Jumat, 20 Sep 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Kompolnas Respons Kasus Pembunuhan Mantan Tekong

12 September 2019, 06: 05: 59 WIB | editor : Abdul Basri

Kompolnas Respons Kasus Pembunuhan Mantan Tekong

Share this      

PAMEKASAN – Kasus penganiayaan yang menyebabkan Rasidi, 40, mantan tekong meninggal dunia menjadi atensi berbagai pihak. Salah satunya, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

Muslim selaku kuasa hukum keluarga korban mengutarakan, pihak keluarga mendesak polisi menangkap seluruh pelaku. Sampai sekarang, hanya satu pelaku yang ditangkap. Yakni, Ruslan, 28, warga Desa Bujur Tengah, Kecamatan Batumarmar.

Pihak keluarga yakin pelaku pembunuhan itu tidak hanya satu orang. Bahkan, sebelum Rasidi meninggal, pria asal Desa Bangsereh itu menyampaikan kepada istrinya bahwa pelaku penganiayaan lebih dari satu orang.

Dengan demikian, pihak keluarga sangat yakin Ruslan dibantu orang terdekatnya dalam penganiayaan tersebut. Hanya, polisi sampai sekarang baru menangkap satu orang. ”Kami meminta semua pelaku ditangkap,” desaknya kemarin (11/9).

Muslim mengatakan, pihak keluarga mendesak polisi menangani persoalan tersebut hingga tuntas. Salah satu upaya desakan yang dilakukan yakni mengadukan kasus tersebut ke Kompolnas.

Harapannya, lembaga yang bertugas membantu presiden dalam menetapkan arah kebijkaan Polri tersebut mengawasi penanganan kasus itu. Dengan demikian, tidak ada celah bagi siapa pun main mata atas kasus yang terjadi pada 11 Juli lalu itu.

Muslim mengatakan, Kompolnas merespons pengaduan yang dilayangkan. Lembaga yang berada di bawah naungan presiden itu membalas surat pengaduan dengan nomor B-2121C/Kompolnas/8/2019.

Dengan demikian, Muslim merasa lega. Penanganan perkara pembunuhan itu bisa berjalan profesional. Polisi harus menindak tegas pelaku pembunuhan tersebut. Sebab, akibat kejahatan itu, istri korban harus mengurus anak-anaknya sendiri.

Kapolsek Tamberu Iptu Iriyanto mengatakan, berkas tersangka kasus penganiayaan itu disempurnakan. Semula, Ruslan hanya dijerat pasal penganiayaan. Kemudian, ditambah dengan pasal pembunuhan karena korban meninggal dunia.

Atas perbuatannya, mantan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia itu terancam hukuman 12 tahun penjara. Polisi tidak berhenti melakukan penanganan atas kasus itu. Informasi dari masyarakat terus didalami. ”Penanganan terus berlanjut,” tegasnya.

(mr/pen/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia