Jumat, 13 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Esai

Ekologi (Ber)bahasa

Catatan dari Festival Sastra Bengkulu 2019

23 September 2019, 20: 03: 00 WIB | editor : Abdul Basri

Masmuni Mahatma

Masmuni Mahatma

Share this      

JOKO Pinurbo, yang terkenal dengan penyair ”celana” menuturkan, ekologi  (ber)bahasa akhir-akhir ini tampak kurang sehat (14/9/19). Hampir banyak ruang komunikasi sosial diwarnai dengan bahasa-bahasa yang cenderung birokratis, politis, elitis, sarat hujatan, atau muatan kebencian. Tak heran kalau dinamika kehidupan sosial bermasyarakat pun sering menanjak dan mudah tersulut friksi atau konflik. Sebuah realitas ekologis (ber)bahasa mulai kurang mengenakkan bagi kelangsungan bermasyarakat dan berbangsa.

Mungkin saja ini merupakan konsekuensi dari pergulatan sosial kebangsaan yang seakan dijauhkan dari nilai-nilai humanistiknya. Bilamana di era Soeharto sangat tampak adanya ”politisasi agama,” sekarang marak gerakan ”agamaisasi politik.” Kalau pada zaman Soeharto urusan SARA dikontrol dengan baik meski terlihat mengekang,  kini menjadi tren atau gaya komunikasi tersendiri di hadapan publik. Walhasil, dalam ruang publik, sering mengemuka bahasa-bahasa berlapis eksploitasi, manipulasi, caci maki, dan bahasa tertentu yang terindikasi ”menjarakkan” sisi kemanusiaan dari dan antarmasyarakat.

Fenomena tersebut yang oleh Joko Pinurbo, sekali lagi, dikategorikan sebagai salah satu wujud ekologi (ber)bahasa yang kurang sehat. Ekologi (ber)bahasa yang tak patut dibiarkan mewarnai pola-pola maupun perilaku kehidupan sosial kebangsaan dan kenegaraan. Setidaknya, apa yang ditampilkan dalam komunikasi publik antara Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Djarum Foundation kemarin menjadi contoh nyata. Padahal dalam waktu yang cukup lama, penuh kesejarahan sampai kekinian, Djarum Foundation telah nyata-nyata berbuat luhur bagi potensi serta masa depan generasi perolahragaan di Indonesia dan dunia.

Bahasa Puitik

Putu Fajar Arcana, sang redaktur Seni dan Budaya KOMPAS, dengan lugas mengutip ungkapan John F. Kennedy, bahwa ketika bahasa politik semakin mengotori ruang-ruang publik, hanya bahasa puitik yang dapat membersihkan. Bahasa politik, sebagaimana kita mafhumi, seringkali terlihat ambigu, diplomatis dan sarat akan tarikan kepentingan berbasis kekuasaan. Sedangkan bahasa puitik, disadari atau tidak, senantiasa beranjak dari kedalaman rasa dan kejernihan nurani menyikapi geliat realitas sosial yang semakin hari semakin mengalami keruwetan.

Bahasa puitik memang bukan satu-satunya alat komunikasi yang ideal dalam menjaga eksistensi dan kelangsungan kehidupan berbangsa. Sebagai medium berinteraksi, bahasa puitik tidak jauh berbeda dengan bahasa politik, sama-sama alat menyampaikan pesan dan mengilustrasikan ide serta konsep berkehidupan. Namun, di samping terlihat lebih erotis, romantis, dan humanis, bahasa puitik sejatinya lebih tulus, lebih terbuka, lebih cair, dan lebih menggugah kesadaran manusia yang berbasis nilai-nilai estetiknya. Barangkali ini yang dimaksudkan oleh Kennedy, dapat membersihkan dan menyehatkan kembali ekologi (ber)bahasa dalam konteks makro sosial kebangsaan.

Bahasa politik dan ekonomi dalam banyak ruang tampak lebih banyak mengarah pada kekuasaan. Bukan semata bahasa ungkapan untuk melahirkan kehangatan secara sosial kemasyarakatan. Sedangkan bahasa puitik merupakan aktualisasi dari kejujuran nurani demi mengharmonikan realitas sosial dengan batin setiap masyarakat. Sama-sama bahasa, tak serupa dalam bidikan nilai dan sebaran makna. Juga sering tidak selaras dalam orientasi substansialnya. Bahasa politik cenderung mengejar nilai-nilai pragmatis dan kompromistis, bahasa puitik lebih berpijak pada nilai-nilai kritis dan estetis.

Bahkan, kata sebagian orang, bahasa politik punya kebiasaan membius dan memanipulasi pesan maupun nilai. Friksi antara KPAI dan Djarum Foundation, misalnya, hanya berkutat pada bahasa ”logo itu telah mengeskploitasi anak-anak. Maka, audisi harus dihentikan. Ini harus dihentikan.” Seakan lugas, tapi tidak estetis. Demikian bahasa berbau politik yang pragmatis, tak lagi peduli atau cermat terhadap apa yang telah dirintis Djarum Foundation, baik di level lokal, nasional, maupun internasional.

Adapun bahasa puitik senantiasa mengharmonikan antara nalar dan substansi demi menciptakan keteduhan. Bahasa politik tergantung dan memanfaatkan momentum, sedangkan bahasa puitik menjaga kearifan dalam relasi sosial kemanusiaan. Inilah luhurnya kata-kata yang dikemas dengan bahasa puitik, selalu berada dalam jalur pencerahan kesadaran. Perhatikan bahasa puitik Chairil Anwar, ”…Kami sudah coba apa yang kami bisa/tapi kerja kami belum selesai,/belum apa-apa/…” Atau, penggalan sajak Masmuni Mahatma, ”Jasamu kurindu/ simpan larasmu dalam kalbu/aku selalu tahu/kau asah seluruh napasku/demi mengantar pesan-pesan ibu.”

Puitisasi Bahasa

Tampaknya, puitisasi bahasa dalam setiap ruang publik layak dicermati bersama. Bukan untuk memuisikan pelbagai realitas dan perilaku sosial masyarakat, melainkan dalam rangka menaburkan udara (ber)bahasa yang lebih egaliter, humanis, erotis, dan estetis. Dengan demikian, ekologi (ber)bahasa di lingkungan masyarakat pelan-pelan terjauhkan dari deru debar bahasa politis dan birokratis-pragmatis belaka. Meskipun, kadang kita merasa tak nyaman dengan adanya segelintir tokoh yang dulunya teridentifikasi sebagai penyair, ketika menjadi politisi, sering kali memperkeruh ekologi (ber)bahasa di ruang publik.

Puitisasi bahasa dapat menyentuh pola pikir sebagian masyarakat yang belakangan hampir terlena dengan bahasa-bahasa media sosial yang kadang bukan saja terlihat ”vulgar”, melainkan juga ”brutal.” Bahasa yang tak lagi mau terikat terhadap falsafah maupun estetikanya. Bahasa yang dibiarkan asal terucap dan menguap walau jauh dari nilai-nilai etiknya. Dari fenomena berbahasa yang ”vulgar” dan ”brutal” ini, tak heran kalau banyak di antara masyarakat saling curiga, saling fitnah, dan saling mengadukan, baik kepada institusi kepolisian, Hak Asasi Manusia, dan lain-lain.

Di sisi lain, puitisasi bahasa akan memberikan stimulan terhadap kepekaan sastrawi bagi masyarakat, minimal di kalangan kaum muda yang menjadi pengguna aktif media sosial yang semakin gencar. Melalui puitisasi bahasa, mereka dapat diajak meresapi betapa bahasa memiliki kaidah-kaidah dan orientasi nilai yang luhur. Sebab (ber)bahasa merupakan kunci terwujudnya interaksi sosial dengan segala nilai yang dikandungnya. Bahkan, cara berbahasa yang komunikatif dan baik, sejatinya mencerminkan tipologi dan corak pemikiran suatu masyarakat.

Namun, puitisasi bahasa bukan untuk membatasi apalagi mengeksploitasi komunikasi antar masyarakat di ruang publik. Lebih dari itu, untuk perlahan ikut mengedukasi dan mengadvokasi ”brutalitas” bahasa yang sering kali melahirkan friksi dan konflik kurang produktif dalam perspektif sosial kebangsaan. Ini salah satu maslahat puitisasi bahasa. Tampak ringan, akan tetapi, tak mudah diwujudkan. Membutuhkan kesiapan kolektif di kalangan masyarakat, baik dari aspek kultur maupun struktur pemikiran. Semua demi sehatnya ekologi (ber)bahasa di tengah pergulatan sosial kebangsaan yang penuh euforia praktik kebebasan berujaran. 

 *)Ketua PW GP ANSOR Kepulauan Bangka Belitung dan Dosen (PNS) Fakultas Usuluddin UIN SGD Bandung

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia