Selasa, 10 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Sulap Kulit Pisang Jadi Kopi, Mahasiswi Pekerjakan Tetangga

Tiga Kali Gagal Meracik, Tiga Kali Bangkit

25 September 2019, 07: 15: 59 WIB | editor : Abdul Basri

INOVATIF: Fitri Nurul Imamah menunjukkan kopi kulit pisang hasil kreasinya di rumahnya, Desa Bilapora Barat, Kecamatan Ganding, Sumenep, kemarin.

INOVATIF: Fitri Nurul Imamah menunjukkan kopi kulit pisang hasil kreasinya di rumahnya, Desa Bilapora Barat, Kecamatan Ganding, Sumenep, kemarin. (JUPRI/RadarMadura.id)

Share this      

MUDA dan energik. Fitria Nurul Imamah merupakan sosok yang patut mendapat acungan jempol. RadarMadura.id menempuh puluhan kilometer untuk sampai ke rumah perempuan 24 tahun itu guna mengetahui inovasinya yang tidak biasa.

Bagi pencinta kopi, pernah Anda berpikir jika kulit pisang memiliki nilai ekonomis? Bahkan dalam sebulan dapat membawa keuntungan jutaan rupiah. Hanya dengan kulit pisang yang dianggap tidak berguna oleh kebanyakan orang.

Anda harus mencoba kopi kulit pisang racikan mahasiswi Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk ini. Cerita demi cerita disampaikan perempuan berjilbab hitam itu tentang bagaimana dia menyulap kulit pisang menjadi minuman yang dia sebut kopi.

Tiga tahun silam, tepatnya 2016, Fitria Nurul Imamah mengikuti pelatihan kepemudaan tentang sumber daya alam yang dapat dijadikan nilai ekonomis. Dalam kegiatan yang difasilitasi Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) itu, dia datang ke Bandung, Jawa Barat, dengan membawa kulit pisang kepok.

Pemilihan kulit pisang bukan tanpa alasan. Di sekeliling rumahnya banyak tanaman pisang. Sementara yang dinikmati hanya buahnya. Kulitnya dibuang atau dijadikan pakan sapi.

Dalam kegiatan itu, Fitria berkesempatan menguji langsung kandungan kulit pisang di laboratorium. Hasil penelitian, kulit pisang memiliki kandungan antioksidan yang bagus terhadap tubuh.

Pada 1980-an, kulit pisang memang bisa dijadikan ramuan jamu. Namun, dia tidak tertarik inovasi itu. Sebab, jamu lebih banyak dikonsumsi kaum dewasa. Lalu, inovasi kopi kulit pisang menjadi pilihan dari buah pemikirannya itu.

”Anak muda kalau nongkrong selalu lengkap dengan kopinya. Sementara kalau jamu konsumennya lebih banyak orang tua saja,” ucapnya dalam perbincangan di teras rumahnya, Desa Bilapora Barat, Kecamatan Ganding, kemarin (24/9).

Tekad bulat untuk meramu kopi kulit pisang sudah kuat. Namun, testimoni yang dilakukan tidak langsung berhasil. Sampai tiga kali, testimoni yang dilakukan gagal. Setelah dicoba temannya yang penikmat minuman kopi, rasanya terlalu pahit.

Meski tiga kali testimoninya gagal, Fitria tidak patah arang. Dia terus bereksperimen untuk meramu kulit pisang menjadi kopi. Alhasil, ditemukan ramuan yang tepat sehingga kulit pisangnya lebih dominan daripada kopi. Mulai tahun lalu, perempuan kelahiran 1996 itu serius memproduksi kopi kulit pisang.

Dalam mendapatkan bahan baku kulit pisang, Fitria banyak membeli kepada penjual pisang goreng. Namun, kulit pisang yang dicari tidak asal-asalan. Harus berkualitas sangat bagus agar menghasilkan aroma dalam kopi lebih dominan.

Duta Pemuda Sumenep 2018 itu mengungkapkan, penjualan terhadap buah pemikirannya itu dilakukan secara online dan offline. Namun, permintaan lebih banyak melalui online. Konsumen paling banyak datang dari Bali. Meski begitu, ada beberapa kafe di Kota Keris yang menjadi mitranya. ”Paling banyak konsumen dari luar daerah yaitu Bali,” tuturnya.

Kopi kulit pisang yang dijual sudah berbentuk bubuk dan dikemas. Kopi siap saji yang dijual hanya mengandung 1 persen kadar gula dan sangat pahit. Dengan begitu, pencinta kopi manis harus menambah gula sesuai keinginan.

Alumnus MA 1 Annuqayyah itu dalam sepekan memproduksi 1.000 kemasan kopi kulit pisang. Dalam sepekan, permintaan konsumen paling sedikit 300–500 kemasan. Dibanderol Rp 10 ribu per saset. Dengan begitu, dalam sepekan penghasilannya bisa mencapai Rp 3 juta. Jika permintaan banyak, omzet sebulan bisa mencapai Rp 10 juta.

Dalam memproduksi kopi kulit pisang,  Fitria dibantu lima pekerja. Mereka adalah warga sekitar. Dia sangat senang karena berkat ide cemerlangnya itu bisa memberikan pekerjaan kepada masyarakat. Dengan begitu, angka pengangguran dapat ditekan.

Dia mengakui usahanya itu belum memiliki lebelasasi halal. Fitria belum mengurus karena biaya sangat mahal. Pihaknya berharap pemerintah tidak tutup mata terhadap legalitas yang harus dipenuhi pelaku ekonomi mikro di Kota Keris. ”Kami berharap difasilitasi,” ucapnya.

Kopi racikan Fitria memang berbeda dari kopi lain. Aroma kulit pisang lebih dominan dibandingkan dengan kopi Robusta atau kopi Aceh yang biasa dijadikan campuran. Kopi kulit pisang mengantarkan Fitria Nurul Imamah meraih juara dua Festival Inovasi Pemuda Jawa Timur 2019 kategori ekonomi kreatif.

Anda pencinta kopi? Cobalah kopi kulit pisang ala Fitria.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia