Jumat, 20 Sep 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal
Sekali Antar Dapat Rp 50 Juta

Kurir Narkoba Jaringan Malaysia Didor

09 September 2019, 04: 45: 59 WIB | editor : Abdul Basri

BEBER BB: Kapolres Bangkalan AKBP Boby Pa’ludin Tambunan didampingi para perwira pada saat konferensi pers kasus narkoba di halaman Polres Bangkalan kemarin.

BEBER BB: Kapolres Bangkalan AKBP Boby Pa’ludin Tambunan didampingi para perwira pada saat konferensi pers kasus narkoba di halaman Polres Bangkalan kemarin. (DARUL HAKIM//RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN – Perang terhadap penyalahgunaan narkoba terus digelorakan. Selama Agustus lalu, Tim Satgas Berantas Narkoba Polres Bangkalan mengungkap tiga kasus besar. Bahkan, salah satu di antara tersangka ditembak karena hendak melawan petugas.

Dari tiga kasus tersebut terdapat empat tersangka yang diamankan. Pada 12 Agustus ada dua tersangka, yakni Rahmad Fajar Suhaimi, 19, dan Salamin, 23. Sementara pada 19 Agustus ada satu tersangka, yakni Abdul Malik, 49. Terakhir, pada 23 Agustus juga berhasil mengamankan satu tersangka bernama Ahmad Faisal, 28.

Kapolres Bangkalan AKBP Boby Pa’ludin Tambunan mengatakan, semenjak dibentuk satgas, keberhasilan pengungkapan kasus narkoba signifikan. ”Memang saya targetkan harus mengungkapkan jumlah barang bukti cukup besar maupun yang berbentuk jaringan,” ucapnya saat press release kemarin (8/9).

Pengungkapan kasus pada 12 Agustus merupakan jaringan Lapas Porong. Tersangkanya warga Pamekasan. Yakni, Rahmad Fajar Suhaimi dan Salamin. Barang bukti (BB) yang diamankan 203,51 gram sabu-sabu (SS). Jika dirupiahkan dengan asumsi satu gram seharga Rp 1,2 juta mencapai Rp 250 juta. ”Saat ini sedang kami kembangkan. Muaranya ke Sokobanah, Sampang,” ungkapnya.

Kedua tersangka diperintah JFS (inisial) yang saat ini ada di dalam Lapas Porong. JFS sebelumnya juga pernah melakukan hal yang sama. Yakni, memerintahkan kurir untuk mengedarkan narkoba di Surabaya, Sidoarjo, Lumajang, dan Banyuwangi. ”SS didapat dari RSL (inisial) warga Sokobanah, Sampang,” imbuhnya.

Sementara pengungkapan kasus pada 19 Agustus merupakan jaringan Kecamatan Geger. Konang dan wilayah Sampang. Tersangkanya Abdul Malik. Sementara barang bukti (BB) yang disita 248,39 gram SS. Jika dirupiahkan harganya Rp 298 juta. ”Setelah dikembangkan ada tersangka lain yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO),” jelasnya.

Kemudian, pada kasus 23 Agustus mengamankan tersangka bernama Ahmad Faisal. Dia merupakan jaringan pengedaran narkoba dari Malaysia ke Pontianak. Barang haram tersebut akan diedarkan ke Kecamatan Sokobanah, Sampang melalui Bangkalan. ”Jumlahnya 1.011,22 gram SS. Kalau dirupiahkan harganya Rp 1,2 miliar,” terangnya.

Dengan demikian, total secara keseluruhan BB yang diamankan 1.463,12 gram SS. Jika dirupiahkan, jelas Boby, harganya Rp 1,75 miliar. ”Kami juga berhasil menyelamatkan calon korban (masyarakat) kurang lebih 30 ribu jiwa,” jelasnya.

Kasat Resnarkoba Polres Bangkalan AKP Soekris Trihartono mengatakan, pengedaran narkoba jaringan Malaysia melalui jalur laut. Barang haram diambil di Kecamatan Tanjungbumi. Kemudian, dibawa ke Sokobanah menggunakan mobil Carry dan dibungkus tas ransel. ”Hasil analisis IT seperti yang disampaikan Pak Kapolres, itu pengirimannya melalui jalur laut. Tetapi, pengiriman secara terputus,” ungkapnya.

Dijelaskan, barang haram tersebut sudah siap edar. Ketika dilakukan penangkapan, tersangka Ahmad Faisal berusaha melarikan diri dan melakukan perlawanan kepada petugas. Karena itu, petugas kepolisian melakukan tindakan tegas dengan menembaknya.

Di hadapan petugas dia mengaku baru kali pertama melakukan transaksi narkoba. Dia tertarik menjadi kurir narkoba karena tergiur dengan imbalannya. ”Saya dapat Rp 50 juta kalau berhasil mengantarkan,” ucapnya sambil memegang betis yang tertembak.

Pasal yang disangkakan kepada Ahmad Faisal yakni pasal 114 (2) subsider pasal 112 (2) juncto pasal 132 (1) UU RI 35/2009 tentang Narkotika. Ancaman hukuman maksimal hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup dan denda maksimal Rp 13 miliar.

Sementara itu, tersangka Abdul Malik mengaku, motif mengedarkan narkoba hanya bisnis. Dia mengaku mengedarkan barang haram itu sudah setahun. Biasanya dalam sekali transaksi uang yang didapat Rp 5 juta. ”Hasilnya untuk bayar utang,” ucapnya.

(mr/rul/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia