Senin, 14 Oct 2019
radarmadura
icon featured
Kedai

Curwan Pilkades

Oleh Lukman Hakim AG.

28 September 2019, 13: 47: 11 WIB | editor : Abdul Basri

Lukman Hakim AG Wartawan Jawa Pos Radar Madura.

Lukman Hakim AG Wartawan Jawa Pos Radar Madura. (RadarMadura.id)

Share this      

Pemilihan kepala desa (pilkades) bukan hanya momen pemilihan kalebun secara periodik. Tapi, juga silkus keresahan masyarakat yang berulang tiap cepplo’an. Sejak sebelum hingga setelah coblosan, mereka tidak nyenyak tidur.

SEORANG paman, sebut saja Madrusin, bercerita. Di desanya akan digelar pilkades tahun ini. Serentak bersama ratusan desa yang lain. Di Sumenep.

Sebagai warga yang tiap hari ke sawah dan mengasihi sapi, dia tidak terlalu banyak bicara regulasi. Tidak tahu soal tambahan penilaian bagi desa yang bacakadesnya lebih lima orang. Tidak tahu soal polemik peraturan bupati (perbup). Tidak tahu peraturan yang akhirnya direvisi itu. Hingga muncul tambahan komponen penilaian uji kompetensi kepemimpinan.

Yang dia tahu, harus mengurangi jadwal tidur. Sejak sebelum tahapan pemilihan dimulai. Hingga coccowan selesai, ketidaktenangan Madrusin tak usai. Sebab, selama itu pula dia tidak ingin sapi peliharaannya raib.

Pilkades dan pencurian hewan (curwan) seolah tak terpisahkan. Seiring sehaluan. Persoalan ini belum ada solusi jitu.

Baru-baru ini di desa Madrusin tiga sapi hilang dalam sepekan. Tidak ada yang ditemukan. Tak bisa diharapkan. Padahal, masyarakat sudah berjaga-jaga. Tapi, tetap saja maling punya seribu cara untuk ngembat barang atau hewan milik tuannya. Sebab, bicara keamanan lingkungan di desa tak semudah meronda kawasan kota. Yang setiap sudutnya mudah terpantau. Yang penerangan merata. Sedangkan di pelosok berbanding terbalik. Gelap dan bersemak-semak.

”Hilang sapi sepasang kembali satu jika tak ingin kandang kosong. Jika ingin sapi yang hilang itu ditemukan, jangan harap maling tertangkap.” Dua kalimat itu sudah lumrah di telinga masyarakat desa. Pemilik sapi tetap pada posisi pihak yang kalah. Dengan pencuri sekalipun.

Kalimat pertama menarasikan betapa persoalan curwan ini menggurita. Pelaku kejahatan tersistem hingga pemilik sapi harus keluarkan biaya tebus. Jika sapi hilang sepasang, dia harus keluarkan uang sebesar harga seekor sapi. Bahkan, lebih!

Biasanya, setiap ada warga kemalingan sapi, selalu datang pihak yang ingin jadi pahlawan. Biasanya dari aparatur desa, Kades yang kerap turun langsung. Dia menjamin sapi warganya itu bisa ditemukan. Tapi tidak gratis. Harus ada fulus.

Jika setuju, dimulailah taktik cerdik. Telepon sana-sini yang pada akhirnya sapi bisa dijemput di tempat tertentu. Sepasang sapi benar-benar ada dan bisa dibawa pulang. Bukankah dengan demikian berarti kalebun tahu siapa sindikat pelaku?

Tetapi, lagi-lagi masyarakat dipaksa menunduk.  Jika ingin sapi yang hilang kembali ke kandang, jangan berharap menangkap maling. Pencuri sapi ini  tidak beraksi sendiri. Melibatkan banyak tangan. Sindikat. Berkomplot.

Karena itu, jarang ada pencuri terungkap jika dibandingkan jumlah kasus pencurian. Kecuali tepergok hingga diamuk massa. Selain karena jaringan mereka berantai, ada kesan memang ”dipelihara” oleh oknum. Konon ada setoran berkala kepada dedengkot bajingan dengan harapan mereka tidak berulah agar desa aman dan masyarakat tenang.

Dengan dalih ”keamanan” ini pemerintah desa harus keluarkan isi kantong. Sebab, ketika upeti telat, sindikat ini berulah. Masyarakat dibikin tak nyenyak tidur. Hewan di kandang terancam. Jika ini dugaan benar menjadi cermin bahwa negara (dalam hal ini pemerintah desa) tidak lebih berwibawa daripada sindikat maling.

Nah, setiap momen pilkades, di desa tertentu dibuat tidak kondusif. Pencurian hampir terjadi tiap malam. Masyarakat terpaksa jarang tidur jika tak ingin hewan kesayangan di kandangnya hilang. Hingga muncul kekhawatiran-kekhawatiran. Jika si A tidak terpilih, desa akan begini atau begitu.

Memang tidak semua desa yang menggelar pilkades ada gangguan curwan. Kasusnya mungkin beda. Riaknya tidak sama. Bahkan banyak yang aman-aman saja.

Bulan depan pilkades akan digelar 226 desa di Sumenep. Daratan 174 desa dan 52 desa di kepulauan. Di Sampang juga akan digelar. Di Pamekasan sudah.

Semoga Anda tidak jadi korban curwan yang diminta tebusan, sedangkan maling tetap berkeliaran. Saya sangat berharap polisi bisa menangkap semua sindikat curwan ini dengan berbagai kemampuannya. Jangan sampai masyarakat menganggap polisi kalah cerdik dari pencuri sapi.

Sapi, bagi orang Madura, bukan sekadar hewan peliharaan biasa. Ia simbol harga diri. Sekaligus simbol kebudayaan masyarakat agraris. Soal ini kita bicarakan lain kesempatan.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia