Senin, 14 Oct 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Jadi Korban Kekerasan saat Demo Mahasiswa Lapor Polisi

19 September 2019, 03: 09: 58 WIB | editor : Abdul Basri

CARI KEADILAN: Fathurrohman, korban dugaan tindak kekerasan saat demo di UTM, menunjukkan surat laporan dari petugas SPKT Polres Bangkalan Selasa malam (17/9).

CARI KEADILAN: Fathurrohman, korban dugaan tindak kekerasan saat demo di UTM, menunjukkan surat laporan dari petugas SPKT Polres Bangkalan Selasa malam (17/9). (DARUL HAKIM/RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN – Aksi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bangkalan di kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM) berbuntut panjang. Dua aktivis HMI yang diduga menjadi korban kekerasan dan penganiayaan melapor Polres Bangkalan Selasa malam (17/9).

Yaitu, Moh. Lukyan, 25, asal Desa Banyubunih, Kecamatan Galis, Pamekasan, dan Fathurrohman, 19, asal Desa Gili Timur, Kecamatan Kamal, Bangkalan. Laporan polisi atas nama Moh. Lukyan bernomor LP/177/IX/2019/Jatim/Res BKL atas dugaan penganiayaan merujuk pada pasal 351 KUHP.

Sementara itu, surat laporan polisi atas nama Fathurrohman bernomor: LP/175/IX/2019/Jatim/Res BKL dugaan tindak pidana secara bersama-sama di muka umum melakukan kekerasan terhadap orang yang mengakibatkan luka yang merujuk pada pasal 170 KUHP. Dugaan penganiayaan dialami dua korban saat mengikuti aksi di kampus UTM pada Senin (16/9).

Moh. Lukyan menjelaskan, saat aksi ada kericuhan dan dia ingin melerai supaya massa dari HMI tidak tersulut emosi. Namun, saat itu dia dilempari benda keras berupa batu oleh sekelompok oknum mahasiswa yang diduga tidak terima dengan aksi yang digelar kader HMI. ”Lemparan batu mengenai kepala saya sehingga robek dan dijahit empat,” tuturnya usai melapor ke Polres Bangkalan.

Akibat insiden tersebut, dia tidak sadarkan diri dan dirawat di puskesmas. Untungya, lanjut Lukyan, benda keras tersebut tidak mengenai matanya. Jika mengenai mata, akibatnya bisa fatal. ”Untungnya hanya mengenai pelipis. Alhamdulillah sudah ditangani medis,” ungkapnya.

Sementara itu, Fahurrohman menyampaikan, saat aksi dia berada di dalam gedung rektorat UTM. Kemudian, dia keluar gedung dengan niat membeli rokok bersama seorang temannya bernama Fais. Namun ketika berada di luar gedung rektorat, tepatnya di halaman depan, tiba-tiba Fahurrohman dihampiri sekelompok orang tidak dikenal. ”Kurang lebih sekitar sepuluh orang,” tuturnya.

Tanpa penjelasan, dia dikeroyok secara bersamaan dari kiri dan dipukuli. Pada saat itu, lanjut Fathurrohman, petugas keamanan kampus bersama Fais berusaha melerai. Namun, sekelompok orang itu tetap melakukan pemukulan secara bertubi-tubi. ”Saya juga dipukul dari belakang mengenai kepala. Akibat dikoroyok, saya luka lebam di muka dan mata. Akibat kejadian itu, saya masih tertekan,” jelasnya.

Dia meminta Polres Bangkalan memproses secara hukum dugaan kekerasan dan penganiayaan itu. ”Kami meminta kepada penyidik, kasus ini diusut sampai tuntas,” pintanya.

Kasubbaghumas Polres Bangkalan Iptu Suyitno membenarkan pihaknya menerima laporan mahasiswa. ”Laporan dari masyarakat kami tampung dan akan ditindaklanjuti,” katanya mewakili Kapolres Bangkalan AKBP Boby Pa’ludin Tambunan. 

(mr/hud/rul/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia