Jumat, 13 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features
Lebih Dekat dengan Cerpenis Muna Masyari

Biarkan Laptop Menyala di Atas Mesin Jahit

24 September 2019, 07: 50: 59 WIB | editor : Abdul Basri

TIDAK TAMAT SD: Muna Masyari menunjukkan buku cerita pendek karyanya yang meraih penghargaan tingkat nasional di rumahnya, Dusun Gunung Dua, Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, kemarin.

TIDAK TAMAT SD: Muna Masyari menunjukkan buku cerita pendek karyanya yang meraih penghargaan tingkat nasional di rumahnya, Dusun Gunung Dua, Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, kemarin. (ONGKY ARISTA UA/RadarMadura.id)

Share this      

Semula tidak ada keinginan menulis. Tetapi, Muna Masyari suka membaca. Setelah itu, baru ada keinginan menulis. Kesukaan membaca memantiknya menjadi penulis terkenal.

MATAHARI sudah lewat di atas kepala kemarin (23/09) ketika RadarMadura.id menuju rumah Muna Masyari. Tukang becak berpeluh-peluh di sepanjang jalan. Anak-anak berseragam keluar dari sekolahnya. Kernet taksi melolong memanggil penumpang. Sambil tangannya memberikan kode bahwa taksi hendak jalan ke sebuah jurusan.

Beberapa pengendara hilir mudik di sekitar Taman Arek Lancor. Ke utara dari taman tersebut menuju Pasar Kolpajung, badan trotoar tampak ramai dengan penjual sepatu dan topi. Terus menuju utara hingga Taman Kowel, jalannya penuh lubang. Hingga sampai ke utara melewati Jembatan Kalowang, jalannya masih berlubang.

Terus menuju utara lagi melewati tikungan demi tikungan jalan, lalu menanjak ke barat, jalan masih rusak. Kemudian, sampailah ke sebuah rumah di Dusun Gunung Dua, Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan.

Di rumah itulah RadarMadura.id menemui cerpenis Muna Masyari. Cerita pendek (cerpen) karyanya tersiar di beberapa media nasional. Dia mulai aktif menulis sejak 2011. Kendati tidak lulus SD, dia suka membaca. Karena membaca, dia bisa menulis. ”Sejak SD memang sudah suka baca,” terang perempuan bernama asli Munawaro M. tersebut.

Dulu tidak melanjutkan sekolah terkendala biaya. ”Seingat saya, dulu kalau ebtanas (evaluasi belajar tahap akhir nasional) kan harus pakai seragam. Saya tidak punya seragam. Jadi, berhenti waktu itu, menjelang ebtanas kelas enam,” terang perempuan yang bekerja sebagai tukang jahit tersebut.

Buku-buku yang dia baca di perpustakaan sekolahnya dulu masih tentang perang kemerdekaan. Tulisan pertama yang pernah ditulis Muna terbit di Majalah Annida. ”Tulisan itu bukan atas nama saya, melainkan atas nama kakak saya karena waktu itu saya tidak punya identitas,” tutur perempuan kelahiran 1985 tersebut.

Perempuan yang pernah bersekolah di SDN Plakpak 5 tersebut mulai berani menulis ke media cetak. Cerita pendeknya dimuat kali pertama di Serambi Indonesia, Aceh. Kendati tidak berhonor, justru saat itulah dia mulai semakin semangat menulis.

Kemudian, dia bertambah teman melalui jejaring media Facebook karena rajin menulis. Saat itulah dia tambah semangat menulis. Tanpa memikirkan bahwa dirinya tidak tamat SD. Namun, terpenting adalah ilmu yang didapatkan dari membaca untuk kemudian terus menulis.

Karena bertambah teman, Muna sering berkompetisi dengan teman-temannya itu untuk tembus media cetak. Jadilah dirinya semakin semangat. ”Ketika kenal sama teman-teman yang sama ingin menulis ke media cetak, jadi kayak berkompetisi. Ayo siapa yang lebih dahulu dimuat,” ceritanya.

Kali Pertama yang membuat Muna bahagia adalah ketika cerpennya dimuat di Jawa Pos. sebab, di koran tersebut saingannya lebih ketat.

Hingga saat ini, Muna berhasil menelurkan satu buku kumpulan cerpen sepanjang karir kepenulisannya 2011–2019. Buku itu berjudul Martabat Kematian, terbit 2019. Sebelum buku itu terbit, dia mendapat penghargaan dari Kompas.

Cerpennya yang dimuat Kompas pada 2017 berjudul Kasur Tanah menjadi cerpen terbaik. Penganugerahannya diberikan pada 2018. ”Tentu senang menerima penghargaan itu. Tapi, itu menjadi tantangan tersendiri ke depan,” terang istri Moh. Khotib tersebut.

Pada 2019 ini, dia akan menerbitkan satu kumpulan cerpen lagi. Namun, dia masih merahasiakan judul buku dan penerbit apa yang akan menggarap. ”Nanti deh,” katanya sambil tersenyum.

Muna kenal koran baru 2010–2011. Sebelumnya dia sering baca majalah Annida. Dia memupuk semangat menulisnya dengan banyak baca majalah.

Sampai sekarang, Muna masih aktif menulis cerita pendek. Dia menulis sambil bekerja menjahit. Laptop yang dia pakai berada di atas mesin jahit. ”Saya sambil jahit, laptop itu dinyalakan. Jadi, pas ada ide, saya nulis. Pokoknya ngetik-ngetik jahit, ngetik-ngetik jahit,” tukas perempuan asal Kelurahan Kowel tersebut.

Muna tidak biasa menulis sambil mantengin laptop. Dia menulis sambil bekerja sebagai tukang jahit. Sementara, yang menjadi kendala bagi Muna adalah tidak adanya komunitas yang aktif menulis. Juga kepedulian pemerintah terhadap para penulis.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia