Jumat, 20 Sep 2019
radarmadura
icon featured
Kedai

Menjemput Paket

Oleh Lukman Hakim AG.*

04 September 2019, 15: 42: 39 WIB | editor : Abdul Basri

DIKELUHKAN: Karyawan J&T Express di Jalan Halim Perdanakusuma, Sumenep, sedang mengecek nomor resi konsumen Senin siang (2/9).

DIKELUHKAN: Karyawan J&T Express di Jalan Halim Perdanakusuma, Sumenep, sedang mengecek nomor resi konsumen Senin siang (2/9).

Share this      

”Mohon maaf untuk sementara tidak bisa mengambil paket ke kantor, dikarenakan overload! Mohon bersabar yaaaa…. Jangan lupa tersenyum”.

BEGITU tulisan di balik layar monitor komputer karyawan J&T Express di Jalan Halim Perdanakusuma, Sumenep. Tulisan pada kertas itu terbaca jelas bagi setiap orang yang datang ke kantor itu. Tulisan tersebut menghadap ke luar atau ke kursi pengunjung yang datang.

Namun, tulisan dengan huruf balok semua itu tidak membuat saya surut. Saya penasaran karena kiriman majalah dari Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) belum diterima. Padahal, paket itu dikirim pekan terakhir Juli 2019. Pada hari yang sama, BBJT juga mengirimkan paket untuk beberapa kawan di Sumenep.

Dari beberapa tujuan itu, nasib paket atas nama saya tidak baik. Tidak sampai-sampai. Nasib serupa menimpa Suhartatik, dosen STKIP PGRI Sumenep. Juga Matroni.

Informasi dari kawan di BBJT, semua paket sudah sampai ke tujuan masing-masing. Paket untuk Suhartatik diterima Edi Saromban. Tapi, Suhartatik tidak tahu orang itu dan paket belum dia terima.

Saya semakin penasaran. Pada 25 Agustus 2019, saya datangi kantor J&T Express di Jalan Trunojoyo. Di kantor timur jalan itu saya mendapat jawaban kurang lebih begini: sekarang J&T overload, karyawan ada yang kecelakaan setelah menikah.

Yang jelas, paket saya belum jelas ada di mana. Saya tidak puas dengan jawaban itu karena paket ini sudah lebih sebulan! Terpaksa pulang dengan kecewa.

Senin siang (2/9) saya kembali datang ke kantor J&T Express di Jalan Trunojoyo. Setelah mengecek resi, diketahui bahwa paket untuk saya sudah sampai, katanya. Penerima atas nama Lukman. Padahal, saya sendiri Lukman, nama yang dituju paket tersebut. Hingga saat itu saya belum pernah menerima.

Saat itu juga saya tanya paket untuk Suhartatik. Keterangannya, paket sudah sampai. Diterima Andi Saromban. Tapi, Suhartatik tidak tahu orang itu dan paket tidak sampai.

Setelah beberapa saat, saya disarankan ke J&T Express di Jalan Halim Perdana Kusuma. Di tempat itu, kata karyawan yang menemui saya, ada pimpinannya. Segera saya meluncur.

Sampai di J&T Express di Jalan Halim Perdanakusuma, saya dilayani perempuan yang saat itu ada di depan komputer meja utara. Cek resi atas nama saya, lalu barang diambil ke dalam oleh karyawan lain, laki-laki. Cek resi kedua atas nama Suhartatik. Barang tidak segera ditemukan, meski akhirnya juga ada.

Lalu, saya sampaikan kemungkinan paket serupa untuk nama-nama yang lain. Keluarlah paket kiriman serupa dengan pengirim di luar paket atas nama Wahyu Raya. Dua paket itu atas nama Matroni dan Mat Toyu. Keduanya kawan saya di Kecamatan Gapura.

Alasan overload juga disampaikan oleh karyawan berjilbab itu. Juga, katanya, karena ada kurir yang berhenti mendadak. Semua itu saya sanggah dengan argumen bahwa ini kiriman lebih sebulan. Dan yang menjengkelkan, di data online tertera keterangan bahwa paket itu sudah sampai dan yang menerima adalah saya. Padahal, saya belum menerima. Yang paling menjengkelkan, perempuan itu bilang agar saya ganti jasa ekspedisi lain selain J&T.

Beberapa pertanyaan itu saya sampaikan ulang kepada Tim Leader J&T Sumenep-Pamekasan Angger yang kemudian menemui saya. Dia menerangkan, kurir yang bertugas mengantarkan paket-paket itu sudah dikeluarkan karena bekerja di luar SOP. ”Ini baru ketahuan saat bapak ke sini,” katanya.

Angger menyatakan, paket memang sempat tertumpuk. Dia memohon maaf belum sempat mengecek. Saat ini J&T sudah lancar kembali. Tidak ada pengiriman yang ngadat. ”Jadi, dari pihak J&T mohon maaf. Nanti ke depannya akan menjadi evaluasi agar tidak terulang lagi,” jawaban itu tentu lebih adem daripada pernyataan karyawan perempuan yang menyarankan saya untuk beralih jasa pengiriman.

Inti penjelasan Angger adalah kelalaian kurir (sprinter), tidak sesuai SOP, koreksi atau evaluasi, minta maaf, menjanjikan pelayanan secara profesional.

Pelajaran dari kasus ini, pengguna jasa berhak bertanya. Apalagi jika ada hal yang tidak wajar. Waktu pengiriman lama dan tidak sampai-sampai. Pelajaran kedua, agar perusahaan memastikan kinerja karyawan profesional. Jika bekerja tidak sesuai SOP, justru akan merugikan masyarakat (konsumen) pengguna jasa.

Bagaimana seandainya paket itu adalah barang dagangan seperti milik keluarga saya yang juga ditunggu pembeli? Betapa saya sudah tidak dipercaya oleh pembeli karena barang tak kunjung datang, sementara sudah bayar uang muka. Bagaimana jika paket yang tidak jelas nasibnya itu berisi barang sangat bernilai?

Pernah mengalami begitu?

Jual beli online yang terus berkembang menuntut ketersediaan jasa pengiriman. Dulu waktu saya kecil hanya mengenal Pos. Saat ini bukan hanya PT Pos Indonesia dan J&T Express. Mau tidak mau perusahaan jasa pengiriman memastikan karyawan bekerja profesional.

Jika keseringan membuat konsumen kecewa, itu tanda-tanda perusahaan sedang sakit. Jangan sampai paket sampai terlambat. Jangan biasakan menitipkan barang kepada orang lain kalau bukan anggota keluarga nama penerima barang. Apalagi tidak jujur menyatakan barang sampai, padahal belum di tangan nama tujuan.

Tulisan huruf besar di balik layar monitor komputer itu tidak mutlak wajib ditaati. Jika paket Anda bermasalah, baik karena telat atau rusak, silakan datangi kantor jasa pengiriman terdekat. Tanyakan alasan kepada karyawan. Jangan tahan dengan menggerutu agar tidak jadi jerawat, hehe. Menjemput paket tidak berarti menjemput maut.

Saya yakin perusahaan jasa pengiriman didirikan untuk memberikan pelayanan. Pelayan konsumen. Bukan untuk membuat konsumen kecewa. 

*)Wartawan Jawa Pos Radar Madura

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia