Jumat, 20 Sep 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Kesal Tanah Dikuasai Orang Lain Begini yang dilakukan warga Tlagah

12 September 2019, 02: 44: 10 WIB | editor : Abdul Basri

CARI BANTUAN HUKUM: Marsu’i (kiri) dan keluarganya menunjukkan bukti jual surat keterangan penerimaan uang jual beli tanah yang diterbitkan pada 1997 kemarin.

CARI BANTUAN HUKUM: Marsu’i (kiri) dan keluarganya menunjukkan bukti jual surat keterangan penerimaan uang jual beli tanah yang diterbitkan pada 1997 kemarin. (RUSYDI ZAIN/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Marsu’i, warga Desa Tlagah, Kecamatan Banyuates, Sampang, tidak terima tanah yang dimiliki justru dikuasai orang lain. Namun, dia tidak gegabah dengan menyelesaikan sendiri, melainkan menempuh jalur hukum dengan melaporkan ke Polres Sampang.

Marsu’i bersama keluarganya melapor ke Polres Sampang pukul 13.00 kemarin (11/9). Sebelumnya dia juga pernah melapor. Akan tetapi, sampai saat ini belum ada kepastian hukum. ”Makanya pelaku masih terus menguasai tanah milik saya,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, tanah yang saat ini dikuasai orang lain itu awalnya dibelinya dari Misnadin yang tak lain adalah pamannya. Transaksi jual beli itu terjadi pada 1997. Bukti surat keterangan jual beli sudah dipegang.

Pada 2018 tanah tersebut diserobot oleh dua oknum di desanya. Menurut dia, tanah miliknya ditambang dan dijual tanah. ”Sejak 2018 saya sudah melaporkan adanya penyerobotan tanah milik saya,” terangnya.

Pada saat dirinya melapor ke polisi, tanah miliknya yang dijadikan tempat tambang diberi garis polisi. Menurut dia, dalam dua bulan tanahnya kembali aman. Tapi, setelah garis polisi dibuka, aktivitas galian tanah kembali dilakukan. ”Saya rutin membayar pajak tanah itu, tapi yang menguasai orang lain,” imbuhnya.

Karena itu, Marsu’i kembali datang dan melapor ke polres atas penyerobotan tanah. Dia berharap, dua pelaku penyerobotan segera ditangkap. ”Ada dua orang memang yang selalu bikin ulah. Semoga segera ditangkap,” harap Marsu’i.

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman menerangkan, kasus tersebut sebenarnya sudah lama. Polisi sudah memanggil seluruh pihak yang bersengketa. Tapi, satu pemilik lahan yang menjual tanah ada di luar kota terus dan tidak bisa dipanggil.

Pihaknya sudah memerintahkan anggotanya untuk memasang garis polisi di tanah tersebut. Jika ke depan ada lagi yang melakukan kegiatan di tanah tersebut akan ditangkap. ”Kalau diberi garis polisi tapi tetap melakukan aktivitas, akan kami tangkap,” tandasnya.

(mr/rus/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia