Senin, 14 Oct 2019
radarmadura
icon featured
Features

Sekolah Alam Excellentia Berlakukan Sampah sebagai Alat Tukar Makanan

Termurah Itu Seng, Bisa Ditukar Minyak Goreng

13 September 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Abdul Basri

JADI ALAT TUKAR: Anak-Anak KB/TK Alam Excellentia mengantre untuk menimbang sampah ke petugas bank sampah di lingkungan Sekolah Alam Excellentia (SAE) di Jalan Lawangan Daya, Kelurahan Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, kemarin.

JADI ALAT TUKAR: Anak-Anak KB/TK Alam Excellentia mengantre untuk menimbang sampah ke petugas bank sampah di lingkungan Sekolah Alam Excellentia (SAE) di Jalan Lawangan Daya, Kelurahan Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, kemarin. (ONGKY ARISTA UA/RadarMadura.id)

Share this      

Butuh tata kelola dan cara pikir cerdik untuk membuat sampah menjadi bernilai. Salah satunya dengan menjadikan sampah sebagai alat membeli barang dan makanan.

 

PAGI kemarin (12/9) begitu cerah. Hilir mudik kendaraan menyesaki Jalan Jokotole dan sekitarnya. RadarMadura.id (JPRM) terus melaju ke arah timur di jalan itu. Hingga belok kiri ke Jalan KH Wahid Hasyim. Berbelok kanan ke Jalan Bonorogo. Lalu, belok kiri lagi ke Jalan Lawangan Daya.

Di Jalan Lawangan Daya nomor 26 JPRM masuk ke sebuah sekolah alam dan disambut penjaga yang begitu ramah. Sekolah Alam E          xcellentia (SAE) nama sekolah tersebut. Sekolah ini digagas 2014.

Sekolah alam ini mengelola dua tingkat pendidikan. Pertama, untuk Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak (KB/TK) Alam Excellentia. Siswanya sekitar 110 anak. Kedua, Sekolah Dasar (SD) Alam Excellentia. Siswanya sekitar 57 anak.

Sejak awal berdiri, sekolah alam ini visi-misinya peduli lingkungan. Kemudian, diberlakukan kurikulum untuk pemeliharaan lingkungan. Dari awal, sudah ada program daur ulang sampah.

”Ada namanya bank sampah. Yakni menabung sampah. Membawa sampah yang tidak dipakai di rumah setiap minggunya ke sekolah. Bisa botol minuman kemasan atau bias juga kardus,” kata Anni Rifqatul Laily selaku Direktur SAE.

Karena sampah itu sekadar ditabung, banyak yang kurang bergairah untuk menabung. Banyak di antara siswa yang lupa membawa sampah. Atau kadang, orang tuanya tidak membawa sampah di rumah masing-masing ke sekolah.

”Nah, untuk menyiasati itu, kalau sampah dihargai dan dijadikan alat untuk membeli barang atau makanan, insyaallah lebih mengena dan efektif. Bahkan menggairahkan siswa sendiri untuk membawa sampah ke sekolah,” lanjutnya.

Akhirnya, sampah tersebut dijadikan sebagai alat tukar sebagaimana uang. Bisa digunakan untuk membeli barang atau makanan di kantin Sekolah Alam Excellentia Mart atau SAE Mart yang ada di dalam lingkungan sekolah tersebut.

Sampah yang dibawa itu bisa digunakan sebagai alat tukar. Sampah-sampah itu antara lain seng, besi, aluminium, kertas putih, kertas warna, kardus, atom, bak hitam, atom kertas, dan besi sepeda. Ketentuannya, sampah yang terkumpul minimal 1 kilogram.

Waktu penyetoran sampah setiap Jumat. Sampah yang dibawa bisa ditabung di sekolah kemudian ditimbang setelah mencapai berat minimal. ”Masyarakat dari luar juga bisa menjual sampah atau berbelanja pakai sampah ke sini,” lanjut Anni.

Harga dari setiap sampah di atas per 1 kilogram cukup variatif. Besi Rp 3.600. Seng Rp 400. Aluminium Rp 10.500. Kertas putih Rp 2.300. Kertas warna Rp 1.800. Kardus Rp 1.300. Atom Rp 3.300. Bak hitam Rp 1.800, atom kertas Rp 800, dan besi sepeda Rp 2.700.

Ketika belum terlalu banyak sampah yang ditabung di sekolah, sementara bisa ditukar dengan sembako di SAE Mart. Mulai dari gula, beras hingga minyak goreng untuk kebutuhan dapur.

Selain itu, hasil tabungan bisa diinfakkan ke sekolah. Infak itu nanti dikeluarkan setiap tahun. Bisa ke anak yatim atau kepada masyarakat kurang mampu. ”Atau bisa ditabung, nanti diambilnya di akhir pembelajaran,” jelas Anni.

Transaksi jual beli dan hasil timbangan sampah dari tiap siswa sudah ada buku registrasi khusus. Buku tabungan dan buku jual beli. Jadi, hasil dari itu semua bisa meringankan pembiayaan dengan hanya melalui sampah tersebut.

Perempuan berkerudung itu berharap, dengan menjadikan sampah sebagai alat sebagaimana uang bisa mengurangi kerusakan lingkungan. ”Ini kan ajaran Islam, yang banyak orang menyepelekan, bahwa kebersihan bagian dari iman,” lanjutnya.

Kepala KB/TK Linda Noviana Maulidiyah mengharapkan siswa, orang tua, dan masyarakat bisa tergerak untuk memilah sampah. Selain memilah, juga memanfaatkan sampah agar lebih bernilai. ”Sampah itu bisa jadi uang atau barang buatan tangan yang lebih kreatif,” kata Linda.

Sampah yang ditabung itu nanti bisa diambil manfaatnya dalam bentuk tabungan. Bisa dibelanjakan langsung atau diinfakkan. ”Dijual dan diambil uangnya langsung juga boleh,” terangnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia