Senin, 14 Oct 2019
radarmadura
icon featured
Bangkalan

Statemen ”Universitas Tidak Muhammadiyah” Tuai Polemik

Wakil Rektor III UTM Minta Maaf

17 September 2019, 03: 24: 32 WIB | editor : Abdul Basri

MIMBAR AKADEMIK: Aktivis HMI Bangkalan menggelar demonstrasi di Graha Utama UTM kemarin.

MIMBAR AKADEMIK: Aktivis HMI Bangkalan menggelar demonstrasi di Graha Utama UTM kemarin. (A. YUSRON FARISANDY/RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN – Graha Utama Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mendadak ramai kemarin (16/9). Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bangkalan menggelar demonstrasi. Mereka meneriakkan tuntutan pecat Wakil Rektor (Warek) III UTM Agung Ali Fahmi.

Aksi aktivis HMI diduga dipicu statemen Agung Ali Fahmi yang menyebar di berbagai grup WhatsApp (WA). Awalnya, Agung mengirim link berita berjudul Sejumlah Kader IMM dan Wapresma Usir PMII dan HMI dari Kampus Muhammadiyah.

Agung menanggapi berita itu dengan kalimat ”Itu benar, bahwa kampus Unmuh ya khusus Muhammadiyah. HMI itu gak punya induk, ibunya ”Masyumi” sudah wafat… Yatim piatu… Mumpung masih bulan Muharam kalau ketemu anak HMI elus kepalanya”. Kemudian, ia memberikan statemen lagi ”lho kampus UTM itu NU… Singkatnya, universitas tidak Muhammadiyah…”.

Mahasiswa yang berdemo menggunakan kendaraan menuju Graha Utama UTM. Demo dimulai pukul 09.00. Dilangsungkan orasi beberapa menit. Mereka kemudian berusaha menerobos petugas sekuriti untuk masuk gedung. Ketika berhasil masuk, mahasiswa berorasi lagi. Secara bergantian, mereka menyuarakan dengan lantang meminta Agung Ali Fahmi datang menemui massa aksi.

Pukul 10.02 Agung Ali Fahmi menemui mahasiswa dengan dikawal dua petugas satpam. Massa tersulut emosi hingga terjadi bentrok. Setelah emosi massa diredam, orasi kembali dilanjutkan. Mahasiswa menuntut Agung Ali Fahmi menyampaikan permintaan maaf.

Mahasiswa juga meminta rektor UTM bertindak tegas dengan memecat Agung Ali Fahmi dari jabatannya sebagai Warek III. ”Jadilah pemimpin yang tegas, yang bijak. Jangan menjelekkan organisasi lain,” teriak salah seorang orator Ana Silvia.

Pukul 11.15 emosi massa kembali memanas. Diduga ada pihak luar yang memprovokasi. Terjadi aksi saling dorong, lempar air gelas, lempar sandal, hingga lempar sepatu.

Akibat  bentrokan itu, seorang mahasiswa mengalami cedera akibat lemparan benda tumpul. Seorang mahasiswa lagi diduga patah lengan kanan. ”Lukyan mengalami luka dan lebam mata kiri. Sulton patah tulang bahu kanan,” ungkap korlap aksi Moh. Thoifur Syairozi.

Mahasiswa yang akrab disapa Rozi itu mengatakan, aksi yang digelarnya merupakan aksi damai. Tuntutan yang disampaikan yaitu meminta rektor UTM bertanggung jawab terhadap bawahannya. Sebab, bawahannya, yakni Warek III, dinilai tidak mampu menjaga kondusivitas akademik di kampus UTM.

”Warek III membelokkan sejarah. Dia mengatakan bahwa HMI anak Masyumi. Padahal, sudah sangat jelas di semua literasi bahwa HMI independen dan tidak punya induk,” tegasnya.

Aktivis HMI menuntut Warek III turun dari jabatannya karena dinilai tidak mempunyai kapasitas memimpin di UTM. ”Kami menjaga marwah UTM. Oleh Warek III, UTM dijadikan singkatan dari Universitas Tidak Muhammadiyah. Itu memecah belah,” tudingnya.

Sebab, kenyataannya, UTM merupakan kampus negeri. Mahasiswanya bukan hanya Islam, melainkan ada juga yang non Islam. ”Ada UKM dari teman-teman mahasiswa nonmuslim di UTM ini. Jadi, sangat tendensius statemen Warek III itu,” ujarnya. ”Kami di sini untuk menyuarakan persatuan anak bangsa. Juga demi nama baik kampus tercinta ini,” ujarnya.

Sementara itu, di hadapan mahasiswa Agung Ali Fahmi mengakui mengirim link berita dan ada tulisan seperti yang disampaikan di sejumlah grup WA. Dia meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan. ”Saya meminta maaf dan mengklarifikasi yang sudah saya lakukan,” ucapnya.

Ditanya apa maksud statemen yang dilontarkan dalam grup WA tersebut? Agung enggan memberikan penjelasan. Dia hanya mengulangi permintaan maaf bahwa yang dilakukan adalah kesalahan. ”Saya memang salah. Saya minta maaf,” ucapnya.

Permintaan maaf Agung tidak mudah diterima oleh mahasiswa. Mereka meminta Agung Ali Fahmi keluar dari Graha Utama UTM dan menganggap dia bukan Warek III lagi.

Rupanya, ada yang tidak terima Agung diminta keluar. Lalu, muncul aksi dadakan. Massa aksi dadakan itu bersitegang dengan aktivis HMI hingga sore kemarin. 

(mr/rul/hud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia