Senin, 14 Oct 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

Krisis Joki Karapan Sapi Geser Jadwal Visit

18 September 2019, 01: 53: 01 WIB | editor : Abdul Basri

HARUS ADA REGENERASI: Joki sepuh memacu sapi kerapnya di lintasan Lapangan Karapan Sapi Giling, Sumenep, Minggu (15/9).

HARUS ADA REGENERASI: Joki sepuh memacu sapi kerapnya di lintasan Lapangan Karapan Sapi Giling, Sumenep, Minggu (15/9). (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Dalam kalender Visit Sumenep 2019 pelaksanaan karapan sapi tingkat Kabupaten Sumenep baru dijadwalkan pada 22 September. Namun, ajang adu cepat untuk memperebutkan tiket menuju piala presiden itu sudah digelar Minggu (15/9).

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep Carto menyampaikan, jadwal karapan sapi dimajukan dikarenakan beberapa faktor. Di antaranya, karapan sapi tingkat kewedanaan di Kota Keris sudah selesai digelar Juli 2019.

Jadwal pelaksanaan dipercepat juga disebabkan pada 22 September kabupaten lain di Madura ada yang menggelar karapan sapi. Sementara tokang tongko’ atau buto alias joki karapan yang mengendalikan laju sapi juga diundang. Jika dipaksakan digelar pada tanggal yang sama, dikhawatirkan sedikit yang akan menjadi joki.

”Kami mengikuti keinginan dari paguyuban. Keterbatasan joki. Joki jadi rebutan,” ungkapnya kemarin (17/6).

Carto mengakui, joki-joki yang terlibat dalam karapan sapi tingkat kabupaten di Sumenep tidak semua berasal dari Bumi Sumekar. Tapi, dari berbagai daerah di Madura. Jumlah joki di Madura tidak sebanding dengan pemilik sapi kerap.

Dalam satu perlombaan, satu joki bisa turun berkali-kali sesuai permintaan pengerap. Sebab, pengerap juga tidak asal pilih joki. Pengerap percaya jika pemilihan joki juga berpengaruh pada laju sapi untuk menjadi yang tercepat.

”Maka dari itu, jadwalnya diganti di waktu yang tidak bersamaan dengan kabupaten lain. Khawatir tidak kebagian joki,” terang Carto.

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian semua pihak. Khususnya pelestari kebudayaan karapan sapi. Dengan demikian, tidak lagi muncul istilah keterbatasan joki. Carto mengaku masih akan menawarkan kepada paguyuban, kemungkinan itu akan menjadi program disparbudpora dalam pelestarian kebudayaan. ”Karena paguyuban yang bisa melaksanakan dan bisa merembukkan itu,” tandasnya. 

(mr/bad/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia