Senin, 14 Oct 2019
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Tak Banyak Arsip Sejarah Berhasil Diselamatkan

13 September 2019, 00: 40: 59 WIB | editor : Abdul Basri

BERSEJARAH: Kasi Akuisisi dan Pengolahan Arsip Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pamekasan menunjukkan arsip foto pembukaan pameran pertanian di Pamekasan pada 1958 kemarin.

BERSEJARAH: Kasi Akuisisi dan Pengolahan Arsip Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pamekasan menunjukkan arsip foto pembukaan pameran pertanian di Pamekasan pada 1958 kemarin. (ONGKY ARISTA UA/RadarMadura.id)

Share this      

PAMEKASAN – Arsip sejarah terutama yang berupa teks dapat diteliti dan dipelajari. Juga, dapat membantu para generasi muda di Bumi Gerbang Salam lebih jauh mengenal sejarah lengkap Pamekasan.

Namun, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Pamekasan menyebut bahwa tidak banyak arsip sejarah di Bumi Gerbang Salam yang berhasil diselamatkan. Terutama arsip berupa teks.

Arsiparis Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pamekasan Fadilah Yuhasari mengutarakan, kendala yang ditemui di lapangan adalah tidak adanya tenaga arsiparis di lembaganya sejak beberapa tahun lalu. ”Baru tahun ini ada tenaga arsiparis,” ujarnya kemarin (12/9).

Arsip yang ada hanya berupa foto. Arsip-arsip foto tersebut pun tidak semuanya temuan bidang kearsipan. ”Kami dibantu dinas perpustakaan dan kearsipan provinsi,” terang pria asal Sampang itu.

Tetapi sampai saat ini, bidang kearsipan terus melakukan pencarian atas arsip-arsip kuno bersejarah yang ada di Kota Gerbang Salam. ”Kita kerja sama dengan museum, kita dapatnya hanya berupa foto,” akunya.

Untuk arsip berupa teks, pihaknya hampir tidak mendapatkan sama sekali. Termasuk teks sejarah, tak ada yang berhasil diselamatkan. Selain kendala tidak adanya arsiparis, banyak kalangan yang belum paham betul mengenai pentingnya arsip. Dengan begitu, saat punya arsip sejarah berupa teks atau foto, tidak diselamatkan.

Sejauh ini penyelamatan arsip oleh bidang kearsipan dilakukan melalui kerja sama dengan instansi dan perorangan. Dari instansi mulai dari museum setempat dan provinsi Jawa Timur. ”Sementara, untuk perorangan dihimpun dari keturunan seorang tokoh sejarah atau masyarakat,” pungkasnya. (c2)

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia