Senin, 14 Oct 2019
radarmadura
icon featured
Bangkalan

Mengenang Perjuangan RKH Fuad Amin

17 September 2019, 06: 35: 59 WIB | editor : Abdul Basri

Mengenang Perjuangan RKH Fuad Amin

Share this      

BANGKALAN – Jauh sebelum menjadi tokoh sentral di Kabupaten Bangkalan, bahkan di Madura, cicit Syaikhona Mohammad Kholil itu cukup cemerlang dalam karir politiknya. RKH Fuad Amin terbilang beruntung.

Semasa hidup, karir politiknya terus menanjak dan bersinar pascareformasi. Sejak terpilih menjadi anggota DPR RI 1999, dengan mudah Fuad Amin meraih jabatan puncak di kabupaten paling ujung barat Madura.

Fuad Amin terpilih sebagai bupati Bangkalan selama 10 tahun. Sejak 2003 hingga 2013. Kesuksesan yang diraih itu tidak banyak yang tahu. Publik selalu melihat hasil, tetapi bukan proses sebagai sosok tokoh yang sukses secara politik, ekonomi, dan sosial.

BERDUKA: Keluarga bersama kolega membawa jenazah Fuad Amin menuju ambulans di Graha Amerta RSUD dr Soetomo, Surabaya.

BERDUKA: Keluarga bersama kolega membawa jenazah Fuad Amin menuju ambulans di Graha Amerta RSUD dr Soetomo, Surabaya. (RadarMadura.id)

Keterangan yang dihimpun RadarMadura.id dari berbagai sumber, karir politik RKH Fuad Amin Imron bermula dari keikutsertaannya terjun ke dunia politik praktis sekitar 1990. Partai politik (parpol) kali pertama yang dipilih adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Tidak lama kemudian, tepatnya pada 1996, dia langsung menjabat posisi tertinggi di PPP. Yaitu, sebagai ketua DPC PPP Bangkalan. Posisi tersebut semakin memperkuat dirinya sebagai tokoh berpengaruh sekaligus sebagai politikus hingga melenggang mulus ke Senayan.

Lalu, saat itu dinamika dan perubahan politik Indonesia kian berkembang. Seperti banyaknya tokoh nasional berlomba-lomba mendirikan parpol. Tak terkecuali, dari kalangan NU KH Abdurrahman Wahid.

Oleh Gus Dur, RKH Fuad Amin Imron didaulat menjadi pengurus DPP PKB di jajaran dewan syuro bersama tokoh-tokoh NU lainnya. Dengan bergabungnya RKH Fuad Amin Imron ke PKB, secara otomatis jabatan ketua DPC PPP harus dilepas.

Dengan kelihaiannya, Fuad Amin langsung membentuk pengurus tingkat kabupaten untuk PKB. Sejak aktif di PKB, hubungan RKH Fuad Imron dengan Gus Dur semakin dekat. Hingga akhirnya, dia terpilih sebagai anggota DPR RI pada Pemilu 1999 serta menjadi bupati Bangkalan selama dua periode sejak 2003–2013.

Terpilihnya Ra Fuad sebagai bupati Bangkalan merupakan fenomena tersendiri kala itu. Sebab, dia merupakan tokoh yang kali pertama meretas kebuntuan politik dalam tradisi kepemimpinan birokrasi pemerintahan selama bertahun-tahun. Semula dari unsur birokrasi dan militer. Lalu, ke kalangan pesantren.

Selama menjabat bupati Bangkalan, RKH Fuad Amin banyak membangun fasilitas umum di Kota Salak. Juga banyak mencapai prestasi.

Setelah berakhir masa jabatan bupati selama 10 tahun, RKH Fuad Amin Imron lantas tak berhenti dari dunia politik. Justru, pada Pemilu 2014, dia terpilih dan langsung menjabat ketua DPRD Bangkalan.

Pada Pilkada 2013, RKH Fuad Amin Imron menyiapkan anak kandungnya, R. Muh. Makmun Ibnu Fuad, maju sebagai kontestan pilbup. Berkat dukungan penuh sang ayah, pria yang akrab disapa Ra Momon itu terpilih sebagai bupati Bangkalan periode 2013–2018.

Namun, pada Pilkada 2018, dengan lantang RKH Fuad Amin Imron berubah dukungan. Justru, dia tidak mencalonkan Ra Momon, melainkan adik kandungnya, R. Abdul Latif Amin Imron. Juga terpilih sebagai bupati hingga sekarang.

Ketua sementara DPRD Muhammad Fahad mengaku kehilangan atas kepergian RKH Fuad Amin Imron. Sebab, mantan bupati Bangkalan dua periode itu adalah sosok yang telah banyak menginspirasi, terutama dalam hal kepemimpinan. Kontribusinya untuk Bangkalan tak perlu diragukan.

”Selamat jalan, semoga beliau tenang di peristirahatannya. Beliau akan dimakamkan besok (hari ini, Red) di Martajasah,” ucapnya.

(mr/daf/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia