Kamis, 12 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Kedai

Harga Lemas, Petani Cemas

21 September 2019, 05: 24: 28 WIB | editor : Abdul Basri

Lukman Hakim AG.  Wartawan Jawa Pos Radar Madura.

Lukman Hakim AG. Wartawan Jawa Pos Radar Madura.

Share this      

Tembakau tidak hanya persoalan petani dan pabrikan. Banyak yang berharap berkah dari tanaman ini. Tembakau juga menyumbangkan sejumlah peribahasa dalam bahasa Madura.

NGAMPONG nyoso”. Begitu tulisan merah di bagian belakang pikap hijau yang sedang melenggang di jalanan. Bak kendaraan itu berisi tembakau rajangan kering. Tulisan itu seolah mewakili keingian sopir dan kernet.

Laku yang sedang mereka jalankan hanya usaha. Hanya menumpang untuk mendapatkan berkah dari pekerjaan orang lain. Mereka berharap kecipratan uang sebagai imbalan mengangkut tembakau milik petani atau tengkulak.

Panen tembakau tidak hanya menjadi harapan petani. Onggana bako juga berimbas pada sektor lain. Begitu tembakau panen dengan harga mahal, petani tersenyum. Pemilik diler motor mesem. Penjual emas senang. Penjual perabotan rumah bahagia. Penjual peralatan elekronik riang gembira.

Semua karena dagangan mereka laris. Karena petani senang tembakau laku mahal. Sebagian juga menyisihkan uangnya untuk ziarah wali bersama keluarga. Bahkan, hasil jual daun emas itu juga untuk tabungan haji.

Keinginan-keinginan itu mereka sematkan sejak awal tanam bako. Sapa se atane bakal atana’ mereka lakukan dengan sungguh-sungguh. Alako berra’ apello koneng. Kerata basa berbunyi bako yang berarti hanya nyabba e bengko benar-benar mereka jalani. Waktu mereka tersita untuk merawat tanaman di sawah. Pagi, siang, petang, bahkan hingga larut malam mereka di ladang. Selama masa tanam hingga panen waktu mereka lebih lama di sawah. Sedangkan di rumah hanya singgah.

Mimpi indah untuk membeli sesuatu tumbuh seiring tembakau mereka yang mulai beranjak tinggi. Ungkapan sekaligus doa juga mulai muncul. Semisal, akoba’ ka Toko Terrang untuk mengatakan bahwa tanaman tembakaunya kelak bisa untuk beli perhiasan emas. Agalubuk Ninja atau ro’om deler untuk mimpi bahwa hasil panen tembakau bisa buat beli kendaraan.

Ketika anak merengek untuk dibelikan sesuatu, orang tua kadang mengandalkan tembakau. Misal, melle sapedha bila onggana bako (beli sepeda ontel ketika panen tembakau). Petani akan berusaha sekuat tenaga dan biaya untuk menanam dan merawat tembakau untuk menghasilkan daun terbaik. Apalagi jika tahun sebelumnya merasakan harga emas mahal.

Menanam tembakau tidak cukup hanya kuat tenaga. Juga, harus mampu biaya. Usaha fisik dan finansial sekaligus. Selain harus berlama-lama di sawah, petani harus keluar banyak uang. Ongkos membajak atau mencangkul tanah, beli benih, beli pupuk, beli air, dan kebutuhan lain. Bahkan, saking kepengin tanam tembakau, petani harus sewa lahan karena tak punya sawah sendiri.

Jika uang tak ada, barang berharga dijual atau digadaikan hanya untuk biaya tanam. Barang berharga itu akan ditebus atau beli kembali saat onggana bako. Bahkan, mereka berani ngutang untuk modal tanam. Begitu setiap tahun.

Bagaimana jika tembakau tidak laku atau murah? Petani Madura punya kerata basa yang menandakan kebangkrutan. Longlang alias long-kalong elang. Perhiasan (dilambangkan dengan kalung) yang mereka jual/gadai tidak bisa kembali. Karena hasil panen tembakau tidak cukup untuk mengembalikan modal. Bahkan, jika rugi (tidak hanya pa’po’) diperibahasakan dengan noro’ so lung-gulungnga.

Makna dasar peribahasa ini untuk layang-layang (lajangan atau kope’an). Kebangkrutan atau kerugian tidak hanya digambarkan dengan tali (harapan) putus. Tetapi, gulungan tali itu yang juga terbawa terbang. Mestinya, benda itu yang diharapkan bisa menggulung tali kembali setelah panen.

Kondisi itu yang dialami petani musim ini. Tata niaga garam dan tembakau hampir sama. Petani tidak berdaya menentukan harga hasil produksi sendiri. Pemilik modal tetap yang kuasa. Biasanya, harga awal panen langsung melejit. Sepekan kemudian terjun bebas. Kini, bahkan sulit untuk laku.

Akibatnya, tidak sedikit daun tembakau mengering di pohon. Petani yang tak ingin rugi memanen sendiri atau dijual dengan harga murah. Itup un jika ada tengkulak. Konsekuensinya, jika dipanen dan dirajang sendiri harus keluar modal lagi. Biaya panen (molong, ngebbali, manggul), ngokep, agulung, masat (rajang), jemur hingga mengemas sebelum dijual. Juga biaya dapur yang tak kalah besar selama kegiatan itu berlangsung. Belum lagi ongkos angkut ke pabrikan jika petani berani jual sendiri tanpa melalui tengkulak.

Kini, harga tembakau rajang di tingkat petani sangat murah. Di bawah angka Rp 30 ribu per kilogram. Tahun lalu di atas Rp 40 ribu. Padahal, kualitas tembakau tahun ini bagus. Cuaca mendukung. Seperti diakui Bagian Admin PT Surya Kahuripan Semesta Freddy Kustianto.

Harga tembakau musim ini bikin nelangsa. Petani ngelus dada. Dada sendiri. Usaha dan biaya sudah dicurahkan penuh untuk kemaslahatan tembakau. Kualitasnya pun memukau. Tapi, harga membuat petani galau.

Kerut dahi petani berimbas pada sektor lain. Pada pemilik toko dengan berbagai barang yang dijual tak semringah. Jualan mereka kurang laris. Karena tata niaga tembakau sedang lesu.

Padahal, jika tembakau laris dan harga manis akan banyak yang dapat berkah. Berbagai usaha akan kena semerbak daun emas. Sopir pikap atau truk pengangkut pun akan sering bersalaman dengan petugas di jalanan. Tapi kini, harga daun emas membuat petani lemas dan cemas.

Tembakau masih banyak di sawah. Berharap harga bisa berubah. Laku laris dengan harga manis.

Pemerintah dan anggota dewan yang terhormat jangan hanya duduk di balik meja menunggu laporan. Mahasiswa, mari kawal tata niaga tembakau petani.

Mari bergerak agar Madura tidak kehilangan aroma tembakau. Banyak pihak yang berharap berkah dari tanaman ini. Banyak yang ngampong nyoso. Termasuk sopir pikap yang mengangkut daun tembakau dari sawah atau hasil rajangan ke gudang. 

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia