Jumat, 15 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Features
Cerita Moh. Solehuddin, Anggota Satpol PP

Hibahkan Sisa Umur untuk Mengabdi dan Berbakti kepada Negara

08 September 2019, 18: 30: 49 WIB | editor : Abdul Basri

SEMANGAT: Personel Satpol PP Pamekasan Moh. Solehuddin.

SEMANGAT: Personel Satpol PP Pamekasan Moh. Solehuddin. (MOH. ALI MUHSIN/RadarMadura.id)

Share this      

Loyalitas Moh. Solehuddin terhadap negara tidak terbantahkan. Dia tetap mengabdi meski sudah pensiun sejak sembilan tahun lalu.

PRENGKI WIRANANDA, Pamekasan, RadarMadura.id

KULIT keriput itu memenuhi wajah Moh. Solehuddin. Tubuhnya kurus. Tapi, badannya tetap tegap ketika berdiri. Itu menjadi ciri khas anggota Satpol PP Pamekasan itu. Meski sudah pensiun, namun semangat pengabdiannya terus berkobar.

Hoddin, begitu teman seperjuangannya memanggilnya. Dia lahir di Bumi Ratu Pamelingan pada 10 Juli 1954. Resmi menjadi pegawai negeri sipil (PNS) pada 1986. Empat tahun kemudian, ditugaskan di Satpol PP Pamekasan.

Sampai masa pensiun, Hoddin masih dipercaya untuk memperkuat organisasi perangkat daerah (OPD) yang bertugas menegakkan peraturan daerah (perda) itu. Semangat kerjanya luar biasa. Dia purnatugas sebagai abdi negara pada 2010 lalu.

Etos kerja yang baik tidak dimiliki semua orang. Bahkan, saat ini mungkin tergolong langka. Terbukti, pimpinan Satpol PP Pamekasan kala itu memutuskan Hoddin tetap dikaryakan. Sampai sekarang, pria asal Jalan Veteran, Kelurahan Barurambat Kota itu tetap aktif bekerja.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berbincang lama dengan Hoddin. Pria dengan tiga orang anak itu mengaku tidak sedikit pun semangat kerjanya kendur. Bahkan, selama dia masih dibutuhkan pemerintah dan memiliki cukup tenaga, selama itu pula dia akan mengabdi.

Bagi Hoddin, pengabdian adalah bagian dari rasa syukur atas nikmat dan kepercayaan dari pemerintah. Selama 24 tahun menjadi abdi negara, tidak dipungkiri banyak kekurangan.

Kakek empat cucu itu bertekad melengkapi kekurangan itu setelah pensiun. Dengan demikian, dia tidak pernah berpikir berhenti dari satpol PP. ”Siapa tahu kekurangan saya selama ini bisa dipenuhi sekarang,” katanya.

Hoddin mengatakan, banyak pengalaman selama menjadi ASN. Dia sempat didelegasikan mengikuti pelatihan khusus di Mojokerto. Kemudian, dia kerap bertatap langsung dengan bupati lantaran bertugas sebagai pengawal.

Pengalaman itu tidak akan pernah dilupakan. Bahkan, menjadi kenangan terindah semasa hidupnya. Hoddin tidak bisa dengan leluasa bertemu bupati. Sebab, sekarang ditugaskan di dalam ruangan. Yakni, menjadi staf tata usaha (TU).

Kunci ketelatenan menjadi abdi negara bagi Hoddin sangat sederhana. Yakni, cukup bermodal ikhlas. Setiap pekerjaan yang didasari ikhlas, diyakini bisa dijalankan dengan baik dan nyaman tanpa beban.

Sampai detik ini, rasa ikhlas itu tidak pernah surut. Apa pun pekerjaan yang ditugaskan, dikerjakan dengan rasa ikhlas. ”Kalau bekerja tidak dengan rasa ikhlas, hasilnya tidak akan baik,” tutur kakek 65 tahun itu.

Hoddin berharap, seluruh ASN memiliki semangat kerja tinggi. Pengabdian kepada pemerintah harus diniatkan sebagai ibadah. Tidak ada alasan bagi abdi negara bermalas-malasan.

Sebab, pemerintah memberi fasilitas sangat banyak kepada ASN. Yakni, mulai dari gaji hingga fasilitas lainnya. Dengan demikian, dia mengajak seluruh abdi negara bekerja dengan baik, giat, tekun, profesional, dan ikhlas.

(mr/han/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia