Selasa, 28 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Tersinggung Pedemo Bakar Batik

Asosiasi Desak Pengunjuk Rasa Minta Maaf

23 September 2019, 02: 17: 05 WIB | editor : Abdul Basri

TERSINGGUNG: Pengurus Asosiasi Profesi Batik berkumpul di toko batik Pasar 17 Agustus kemarin.

TERSINGGUNG: Pengurus Asosiasi Profesi Batik berkumpul di toko batik Pasar 17 Agustus kemarin. (MOH. ALI MUHSIN/RadarMadura.id)

Share this      

PAMEKASAN – Aksi demonstrasi dengan membakar baju batik yang dilakukan Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Peduli Petani Tembakau Kabupaten Pamekasan, Rabu (18/9) mendapat sorotan. Perajin dan asosiasi tersinggung dengan tindakan pedemo tersebut. Mereka mengecam karena telah dinilai merendahkan kreativitas masyarakat perajin batik.

”Kami tersinggung mereka membakar batik dengan motif sekar jagad. Kalau mereka kecewa dengan bupati jangan membakar batik. Memang apa salahnya batik?” kata Amin Hosni, wakil ketua Asosiasi Profesi Batik dan Tenun Nusantara (APBTN) Buana.

Dia menegaskan, batik menjadi ikon yang dibanggakan masyarakat Pamekasan. Apalagi motif sekar jagad yang dibakar pedemo pernah dipakai mantan Presiden Soeharto dan mantan Gubernur Jatim Moch. Basofi Sudirman. ”Apa pun alasannya, ketika mereka membakar batik berarti tidak menghargai kami selaku pencinta batik,” tegasnya.

Menurut dia, sebagai anak bangsa harus menghargai karya anak bangsa, apalagi batik menjadi ikon Pamekasan. Karena itu, dia mendesak pedemo meminta maaf kepada perajin. ”Kami menyesal terhadap tindakan mereka,” tegasnya.

Ketua APBTN Buana Mohammad Kuddah berpendapat, pembakaran batik tidak berkaitan langsung dengan materi yang disampaikan pedemo. Yaitu, soal murahnya harga tembakau. ”Batik motif sekar jagad itu memang legendaris. Pada zaman Soeharto dibuat seragam Hari Pahlawan di Tugu Pahlawan Surabaya. Pada saat itu dikenal dengan sebutan batik Soeharto,” terangnya.

Bendahara APBTN Buara Ahmad Zaini menegaskan, jika mereka tidak meminta maaf, pihaknya akan menempuh jalur hukum. ”Kami menuntut pedemo minta maaf. Jika tidak diindahkan, kami akan menuntut jalur hukum karena batik harus dilindungi,” terangnya.

Sementara itu, Abdus Salam Marhaen selaku pedemo memastikan tidak ada niatan sedikit pun untuk menyinggung dan menghina perajin batik. Hal itu murni dilakukan sebagai bentuk kekecewaan kepada Bupati Baddrut Tamam. ”Kita membakar batik karena itu menjadi simbol bupati saat mencalonkan diri sebagai bupati. Kalau urusan permintaan maaf, saya sebagai manusia tidak masalah jika itu dinilai salah,” katanya.

(mr/sin/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia