Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Berita Kota

Mengurai Masalah Tata Niaga Tembakau Masa Panen 2019

Tak Ada Uang, Tengkulak Takut Pulang

21 September 2019, 05: 26: 48 WIB | editor : Abdul Basri

MENUMPUK: Pekerja menata tumpukan tembakau di gudang PT Surya Kahuripan Semesta di Desa Gunggung, Kecamatan Batuan, Sumenep, kemarin.

MENUMPUK: Pekerja menata tumpukan tembakau di gudang PT Surya Kahuripan Semesta di Desa Gunggung, Kecamatan Batuan, Sumenep, kemarin. (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Share this      

Masalah tembakau kian kompleks. Tidak hanya soal harga yang terjun bebas. Minimnya serapan oleh pabrikan membuat tengkulak resah. Tembakau dari petani yang dibawa belum dibayar karena gudang tak melakukan pembelian.

TENGKULAK kini jadi sasaran isu miring hingga mendapat ancaman. Kondisi tersebut memaksa pemborong memilih tidak pulang. Khawatir petani menagih uang tembakau. Padahal, tembakau yang dibawa tengkulak sampai saat ini menumpuk di gudang dan belum berbentuk uang.

Seperti yang terlihat di gudang penyimpanan milik PT Surya Kahuripan Semesta di Desa Gunggung, Kecamatan Batuan, Sumenep. Di gudang tersebut, ribuan bal (paket) tembakau menumpuk hingga kemarin (20/9). Penumpukan terjadi akibat tidak ada pembelian pabrikan. Dengan begitu, tengkulak memilih bertahan.

KEMASAN RUSAK: Pekerja hendak mengangkut tembakau rajangan kering ke dalam gudang PT Surya Kahuripan Semesta di Desa Gunggung, Kecamatan Batuan, Sumenep, kemarin.

KEMASAN RUSAK: Pekerja hendak mengangkut tembakau rajangan kering ke dalam gudang PT Surya Kahuripan Semesta di Desa Gunggung, Kecamatan Batuan, Sumenep, kemarin. (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Berdasarkan pengakuan Madruka, tengkulak asal Desa Tobai Tengah, Sokobanah, Sampang, banyak tembakau yang dibawanya tidak terjual. Sambil menunggu tembakau laku, pria 55 tahun tersebut rela tinggal di gudang dan tidur di mobil. Sudah 20 hari dia tidak pulang ke rumah.

”Jaga tembakau ini karena tidak laku. Tidak dibeli sama pabrik. Sekitar 700 bal (paket) yang belum laku,” ungkapnya.

Madruka membawa sekitar 1.400 bal milik petani. Sebanyak 700 bal sudah laku dan dikirim ke PT Gudang Garam di Kediri. Namun, uang pembelian tersebut belum dibayar. Dalam setiap bal tembakau kering memiliki bobot berkisar antara 45 kilogram hingga 60 kilogram. Itu setara sekitar 4,5 ton dalam 100 bal.

Harga dari petani antara Rp 35 ribu sampai Rp 45 ribu. Ada juga di atas Rp 50 ribu. Namun tidak banyak. Itu pun hanya sebagian yang dibayar kontan. Karena modal tersebut belum balik, tembakau yang diambil sementara diakad utang ke petani.

Banyaknya tembakau yang belum laku membuatnya susah tidur. Sebab, banyak petani menagih uang. Madruka tidak punya alasan lagi kepada petani. Mengingat, uang dari penjualan sebelumnya belum dibayar oleh pabrik. ”Itu salah satu alasan kami tidak berani pulang,” ucap Madruka.

Madruka juga tidak pulang meski anaknya yang masih duduk di kelas XII SMA sakit tipes. Sebab, petani datang silih berganti menagih utang. Bahkan, dia sempat diancam akan dibunuh karena dianggap menipu petani.

”Sandal saya pun ditandai sama petani. Kalau sandal ini ada di rumah, mereka datang untuk menagih. Saya lebih memilih di sini sampai ada kejelasan pembayaran,” tuturnya.

Dia kaget karena tiba-tiba pembelian dari pabrik dihentikan tanpa ada pemberitahuan. Padahal, dia sudah banyak mengambil tembakau kepada petani. Pria berpeci hitam itu memaparkan, setiap 100 bal dibanderol sekitar Rp 219 juta. Artinya, sekitar Rp 1.533.000.000 utangnya kepada petani dari 700 bal tembakau yang belum laku. Sedangkan 700 bal yang sudah dikirim tinggal menunggu pembayaran. ”Seandainya sudah dibayar, kami ambil lagi di petani setelah dibayar yang sebelumnya,” keluh Madruka.

Di petani, lanjutnya, masih banyak yang belum diambil. Dia tidak berani mengambil lagi dikarenakan tembakau yang dibawa belum laku. Madruka berharap uluran tangan pemerintah agar memperhatikan kondisi tersebut.

”Setiap tahun saya biasa jual ke gudang sini. Kami juga membantu petani tapi malah kena imbasnya,” kata tengkulak yang menjalankan bisnisnya sejak 1994 tersebut.

Risman, 45, tengkulak asal Kecamatan Batuputih, Sumenep, lebih lama tidak pulang dibandingkan Madruka. Mirisnya, selama tidak pulang itu dia tidak bawa baju ganti. Sudah 1 bulan 3 hari dia tinggal di gudang. Sebanyak 450 bal tembakau yang dibawa tidak laku. Jika diuangkan sekitar Rp 800 juta. Petani banyak bertanya mengenai uang penjualan.

Bahkan, Risman diancam akan dilaporkan ke polisi karena dianggap sebagai rampok tembakau. Sebab, tembakau yang dibawa belum dibayarkan kepada petani. ”Sudah risiko. Sudah lima tahun saya jual tembakau. Kalau saya sampai dihukum, pemerintah dari DPRD harus bantu saya keluar. Karena kami hanya bantu menjualkan tembakau petani tapi gak laku-laku,” desaknya.

Setiap tahun menjalankan bisnis tersebut dia bisa meraup untung sekitar Rp 20 juta sampai Rp 30 juta. ”Tapi kalau tidak laku seperti ini bukan hanya rugi, tapi juga sampai dapat ancaman karena dikira ada permainan. Padahal, kami juga menunggu ada pembelian dari pabrik,” ucap Risman.

Bagian Admin PT Surya Kahuripan Semesta Freddy Kustianto mengatakan, DPRD Sumenep sudah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke gudang. Dari hasil sidak tersebut wakil rakyat akan menyuarakan aspirasi petani agar pabrik kembali melakukan pembelian. ”Kami hanya melaksanakan. Sampai dengan ditutup kami sudah melakukan pembelian 274 ton,” jelasnya.

PT Surya Kahuripan Semesta hanya menampung dan menyalurkan tembakau dari petani. Itu atas dasar permintaan dari PT Gudang Garam. Perusahaan itu melakukan pembelian 18 Agustus 2019 dan tutup pada 3 September. Pembelian dihentikan dengan alasan tidak ada permintaan dari pabrik.

”Kami juga tidak tahu mengapa pabrikan menghentikan pembelian. Kalau ada dana akan kami buka pembelian,” katanya.

(mr/bad/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia