaran rupiah itu bermanfaat bagi masyarakat.

Ironisnya, sampai sekarang gedung berwarna biru tersebut belum difungsikan. Padahal, bangunannya siap sejak tahun lalu. ”Nunggu apa lagi? seharusnya sudah difungsikan,” ucap dia menyindir.

Harun menegaskan, dewan menyetujui setiap pengajuan anggaran pengembangan gedung sentra batik karena ingin mendukung misi bupati. Yakni, mengembangkan batik dan mampu bersaing dengan luar daerah.

Sayangnya, dukungan dari dewan tidak direalisasikan dengan baik. Gedung sentra batik yang seharusnya beroperasi dibiarkan terbengkalai. ”Kalaupun ada sarana yang belum terbangun, seharusnya tetap dioperasikan sembari pembangunan itu jalan,” ujarnya.

Calon wakil ketua DPRD Pamekasan itu berharap, disperindag selaku organisasi perangkat daerah (OPD) yang menangani batik lebih serius merealisasikan program. Pengembangan industri batik harus menjadi prioritas program.

Gedung sentra batik segera difungsikan. Harapannya, sarana tersebut bisa menampung karya perajin dan menjadi jujukan wisatawan yang ingin belajar batik. Selain sentra batik, pemerintah memiliki Pasar 17 Agustus.

Pasar tersebut selama ini menjadi jujukan warga yang ingin berbelanja batik. Tetapi, pengelolaannya belum maksimal dan butuh keseriusan. ”Promosi sudah bagus, tinggal pemanfaatan sarana agar batik Pamekasan lebih diminati,” sarannya. 

(mr/pen/onk/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia