Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Features

Kualitas Udara Berbahaya, ACT Bagikan Ribuan Masker Ke Warga Terdampak

Luas Hutla Yang Terbakar 328 Hektar Lebih

21 September 2019, 06: 59: 22 WIB | editor : Haryanto

PEDULI: Petugas ACT-MRI saat menyerahkan masker ke pemotor.

PEDULI: Petugas ACT-MRI saat menyerahkan masker ke pemotor. (ACT for RadarMadura.id)

Share this      

PEKANBARU - Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) berlangsung lama dan belum ada tanda-tanda mereda. Akibatnya, mengganggu kehidupan  dan kesehatan masyarakat. Ditambah, suplai makanan kian terbatas.

Berdasar data Inarisk.bnpb.co.id, luas hutan dan lahan yang terbakar di seluruh Indonesia sekitar 328,722 hektar. Sementara total luas daerah bahaya sekitar 86,102,324 hektar. Nilai kerugian Rp 59 triliun lebih.

Karhutla di Sumatera dan sebagian Kalimantan mengakibatkan kualitas udara terkategori berbahaya. Salah satunya  di Riau. Karena itu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) Riau bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) membagikan 2.000 masker.

TELATEN: Petugas ACT-MRI melayani ibu-ibu yang terdampak karhutla.

TELATEN: Petugas ACT-MRI melayani ibu-ibu yang terdampak karhutla. (ACT for RadarMadura.id)

Ribuan masker itu dibagikan kepada warga yang melintas di Jalan Sudirman, Persimpangan Tugu Zapin, Pekanbaru. Selain di Pekanbaru, masker juga disebar di sejumlah kabupaten/kota terdampak lainnya di Riau.

"Kami sudah membagikan ribuan masker di sejumlah titik terdampak kabut asap di Kota Pekanbaru sejak Senin (16/9). Kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru serta beberapa wilayah lain semakin pekat," ujar Ketua MRI Wilayah Riau, Manahan.

Menurut Manahan, proses pembagian masker juga dibantu komunitas Wargi Pasundan Riau. Lutfi, salah satu anggota komunitas tersebut mengatakan, lembaganya peduli dengan lingkungan Pekanbaru.

"Semoga kegiatan ini bisa menggerakkan masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan dan sesama. Semoga seluruh komunitas, lembaga, instansi serta seluruh lapisan masyarakat juga peduli," harapnya.

Hingga kini, kondisi perekonomian Indonesia juga ikut merugi pasca terjadinya karhutla. Sumber devisa negara dari produk hutan kayu dan non-kayu serta ekowisata juga berkurang.

Karhutla memicu berbagai kerugian. Mulai gangguan kesehatan, sosial, ekologi, ekonomi dan juga reputasi. Kerugian kesehatan yang paling jelas. Asap karhutla memicu berbagai penyakit. Terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Merujuk data Bank Dunia pada tahun 2015, beberapa sektor terganggu dan merugi. Selain pendidikan dan kesehatan, juga sektor kehutanan dan pertanian. Termasuk perdagangan/bisnis, manufaktur dan pertambangan, pariwisata, perhubungan hingga pariwisata.

Jika tidak didukung dan ada inovasi penanganan, bisa jadi sama buruknya dengan tahun 2015. Saat itu, wilayah terdampak seluas 510,564,21 hektar dengan kerugian mencapai Rp 221 triliun atau setara dengan 1,9 persen PDB Indonesia.

Agar kondisi serupa tidak terulang, ACT mengajak masyarakat ikut berkampanye #BantuMerekaBernapas. Kampanye itu bukti bahwa tim medis, tim tanggap darurat, hingga posko bencana asap ACT terus melayani warga.

Kampanye #BantuMerekaBernapas menjadi penyemangat dalam menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan dalam aksi-aksi kebaikan. (*)

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia