Jumat, 20 Sep 2019
radarmadura
icon featured
Features

Lailatul Komariyah, Anak Abang Becak, Doktor Termuda ITS

Satu-satunya yang Lulus dengan IPK 4,0

10 September 2019, 07: 45: 59 WIB | editor : Abdul Basri

MEMBANGGAKAN : Laila Komariyah usai mengikuti sidang terbuka promosi doktor kemarin.

MEMBANGGAKAN : Laila Komariyah usai mengikuti sidang terbuka promosi doktor kemarin. (LAILA FOR RadarMadura.id)

Share this      

Kemiskinan tak jadi hambatan menempuh pendidikan tinggi. Lailatul Komariyah telah membuktikannya. Meski anak seorang tukang becak, dia sukses meraih gelar doktor di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

MOH. ALI MUHSIN, Pamekasan, RadarMadura.id

LAHIR dari keluarga kurang mampu tidak membuat Lailatul Komariyah putus semangat meraih cita-cita. Sejak SD hingga SMA, perempuan kelahiran 16 Agustus 1992 itu giat belajar.

BANGGA: Saningrat menunjukkan foto wisuda anaknya, Lailatul Komariyah, di rumahnya kemarin.

BANGGA: Saningrat menunjukkan foto wisuda anaknya, Lailatul Komariyah, di rumahnya kemarin. (MOH. ALI MUHSIN/RadarMadura.id)

Lailatul Komariyah selalu meraih prestasi. Berkat ketekunan belajar, dia mendapat beasiswa dan berkesempatan kuliah di ITS Surabaya.

Awalnya, dia mendaftar di dua kampus bergengsi di Jawa Timur. Yakni, Unair dan ITS dengan memilih jurusan teknik kimia di fakultas teknologi industri. Perempuan yang akrab disapa Laila itu sama-sama lulus di dua kampus tersebut. Namun, akhirnya dia memilih ITS.

Sebelum mendaftar di dua kampus tersebut, Laila sempat dilarang kuliah di Surabaya oleh orang tuanya. Alasannya, mereka tidak punya biaya. Maklum, orang tuanya hanya bekerja sebagai tukang becak dan buruh tani. Penghasilannya pun terkadang tidak cukup untuk membiayai keluarganya.

Bahkan, saat itu sempat jadi perbincangan tetangganya. Keluarga tidak mampu masih ngotot kuliah di kampus ternama. Namun, semua itu tidak membuat Laila patah arang. Semangatnya untuk kuliah terus tumbuh.

Dia memantapkan niat. Kedua orang tuanya akhirnya merestui Laila kuliah di Surabaya.

Laila mampu menunjukkan prestasi gemilang di kampusnya. Bahkan, dia mampu menyelesaikan S-1 hingga S-3 di kampus tersebut dengan nilai menakjubkan.

Rabu (4/9) dia mengikuti sidang terbuka promosi doktor di ITS. Judul disertasi yang Controllable Characteristic Silica Particle And ITS Composite Production Using Spray Proces. Dia diuji oleh tujuh doktor.

Bahkan, dia merupakan satu-satunya mahasiswa penerima beasiswa Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) yang lulus sidang terbuka. Dia akan diwisuda Minggu (15/9).

”Alhamdulillah, saya merupakan satu-satunya mahasiswi PMDSU yang lulus dalam sidang terbuka promosi doktor,” kata Laila saat dihubungi koran ini kemarin (9/9).

Saat menempuh program S-2, Laila juga sukses menempuhnya hanya dalam kurun waktu tiga bulan. Dia lulus mengikuti PMDSU dan sukses meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,0. Padahal untuk lulus pada program tersebut tidak mudah. Ada beberapa seleksi panjang untuk mendapatkan beasiswa itu.

”Saat itu (S-2, Red) ada masa percobaan. Jika nilainya memenuhi target, maka bisa lanjut S-3. Kalau nilai pada waktu masa percobaan tidak sampai target, maka tetap S-2,” terangnya.

”Alhamdulillah nilai saya 4,0 dan itu melampaui target. Paling tidak nilainya harus 3,5” ucap perempuan yang sudah menjadi asisten dosen (asdos) di jurusan teknik kimia ITS itu.

Putri dari pasangan Saningrat dan Rusmiyati itu juga pernah melakukan riset selama setahun di Jepang. ”Ke Jepang sekitar tahun 2017–2018 riset dan studi bagian dari S-3,” ujar Laila yang bercita-cita menjadi dosen itu.

Dia bersyukur meraih gelar doktor termuda. Laila menyadari sukses menempuh S-3 karena pertolongan Allah yang luar biasa. Selain itu, doa dan dukungan kedua orang tua dan keluarganya. ”Ini bukan karena saya, tapi doa kedua orang tua saya,” tuturnya.

Dia ingat betul bagaimana saat-saat baru kuliah di ITS. Selama menempuh S-1, dia setiap hari naik sepeda ontel dari kos-kosan menuju kampusnya. ”Saya gak malu naik sepeda ontel ke kampus. Setiap hari sekitar lima belas menit yang saya tempuh,” ucapnya.

Ada motivasi terbesar yang membuat dia semangat menuntut ilmu. Yaitu, untuk mengangkat derajat orang tuanya. ”Omongan sinis orang-orang dulu saat saya masih mau kuliah ke sini juga menjadi motivasi untuk membuktikan kepada mereka,” akunya.

Bagi Laila, ketidakmampuan ekonomi bukan alasan untuk tidak menempuh pendidikan. Asal ada usaha dan giat belajar, pasti ada jalan. ”Yakinkan diri kita bisa sama dengan orang lain,” tegas alumnus SMAN 1 Pamekasan itu.

Saningrat menceritakan, putrinya sejak SD, SMP, hingga SMA selalu berprestasi. Laila memang menonjol dalam bidang matematika. ”Kalau pulang kuliah, dia jarang keluar dan hanya di dalam kamar membaca buku,” terangnya.

 Saat masuk SMA, Saningrat setiap hari mengantar putrinya menggunakan becak. Sebab, anaknya tidak memiliki sepeda ontel untuk berangkat sendiri. Anaknya baru dibelikan sepeda ontel usai musim tembakau.

Dia bersyukur anaknya bisa lulus kuliah hingga program doktor. ”Saya tidak mengeluarkan biaya. Waktu anak saya kuliah, saya hanya membelikan dia laptop dan sepeda. Waktu baru kuliah, dia masih menggunakan sepeda ontel,” ungkap Saningrat.

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia