Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Kedai

Cukai (Rokok) Membunuhmu

Oleh Imam S. Arizal

16 September 2019, 16: 34: 35 WIB | editor : Abdul Basri

Imam S. Arizal Wartawan Jawa Pos Radar Madura

Imam S. Arizal Wartawan Jawa Pos Radar Madura

Share this      

PELAN tapi pasti, negara akan melenyapkan petani tembakau dari bumi nusantara. Tentu tidak dengan cara genosida model pemimpin-pemimpin diktator dunia terdahulu. Tetapi, dengan menyusun sistem yang dapat membuat nilai jual tembakau terus anjlok, yakni kebijakan cukai rokok.

Terbaru, akhir pekan kemarin Menteri Keuangan Sri Mulyani mengumumkan tentang rencana kenaikan cukai rokok mulai Januari 2020 mendatang. Tidak tanggung-tanggung, rencana kenaikannya mencapai 23  persen. Dengan kenaikan cukai ini, maka harga eceran rokok bisa naik sebesar 33 persen dari harga saat ini. (Jawa Pos, 14/9/2019).

Rencana kenaikan tembakau ini perlu kita tanggapi secara serius. Sebab, cukai akan memiliki dampak besar bagi industri hulu dan hilir rokok. Pabrik-pabrik rokok kecil akan semakin tidak berdaya dan petani tembakau juga akan terpuruk. Tentu masyarakat Madura yang sampai saat ini meyakini tembakau sebagai daun emas dan tanaman primadona akan terkena dampak sistemik dari aturan tersebut.

Bagi pemerintah, menaikkan cukai rokok ini penting. Pertama, agar tingkat konsumsi rokok menurun, terutama yang melibatkan anak-anak. Sebab dengan harga rokok yang tinggi, perokok diharapkan tidak mampu membeli lalu memutuskan pensiun sebagai ahli isap.

Kedua, pemerintah bersikukuh bahwa rokok itu berbahaya bagi kesehatan. Mencegah orang merokok maka dipandang berbanding lurus dengan menciptakan kehidupan yang sehat. Sebab, kira-kira pemerintah berkeyakinan bahwa rokok itu monster pembunuh.

Ketiga, dengan kenaikan harga cukai, otomatis pendapatan negara akan meningkat. Dengan skema kenaikan cukai, maka penerimaan negara bisa naik menjadi Rp 173 triliun hingga Rp 200 triliun. Bandingkan dengan tahun ini yang dipatok sebesar Rp 157 triliun.

Dari tiga alasan di atas, hanya yang ketiga yang tidak perlu diperdebatkan. Sebab, cukai rokok akan menjadi pendapatan atau penerimaan negara. Tetapi, untuk alasan pertama dan kedua senantiasa menjadi perdebatan di sepanjang sejarah.

Pertanyaannya kemudian, apakah dengan menaikkan cukai otomatis bisa mengurangi tingkat konsumsi rokok? Tidak ada jaminan bahwa perokok akan menurun. Sebagaimana pernah disampaikan oleh guru besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM Prof. Yayi Suryo Prabandari bahwa setiap tahun perokok di Indonesia terus meningkat. Bahkan, prevalensi perokok di atas 15 tahun cukup tinggi.

Kedua, benarkah rokok berbahaya bagi kesehatan? Terma ini menjadi perdebatan yang tidak ada habisnya. Okta Pinanjaya dan Waskito Giri Sasongko dalam buku Muslihat Kapitalis Global: Selingkuh Industri Farmasi dengan Perusahaan Rokok AS (2012) menyebut bahwa ketika Colombus dalam perjalanannya ke benua Amerika bertemu suku Indian Arawak dan Taino yang sedang merokok tembakau pada 12 Oktober 1492, belum ada pro-kontra tentang rokok saat itu.

Bahkan pertengahan abad ke-16, tembakau diyakini memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Adalah Jean Nicot de Villemain, duta besar Prancis untuk Portugal yang menuliskan manfaat tembakau kepada pengadilan Prancis pada 1559. Jean menyebut bahwa tembakau sebagai Panacea alias dewi penyembuh dalam mitologi Yunani.

Berikutnya, dokter berkebangsaan Jerman Michael Bernhard Valentini dalam buku Polychresta Exotica (Exotic Remedies) menyebut tembakau memiliki manfaat bagi pengobatan medis. Dokter Nicholas Monardes dari Spanyol juga menulis manfaat tembakau bagi pengobatan dalam buku De Hierba Panacea.

Penolakan terhadap rokok muncul sekitar 50 tahun kemudian. Pada 1590, Paus Urban VII melarang konsumsi tembakau dengan cara apa pun di lingkungan gereja sebelum Paus Benedict XIII menghapuskan larangan itu pada 1724 karena dia seorang perokok. Kemudian, pada 1604 Raja James I Inggris mengeluarkan manifesto “A Counterblasts to Tobacco” yang melarang rakyat Inggris merokok. Raja James I bahkan menaikkan pajak tembakau hingga 4000 persen dan menyematkan predikat barbar, liar, dan musyrik (godless) bagi perokok.

Itulah awal pro-kontra tembakau dimulai. Perdebatan terus berlangsung, dari tingkat lokal hingga global dengan melibatkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menginisiasi Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Salah satu item yang diatur dalam FCTC yakni tentang peningkatan cukai rokok.

Dampak Kenaikan Cukai

Suryadi Radjab dalam buku Dampak Pengendalian Tembakau Terhadap Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (2013) menyebutkan bahwa FCTC telah menekan industri pengelolaan tembakau dan cengkeh di Indonesia. Meski Indonesia belum menandatangani dan meratifikasinya, tetapi tekanan atas nama rezim kesehatan dunia terus menekan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan. Kebijakan kenaikan cukai yang terus dilakukan secara periodik merupakan bentuk nyata dari ketidakberdayaan itu.

Meningkatnya cukai rokok juga memaksa industri-industri kecil keretek di Indonesia gulung tikar. Berdasarkan catatan Ditjen Bea Cukai, pada 2007 hampir 5.000 perusahaan lokal ambil bagian dalam produksi rokok. Namun pada 2011 jumlahnya turun drastis menjadi sekitar 1.664 perusahaan. Ribuan perusahaan itu terpaksa gulung tikar karena tidak berdaya menghadapi tingginya cukai.

Yang disesalkan, pada saat industri rokok kecil gulung tikar, justru produksi rokok terus meningkat. Suryadi menyebut jumlah produksi rokok cenderung meningkat. Jika pada 2007 produksi rokok mencapai 231 miliar batang, maka pada 2011 menjadi 279,4 miliar batang atau naik sekitar 48,4 miliar batang. Industri rokok kemudian hanya dimonopoli oleh perusahaan besar yang di dalamnya berlindung para kapitalis global. Saat ini saham perusahaan rokok besar dalam negeri mayoritas dikuasai asing.

Pada saat yang sama, dampak dari gulung tikarnya perusahaan rokok kecil ini memaksa ribuan orang kehilangan pekerjaan. Harga tembakau dan cengkeh sebagai bahan utama rokok keretek anjlok. Terlebih dari rezim kesehatan global terus dilancarkan opini bahwa rokok Indonesia tidak sehat karena tinggi nikotin yang memaksa rokok-rokok putih dari Amerika Serikat masuk ke dalam negeri.

Fakta inilah yang sedang dihadapi oleh mayoritas petani tembakau dalam negeri, termasuk petani daun emas pulau garam. Klaim bahwa tembakau Madura berkualitas akan sia-sia manakala dibenturkan dengan cukai rokok. Ketika perusahaan ditekan dengan cukai oleh negara, maka mereka akan menekan biaya produksi dengan menekan harga tembakau.

Pada titik inilah kita pun sanksi sebenarnya untuk siapa kebijakan menaikkan cukai rokok itu dikeluarkan? Akankah dia dapat melindungi anak bangsa dari bahaya rokok yang diklaim dapat membunuh pengisapnya? Atau diam-diam negara sedang ingin membasmi petani tembakau dan melenyapkan perusahaan rokok kecil dari negeri ini. Entahlah.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia