Jumat, 20 Sep 2019
radarmadura
icon featured
Sampang

68 Ribu KK Krisis Air Se-Robatal Terdampak Kekeringan

12 September 2019, 02: 47: 43 WIB | editor : Abdul Basri

RELA ANTRE: Warga menunggu antrean untuk mendapatkan air bersih di balai Kecamatan Robatal kemarin.

RELA ANTRE: Warga menunggu antrean untuk mendapatkan air bersih di balai Kecamatan Robatal kemarin. (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Kekeringan masih dirasakan masyarakat Kecamatan Robatal. Meski sudah ada bantuan air dari pemerintah kecamatan, namun belum bisa memenuhi kebutuhan sehari-sehari. Pasalnya, bantuan tersebut tidak bisa dinikmati setiap hari.

Abdurrahman mengaku sudah hampir sebulan lebih merasa kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Pasalnya, mata air di sekitar rumahnya di Desa Torjunan sudah kering. Karena itu, dia berupaya mendapatkan air bersih ke daerah lain.

Saat ini, pria 35 tahun itu memanfaatkan persediaan air yang disiapkan pemerintah kecamatan. Namun, hal itu dinilai belum mencukupi kebutuhan. Pasalnya, bantuan air tersebut hanya dibuka setiap tiga hari sekali.

”Siapa yang lebih cepat, dia yang mendapat duluan. Kalau dibuka biasanya langsung antre. Soalnya yang ngambil bukan hanya dari satu desa. Apalagi bukanya tidak setiap hari,” katanya kemarin (11/9).

Air tersebut digunakan untuk konsumsi dan mandi. Keluarganya harus mengirit air agar cukup hingga tiga hari. Sementara untuk kebutuhan lain harus mencari di tempat lain. ”Kalau untuk menyuci dan kebutuhan lain biasanya ke Dam Torjunan. Kalau air bersih eman digunakan untuk nyuci,” ujarnya.

Camat Robatal Kiyatno mengungkapkan, bantuan air di balai kecamatan sudah dilakukan sejak sebulan lalu. Hal itu karena banyaknya desa terdampak kekeringan. Sembilan desa di Kecamatan Robatal kesulitan untuk mendapatkan air bersih.

”Semua desa terdampak kekeringan. Sekitar 68 ribu KK kesulitan untuk mencari air bersih. Makanya, kami membuka kembali keran yang ada di kecamatan. Sebab, masyarakat sangat membutuhkan,” tuturnya.

Keran tersebut sebagai alternatif untuk penanganan kekeringan. Hal itu akan dilakukan selama kekeringan berlangsung. Namun, pihaknya tidak menyediakan fasilitas untuk menampung air di desa-desa terdampak kekeringan.

Terkait jadwal buka bantuan air tersebut, Kiyatno menyampaikan bahwa hal itu merupakan kemampuan dari sumber mata airnya. Di samping, pipa aliran air tersebut sering terganggu. ”Kalau dibuka setiap hari yang jelas sumber airnya tidak akan cukup. Mungkin karena tekanan besar dan pemasangan belum maksimal,” tukasnya. (bil)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia