Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Features

Bambang Eko Priyanto, Pemuda 30 Tahun yang Terbaring Lemas sejak Lahir

Hidup Kekurangan, Berharap Uluran Tangan

28 Agustus 2019, 06: 00: 59 WIB | editor : Abdul Basri

TAK BERDAYA: Bambang Eko Priyanto terbaring lemas di rumah familinya di Dusun Nangger, Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan, kemarin.

TAK BERDAYA: Bambang Eko Priyanto terbaring lemas di rumah familinya di Dusun Nangger, Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan, kemarin. (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

Share this      

Warga miskin di Pamekasan belum sepenuhnya mendapat perhatian pemerintah. Salah satunya, Bambang Eko Priyanto. Dia terbaring lemas sejak lahir.

PRENGKI WIRANANDA, RadarMadura.id, Pamekasan

TERIK menyelimuti langit Dusun Nangger, Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan. Sejumlah warga berkumpul di rumah menghadap selatan. Rumah tersebut dekat dengan pusat pemerintahan.

Hanya butuh waktu kurang dari 10 menit dari kantor bupati Pamekasan dan Pendapa Ronggosukowati untuk sampai di lokasi itu. Secara geografis yang dekat itu seharusnya bantuan pemerintah sampai.

Namun, fakta di lapangan berbeda. Salah satu penghuni rumah bercat biru itu menderita lumpuh layu sejak lahir. Usianya genap 30 tahun. Dia tidak pernah berobat lantaran kekurangan biaya.

Pemuda bernama lengkap Bambang Eko Priyanto itu terbaring lemas. Tubuhnya mengecil. Kaki, tangan, dan badannya kurus. Tidak ada satu pun kata keluar dari mulut pemuda kelahiran 1989 itu. Hanya kedua matanya yang seolah ingin berkomunikasi, tapi tak berdaya.

Jangankan berdiri, menggerakkan kakinya saja dia kesulitan. Tenaganya hanya mampu melahirkan gerakan kecil. Gerakan yang membuat empati setiap pasang mata yang melihat pemandangan itu.

Bambang lahir dari rahim Sahwati, 55. Semula, perempuan yang bekerja membuat keripik tette itu merawat buah hatinya bersama suami tercinta, Amin. Namun, kepala keluarga itu lebih dulu menghadap Sang Pencipta sekitar 10 tahun lalu.

Kepergian suaminya itu sekaligus menjadi awal penderitannya. Sahwati harus menjadi tulang punggung keluarga. Ironisnya, dia tidak bisa bekerja penuh waktu di luar rumah. Sebab, ada buah hati yang setiap keperluannya harus dibantu.

Sejak tahun lalu, Sahwati memutuskan berkumpul dengan sanak saudaranya. Sebab, dia tidak mampu menanggung beban hidup. ”Kasihan, hidup sendirian harus merawat anaknya yang lumpuh layu,” kata Timbar, kerabat Sahwati.

Timbar mengatakan, kehidupan Sahwati sangat miris. Dia harus menjadi tulang punggung keluarga sekaligus merawat anaknya yang lumpuh sejak lahir. Penghasilannya setiap hari tidak lebih dari Rp 15 ribu.

Sementara biaya hidup tinggi. Akibatnya, ketika kekurangan pangan, dia meminta bantuan sanak saudara. Sejauh ini, belum ada perhatian pemerintah terhadap nasib ibu dengan satu anak itu.

Sejak beberapa tahun terakhir, sejumlah pegawai pemerintah berkunjung. Kondisi Bambang dan Sahwati difoto. Namun, setelah itu, tidak ada hasil. Si pegawai tidak kembali. Justru, ada orang lain yang juga berkunjung dan melakukan hal serupa.

Padahal, Sahwati sangat membutuhkan uluran tangan. Dia tidak sanggup menanggung biaya hidup yang sangat tinggi. ”Ayo, Pak Bupati, ketahuilah, ini ada warganya yang miskin dan sakit sejak lahir butuh uluran tangan,” katanya.

Anggota DPRD Pamekasan Ismail menyatakan, pemerintah harus mengevaluasi sistem pengentasan kemiskinan. Pendataan harus dilakukan secara optimal agar setiap warga miskin terakomodasi bantuan.

Pemkab Pamekasan bisa mengambil contoh dari kabupaten lain. Salah satunya, Banyuwangi. Kabupaten yang dipimpin Azwar Anas itu memiliki cara tersendiri dalam memperhatikan warga miskin. Salah satunya, setiap hari ada program rantang kasih.

Program tersebut memberikan makanan bagi warga miskin yang membutuhkan bantuan. Selain program itu, pemerintah setempat merealisasikan program yang sangat menyentuh penanganan kemiskinan. ”Harus ada pembenahan sistem penanganan kemiskinan,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Bappeda Pamekasan Taufikurrachman mengatakan, pemerintah mendata kemiskinan secara optimal. Pemerintah menyiapkan anggaran khusus untuk pendataan tersebut.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia