Jumat, 20 Sep 2019
radarmadura
icon featured
Features

Mengikuti Penjamasan Keris di Desa Aeng Tongtong

Sebar 1.000 Dupa Hilangkan Energi Negatif

09 September 2019, 07: 05: 59 WIB | editor : Abdul Basri

ASAP DUPA: Cinot M. Jailani meletakkan dupa di sekitar keris pada acara penjamasan di Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, kemarin.

ASAP DUPA: Cinot M. Jailani meletakkan dupa di sekitar keris pada acara penjamasan di Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, kemarin. (JUNAIDI PONDIYANTO/RadarMadura.id)

Share this      

Penjamasan pusaka sudah menjadi rutinitas warga Desa Aeng Tontong, Kecamatan Saronggi, Sumenep. Tradisi warisan leluhur itu tetap dilestarikan hingga sekarang. Apa saja yang dilakukan?

JUNAIDI PONDIYANTO, Sumenep, RadarMadura.id

NUANSA tradisional sangat kental pada acara haul akbar leluhur dan penjamasan keris di Desa Aeng Tontong, Kecamatan Saronggi, kemarin (8/9). Ratusan keris dengan aneka jenis dan ukuran itu dipajang di atas meja yang dijejer mulai dari pintu masuk. Musik dan tembang-tembang tradisional membuat suasana semakin sakral.

Janur kuning menghiasi pintu utama lokasi acara. Panitia berpakaian tradisional menyambut kedatangan para tamu. Dengan senyum dan sapa yang santun, mempersilakan pengunjung menempati kursi yang disediakan. Di awal acara pengunjung disuguhi dengan pertunjukan tari muwang sangkal.

Seseorang pria berambut panjang dan berpakaian nyentrik menarik perhatian. Namanya, Cinot M. Jailani, salah satu empu keris asal desa setempat. Pakaiannya serbahitam dan mennggunakan blangkon di kepalanya. Di sepuluh jarinya terdapat cincin akik. Dia juga membawa banyak dupa yang sudah dibakar.

Satu per satu dupa tersebut diletakkan di atas meja yang berisi keris. Tiap sudut lokasi acara dan pintu masuk juga diberi dupa. Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), dia mengatakan, sekitar 1.000 biji dupa disebar pada acara tersebut.

Selain sebagai wangi-wangian, aroma dupa dipercaya mampu menghilangkan energi negatif. Yakni, gangguan makhluk halus terhadap keberlangsungan acara. Asap dupa dipercaya juga mampu mendatangkan energi-energi positif atau sebagai pelindung. ”Dupa juga disebar di tempat yang dinilai berpotensi menjadi tempat energi negatif,” jelas Cinot.

Beberapa saat kemudian, ritual penjamasan dimulai. Menurut Cinot, penjamasan pusaka merupakan kegiatan penyiraman keris keraton dan keris leluhur Desa Aeng Tongtong. Air yang digunakan bukan air sembarangan. Tapi, diambilkan dari tujuh sumur tua yang ada di Kabupaten Sumenep. ”Minimal 300 tahun,” ungkapnya.

Air dari tujuh sumur tersebut juga dicampur dengan bunga tujuh rupa. Angka tujuh itu menurut Cinot memiliki makna filosofi. Yakni, sebagai lambang dari kekuasaan Allah SWT yang menciptakan langit sampai langit ketujuh.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Wawan Novianto menyampaikan, penjamasan pusaka keris merupakan tradisi para leluhur. Oleh karenanya, wajib dilestarikan oleh para generasi berikutnya. ”Satu barometer kesuksesan satu generasi adalah menyiapkan generasi berikutnya menjadi lebih baik dari hari ini,” terangnya.

(mr/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia