Senin, 14 Oct 2019
radarmadura
icon featured
Esai

Hijriah dan Tumbangnya Rasisme

Oleh Abd. Munib*

30 September 2019, 12: 05: 56 WIB | editor : Abdul Basri

Hijriah dan Tumbangnya Rasisme

Share this      

PENENTUAN tahun ke-1 Hijriah dimulai enam tahun pasca wafatnya Rasulullah. Melalui usulan Ali bin Abi Thalib, khalifah Umar bin Khattab menetapkan tolok ukur penanggalan Islam tepat dimulai sejak tahun hijrahnya Nabi Muhammad dari Kota Makkah ke Kota Yatsrib (baca: Madinah). Yakni, pada 638 Masehi.

Kita ingat betul, ketika ruang gerak dakwah Nabi dibatasi di Kota Makkah, Rasulullah tidak mengambil langkah yang keras hati. Rasul lebih memilih mengalah guna mewujudkan sekaligus memandang manusia sebagai manusia yang dimanusiakan sehingga memutuskan untuk berhijrah.

Uniknya, dari segi model, ayat yang turun sebelum dan sesudah hijrahnya Nabi Muhammad juga berbeda. Faktanya, ayat-ayat yang turun di Makkah cenderung lebih pendek dan lebih puitis penuh dengan perumpamaan apokaliptik. Yakni, pewahyuan yang penuh semangat dan peringatan keras terhadap orang-orang yang suka menindas, merugikan, dan gemar menimbun kekayaan. Sementara ayat-ayat yang turun di Madinah lebih bersifat prosaik serta berhubungan langsung praktik keagamaan dan disiplin kemasyarakatan.

Di tengah-tengah kaum jahiliah gemar memproduksi narasi-narasi agitasi dan isu-isu provokasi untuk memecah belah persatuan sahabat Anshar dan Muhajirin, Rasulullah memalalui sifat jujur, adil, santun, dan kemahirannya bisa meredam narasi agitasi dan isu provokasi. Hal ini bisa dibuktikan dengan keakuran yang terjalin antara sahabat Anshar dan Muhajirin.

Di tempat hijrah yang kini bernama Madinahitu siasat-siasat digencarkan hingga tumbuh menjadi kekuatan yang digdaya. Apalagi di Kota Madinah Nabi Muhammad tidak sekadar menjadi khatib (penyampai pesan agama). Tetapi juga menjadi pemimpin kaum Anshar-Muhajirin sekaligus sebagai pembuat hukum (legislator).

Salah satu alutsista Rasulullah adalah dengan cara memandang manusia dengan mata kasih sayang (ainir rahmah) bukan dengan mata harta dan kekuasaan (ainil maliyah wal mulk). Walaupun Rasul mengakui keunggulan golongan Anshar, tapi tidak sampai menyinggung rombongan Muhajirin. Singkat kata, dalam mengobarkan semangat juang, Rasulullah tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap rasisme. Sungguh teladan yang harus bahkan wajib dicontoh agar bisa hidup berdampingan dan bergandengan tangan di Indonesia.

Tragedi kekerasan yang terjadi pada akhir 1990-an hingga sekarang di berbagai daerah di Indonesia mengindikasikan betapa kesatuan dan kerukunan kita rentan bergejolak akibat gesekan berbau SARA. Maka, jika tuduhan dan penilaian negatif terus diagungkan, yang terjadi adalah disrupsi yang memudarkan persatuan, bahkan kemunduran di segala lini kehidupan. Apalagi, saat ini negara kita tengah disoal dengan tragedi rasisme yang memicu mencuatnya kembali isu Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Jangan lupa, untuk merongrong Indonesia tidak perlu mematahkan Monumen Nasional (Monas) di Jakarta. Hanya dengan meracuni penghuninya dengan bau rasisme saja itu sudah cukup. Karena bara rasisme sangat tajam membakar keteduhan berwarga negara. Bahkan, negara yang dikenal paling dewasa dalam berdemokrasi sekalipun belum sepenuhnya terbebas dari problem-problem yang berporos dari masalah rasisme. Lihat Amerika Serikat, hingga saat ini tidak sepenuhnya bisa tuntas meredam persoalan tegang tentang kulit hitam dan putih. Artinya, bangsa yang mengedepankan mentalitas arogan akan memperparah banalitas tindak rasisme.

Pendidikan multikultural mengajarkan kita untuk mengakui dan menghormati adanya keberagaman etnik dan budaya suatu bangsa. Apabila keberagaman itu tidakdiakui maka yang terkena imbasnya adalah kebudayaan bangsa (culture and tradition). Karena itu, seharusnya pendidikan multikultural hendaklah dijadikan strategi dalam mengelola kebudayaan karena telah menawarkan strategi  transformasi budaya yang ampuh yakni, melalui mekanisme pendidikan yang menjunjung tinggi perbedaan budaya (different of culture).

Tentu dengan meneladani semangat Rasul dalam membangun peradaban, berbangsa, berbudaya, bersosial, dan beragama. Sebab itu, tahun barus Islam ke-1441 ini sepatutnya jadi momentum untuk mampu dan memampukan diri mencontoh perjuangan baginda Rasulullah memperkenalkan Islam yang rahmatan lil’alamin. Dengan maksud agar sebagai bangsa yang memiliki beragam agama dan kepercayaan dapat hidup aman, damai, dan bersatu dalam bingkai kemanuisaan.

Namun demikian, di era industri 4.0 ini harus diimbangi dengan penguatan budaya lokal serta mengesampingkan fanatisme buta, rasisme, dan primordialisme guna meredam gejolak yang timbul atas nama etnik, budaya, dan juga agama. Sebagaimana teladan dari Rasulullah bahwa Islam datang bukan untuk golongan atau kulit tertentu melainkan untuk seluruh alam.

Dengan merealisasikan pendidikan muktikulturalisme sebetulnya kita telah meneladani ajaran Rasulullah sebagaimana umat manusia yang telah dikodratkan untuk berbeda bangsa dan suku guna menjalin dialog. 

*)Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia