Sabtu, 07 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Panjang Umur Perjuangan

Oleh Fatmasari Margaretta 

29 September 2019, 12: 08: 00 WIB | editor : Abdul Basri

Fatmasari Margaretta Copy Editor Jawa Pos Radar Madura.

Fatmasari Margaretta Copy Editor Jawa Pos Radar Madura. (RadarMadura.id)

Share this      

Unjuk rasa mahasiswa menolak Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) dan mendesak presiden segera terbitkan Perppu KPK terus terjadi. Pantang pulang sebelum pemerintah bersikap. Mereka pertaruhkan nyawa demi rakyat.

DEMO besar-besaran kali ini  ekspresi dari ketidakadilan pemerintah. Pemerintah dinilai prematur melahirkan revisi UU KPK, terlalu melemahkan KPK. Revisi UU KPK dianggap mengkhianati cita-cita reformasi dan semangat pemberantasan korupsi.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, pemerintah merencanakan untuk mensahkan RKUHP  yang di dalamnya memantik kegaduhan publik. Masyarakat merasa sakit hati. Melalui mahasiswa, ratusan protes dituliskan. Tak sedikit pula yang menulis dengan kritis, ada juga yang menggelitik.

Di tengah-tengah unjuk rasa, nyawa melayang. Mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, menjadi salah satu dari daftar korban demo. Randi tewas tertembak peluru saat bentrok dengan aparat kepolisian. Teman sealmamaternya, Yusuf Qardawi, menjadi korban kedua. Sungguh memilukan. Padahal, mereka menuju kantor DPRD Sulawesi Tenggara hanya ingin menyuarakan apa yang ingin disampaikan. Mereka ingin didengar. Bukan dilawan.

Tak berhenti di situ. Di tengah-tengah kericuhan demo menolak RKUHP dan UU KPK, surat kabar di seluruh penjuru Indonesia pukul 23.00 Kamis (26/9), aktivis Dandhy Laksono ditangkap  Polda Metro Jaya. Dia ditahan karena dianggap menyebarkan kebencian berdasarkan SARA melalui media elektronik terkait kasus Papua. Ya, penangkapan aktivis menjadi cara membungkam suara kritis.

Seusai menangkap Dandhy Laksono, kepolisian menangkap Ananda Badudu, Jumat subuh (27/9). Dia ditangkap atas tuduhan membantu demonstran mahasiswa karena mentransfer sejumlah uang kepada mahasiswa yang ikut demo. Membantu atas dasar kemanusiaan saja dituduh macam-macam, lalu bagaimana para koruptor? Darah jurnalis yang masih mengalir dalam tubuhnya membuat hatinya tergerak untuk membantu perjuangan mahasiswa lewat penggalangan dana di kitabisa.com. Dia mengoordinasi bermacam bantuan kemanusiaan saat demo. Seperti menolong mahasiswa yang terluka, distribusi bantuan air minum dari masyarakat serta bantuan medis bagi mahasiswa yang membutuhkan.

Beruntung, Ananda Badudu dibebaskan di hari yang sama sekitar pukul 10.00. Namun, jelas masih terlihat raut kekecewaannya terhadap pemerintah dan aparat. Dengan gamblang dia mengatakan bahwa dia hanya beruntung dibebaskan. Sementara ratusan mahasiswa lain di dalam sana diperlakukan secara tidak etis. Sebagai warga Indonesia yang hanya bisa menulis, saya kecewa. Ada apa dengan negara kita? Kita tak boleh diam. Ancaman penangkapan seperti itu, yang merupakan bentuk keangkuhan kekuasaan yang tidak mau mendengar kehendak rakyat, jelas penghinaan kepada demokrasi. Sampai kapan demokrasi dikorupsi? Sampai kapan reformasi dikorupsi?

Saya masih sangat percaya bahwa suara mahasiswa bukan sekadar angin lalu. Suara mereka adalah suara rakyat tanpa ada kepentingan politik apa pun. Mereka bergerak atas dasar hati nurani, atas dasar solidaritas, atas dasar rakyat harus diselamatkan. Kita semua wajib tahu bahwa sejarah perubahan tak pernah bisa dilepaskan dari kekuatan anak-anak muda. Dan kini, anak-anak muda hari ini, mahasiswa yang berangkat membawa harapan, sedang menuliskan sejarahnya sendiri dengan semangat perlawannya.

Sebut saja Tan Malaka. Dia suka membangkang pada guru-gurunya sejak sekolah, setingkat SMP sekarang. Semaun yang dikenal sebagai organisator ulung pergerakan saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pernah terlibat pergerakan sejak umur 14 tahun. Minke, tokoh dalam Bumi Manusia, tumbuh kesadaran politik dan solidaritas kemanusiaannya saat belia. Ya, sepantaran anak-anak sekolah hari ini. Stalin, Che Guevara, dan banyak lagi.

Banyak yang meremehkan; anak-anak muda itu dianggap tak memahami persoalan. Ketika saat anak-anak muda bangkit ikut perang kemerdekaan Indonesia, membentuk laskar perang pelajar, tidak semua dari mereka sudah benar-benar memahami apa itu ”bangsa dan negara Indonesia”. Mereka bergerak melawan karena yakin ada yang harus diperjuangkan. Mereka turun bergerak melawan karena solidaritas, merasakan ketidakadilan, tergerak hati nuraninya.

Kalau semua orang harus benar-benar menguasai ide perjuangan secara konseptual dan intelektual, tak akan pernah ada revolusi di dunia ini. Perubahan selalu digerakkan oleh solidaritas massa yang merasakan penderitaan yang sama, merasakan ketidakadilan bersama.

Bila ada orang-orang yang masih mencibir anak-anak muda itu, mungkin mereka memang termasuk golongan orang tua yang sudah terlalu nyaman menikmati keuntungan dari kekuasaan. Atau, mereka lupa bahwa mereka pernah muda, atau kini mereka sudah repot dengan asam urat atau encoknya atau gampang jantungan mendengar letusan.

Terus bergerak kawan muda! Terus berjuang mahasiswa. Jangan ciut meski kalian dipandang sebelah mata. Sekarang adalah milik kalian, kesempatan terbaik untuk membuat sejarah. Teruslah turun ke jalan. Banggalah dan berbahagialah karena kalian adalah kaum muda yang berbahaya bagi penguasa. Panjang umur perjuangan.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia