Senin, 16 Sep 2019
radarmadura
icon featured
Politik Pemerintahan

Wajah Baru Wakil Rakyat 2019–2024, Tiga Srikandi Masuk Parlemen

25 Agustus 2019, 19: 49: 03 WIB | editor : Abdul Basri

SAKRAL: Tiga wajah srikandi saat mengikuti prosesi pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan di Gedung DPRD Bangkalan kemarin.

SAKRAL: Tiga wajah srikandi saat mengikuti prosesi pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan di Gedung DPRD Bangkalan kemarin. (DAFIR FALAH/RadarMadura.id)

Share this      

Kursi DPRD Bangkalan dan Sampang banyak dihuni pendatang baru. Di Kota Salak ada tiga perempuan yang masuk parlemen periode 2019–2024. Ketua dewan sementara juga bukan incumbent. Yakni, Muhammad Fahad. Sementara di Kota Bahari, Fadol didapuk ketua DPRD sementara. Dia juga pendatang baru.

SEBANYAK 50 anggota DPRD Bangkalan masa jabatan 2019–2024 dilantik dan diambil sumpah jabatan kemarin (24/8). Mayoritas anggota dewan kali ini diisi wajah baru. Bahkan, lebih separo dari jumlah sebanyak 50 orang.

Dari sekian deretan para wakil rakyat, terdapat beberapa wajah srikandi menuju parlemen. Bahkan, putri dari mantan bupati Bangkalan Fuad Amin juga melenggang mulus sebagai anggota legislatif dari dapil VI (Burneh dan Tanah Merah) (selengkapnya lihat grafis).

Tiga srikandi parlemen yang mengemban amanah sebagai wakil rakyat itu ternyata memiliki latar belakang dari keluarga politikus. Misalnya Saudah Fuad. Perempuan kelahiran 14 Mei 1989 itu merupakan putri dari tokoh berpengaruh di Kabupaten Bangkalan. Dia anak keempat dari mantan bupati Fuad Amin.

Kemudian, Nur Aini. Dalam tubuhnya mengalir darah politik sang ayah. Kader Partai Berkarya itu putri dari mantan Ketua Komisi A DPRD Bangkalan Kasmu.

Begitupun Ambar Pramodya Wardhani. Politikus Partai Gerindra itu merupakan anak dari Kepala Desa Baipajung Tanah Merah As’ad Abdul Haris Nasution.

Saudah Fuad mengutarakan, tertarik terjun ke dunia politik bukan karena sang ayah sebagai politisi. Tetapi, karena memang sejak kecil bercita-cita ingin jadi wakil rakyat. Sebab, dia mengaku mau mengabdi melalui jalur parlemen.

”Jujur saya ingin jadi wakil rakyat karena itu cita-cita saya sejak kecil. Orang tua sangat mendukung dan memberikan izin,” kata dia saat ditemui usai pelantikan kemarin.

Menurut dia, melalui jalur parlemen ini lebih mudah untuk membantu masyarakat. Terutama, kaum perempuan yang dipandang sebelah mata dalam urusan pemerintahan. Sebab itu, pihaknya maju dengan serius melalui kendaraan PDIP di dapil VI, yakni Tanah Merah dan Burneh.

”Alhamdulillah terpilih. Maka niat awal ingin mengabdi untuk masyarakat,” ujarnya.

Adik kandung dari R. Makmun Ibnu Fuad itu mengatakan, sebagai wakil rakyat dari perempuan. Semata-mata juga ingin menujukkan bahwa perempuan juga bisa. ”Jangan takut untuk bermimpi. Terutama kaum milenial dan anak muda milenial,” tuturnya.

Kehadiran dirinya di parlemen tentu bisa membawa semangat baru untuk kalangan perempuan. Selama ini pandangan sebagian orang bahwa perempuan tidak bisa apa-apa, itu tidak relevan lagi.

”Saya sampaikan, perempuan itu bukan sekadar jadi ibu rumah tangga. Tetapi, juga bisa ikut andil dalam memberikan kontribusi untuk Bangkalan,” terangnya.

Saudah menjelaskan, pengabdian itu tidak ada batasan antara laki-laki dan perempuan. Selama mampu dan ingin berguna kepada bangsa dan negara, tancapkan niat itu setinggi langit. ”Karena tidak ada yang tidak mungkin. Selama mau berusaha,” jelasnya.

Dia menyatakan, menjadi wakil rakyat dengan usia terbilang muda harus dimaknai sebagai spirit. Selain itu, orang tua mendukung penuh atas pilihan yang diambilnya. ”Jadi wakil rakyat niatkan untuk mengabdi dan beribadah,” sebutnya.

Sementara itu, Ambar Pramudya Wardhani mengaku jadi wakil rakyat semata-mata untuk menampung aspirasi perempuan. Supaya emak-emak ada keterwakilan. Apalagi, tidak sedikit kaum perempuan mendapatkan perlakuan diskriminatif.

”Kaum perempuan banyak mendapatkan kekerasan, KDRT, dan lain-lain,” katanya.

Ambar mengungkapkan, hal lain yang ingin diperjuangkan di parlemen, yakni bagaimana ada pemahaman konkret yang bisa tersampaikan kepada kaum emak-emak. ”Di desa-desa kan banyak pernikahan dini. Itu saya akan perjuangkan untuk memberikan pendidikan melalui jalur ini,” pungkasnya.

(mr/daf/onk/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia