Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Kedai

Catatan GM Jawa Pos Radar Madura: Identitas

Oleh Mohammad Tojjib*

27 Juli 2019, 16: 04: 01 WIB | editor : Abdul Basri

Catatan GM Jawa Pos Radar Madura: Identitas

Share this      

MENGAPA Radar Madura? Ya...Madura. Sebagai identitas. Identitas kawasan. Identitas etnis. Juga identitas budaya. Dan identitas sosial. Tentu ada ceritanya.

Kita kembali pada 20 tahun lalu. Kala Radar Madura lahir di Pulau Madura. Barangkali hanya segelintir orang yang tahu ceritanya, sebelum Radar Madura lahir pada 27 Juli 1999 dan di masa-masa awal. Saat itu di redaksi hanya empat wartawan: Hambali Rasidi (ham), Rasul Junaidy (sul), Taufiq Risqon (fiq), dan Risang Bima Wijaya (ris). Serta pemimpin redaksi: Ishak Bahri (ib).

Alhamdulillah, empat pejuang-pelopor Radar Madura ini sampai sekarang masih tinggal di Madura. Masih cinta Madura he...he...he....

Dua hari lalu ham mengirim tulisan ke saya. Dia menceritakan perjuangan membangun Jawa Pos Radar Madura (selanjutnya saya sebut Radar Madura). Saya pun sangat mengapresiasi dan berjanji akan membagikan cerita itu kepada pembaca koran ini. Meskipun tidak semuanya saya kutip karena lumayan panjang juga. Pangapora, ham.

Ham bercerita: sejak awal 1999, di awal Reformasi, Jawa Pos melahirkan koran-koran lokal di sejumlah eks keresidenan di Jawa Timur. Mulai Radar Kediri, Radar Madiun, Radar Jember, Radar Banyuwangi, Radar Bojonegoro, hingga Radar Madura. Ketika itu, mencari wartawan di Madura sesuai selera Jawa Pos ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Efeknya, Radar Madura masuk paling buncit terbit dan beredar di tengah masyarakat Madura.

Setelah susah payah, akhirnya direkrutlah empat wartawan untuk mengisi di empat kabupaten di Madura. Rapat perdana digelar Sabtu, 24 Juli 1999, di kantor pusat Radar Madura di Bangkalan. Kemudian disepakati, Senin, 26 Juli, Radar Madura terbit perdana. Tiap wartawan diberi tugas mengirim tiga berita plus foto. Empat wartawan itu langsung menyatakan: sanggup!

Tanpa bekal apa pun. Kecuali film untuk mengambil foto (saat itu belum ada kamera digital). Teknis menulis dan mengirim berita diserahkan ke masing-maisng wartawan. Untuk terbitan perdana, ham diberi tugas mengambil foto stadion Bangkalan yang kumuh. Dia pun jepret sana-sini. Lalu, film dibawa ke Graha Pena, Surabaya, untuk dicetak. Keesokan harinya, Minggu siang, semua wartawan harus mengirim berita. Ham tugas di Pamekasan. Dia bingung, karena tak tahu Pamekasan sama sekali. Dia lahir di Pulau Sapudi, Sumenep, dan selama 4,5 tahun di Surabaya. Tapi, komitmen untuk mengirim tiga berita ke redaksi harus dipenuhi.

Ceritanya, ham jalan kaki ke Polres Pamekasan. Eh..ternyata ruang Kasatreskrim tutup (pas Minggu hehehe...). Dia pun berinisiatif menulis berita mahasiswa. Mendatangi markas PMII. Sekaligus menumpang komputer untuk mengetik dan print. Hasil print dikirim via faximile ke Graha Pena. Tugas pertama selesai. Dia merasa puas, lalu bersantai di kosan. Habis Isya, Pemred telepon: Senin Radar Madura tidak bisa terbit. Kiriman berita dari Madura minim untuk terbit empat halaman. ”Tambah foto hasil jepretan kamu gosong,” ucap Pemred dari balik telepon kepada ham.

Kendala lain, di Sampang, kantor pemerintah tutup. Jadi, tidak bisa menumpang mengirim berita via faximile. Juga tidak ada wartel yang nyediakan faximile. Pemred minta Senin pengiriman berita plus foto diperbanyak.

Selasa, 27 Juli 1999, Radar Madura terbit perdana. Tiga halaman. Sajian beritanya keluar dari arus mainstream. Pembaca dibuat kagum. Tiga halaman itu berisi berita kasus, kontroversi, dan hiburan. Itulah perjuangan generasi awal. Sebagai spirit yang telah menjadi standar baku bagi jajaran redaksi dan divisi lainnya di Radar Madura.

Menurut ham, Radar Madura lahir dan melekat di hati masyarakat Madura hingga berumur 20 tahun tak lepas dari terobosan Jawa Pos. Dahlan Iskan sebagai nakhoda saat itu jeli mencium pemberlakuan Undang-Undang Otonomi Daerah. Kekuasaan yang semula terpusat di Jakarta bergeser ke daerah.

Karena itu pula, tagline Radar Madura saat itu Mengawal Reformasi dan Otonomi Daerah. Yang kemudian berubah menjadi: Korannya Orang Madura sebagai penegas bahwa koran ini adalah milik Madura. Perkuat identitas sebagai koran lokal.

Kenapa Radar Madura? Ya...Madura. Sebagai lokalitas. Sebagai identitas. Radar Madura merupakan perusahaan media dengan area edar Madura, dalam lingkup identitas budaya. Koran ini berperan sebagai komunikasi yang menggabungkan individu, komunal, dan publik. Juga telah menjelma sebagai penghubung antara individu, kelompok, pemerintah, dan masyarakat Madura. Berita dan informasi yang dikemas dalam kata-kata dan kalimat merupakan mata rantai yang menyebabkan pola hubungan ini terjadi dalam konteks kemaduraan. Dalam sebuah identitas kawasan. Pola komunikasi seperti inilah yang memungkinkan Radar Madura bisa diterima dan melekat pada masyarakat Madura.

Sebagai koran yang berada di tengah-tengah masyarakat Madura, segala proses produksi Radar Madura tidak dapat lepas dari kontrol budaya. Proses pembentukan identitasnya tetap berada dalam kontrol budaya masyarakatnya. Itulah yang membedakan koran lokal dengan koran lokal lainnya di beda kawasan. Juga yang membedakan dengan koran nasional. Radar Madura bisa bertahan dan terus berkembang karena bisa mengidentifikasi dirinya sebagai Madura. Strategi ini memang harus dilakukan, tentunya dengan tidak meninggalkan profesionalitas, independensi, dan memberikan informasi yang baik dan jujur kepada masyarakat.

Perjalanan Radar Madura tentu banyak riaknya. Tidak selalu mulus. Banyak juga yang seru. Sebagaimana yang diceritakan ham di awal tulisan ini. Perusahaan media ini mencari informasi untuk dijadikan berita. Mencari omzet iklan, bukan menghamburkan uang (untuk biaya operasional). Mecari banyak kolega, menghindari musuh. Meskipun banyak juga yang tidak suka berita yang terbit. Mengembangkan oplah sebanyak mungkin di tengah persaingan dengan media (lokal) lainnya, termasuk dengan online.

Nah, arena ”pertempuran” ini yang menjadi tantangan sejak awal hingga masa mendatang. Arena ibarat sebagai game (Bourdieu, 1990). Dalam game terdapat aturan permainan yang diterima dan yang berbeda antara satu permainan dengan permainan lain. Aturan yang berbeda itu membuat struktur dan logika permainan juga berbeda. Aturan-aturan yang tidak tertulis itu beroperasi dalam mengatur perilaku serta menentukan apa yang masuk akal dan tidak masuk akal.

Arena merupakan tempat kekuatan yang di dalamnya terdapat upaya perjuangan untuk memperebutkan sumber daya (modal). Juga demi memperoleh akses di sebuah arena untuk bisa bertahan atau berkembang. Pertarungan dan perjuangan dalam arena adalah suatu kewajaran. Keduanya muncul sebagai konsekuensi dari praktik-praktik yang terjadi di dalam arena.

Pada akhirnya, pertarungan dalam suatu arena untuk mendapat justifikasi dan legitimasi. Suatu pengakuan dan penerimaan dari masyarakat. Radar Madura yang telah berumur 20 tahun ini sebenarnya telah diterima oleh masyarakat Madura. Apakah pertarungan ini sudah berakhir? Pastinya: tidak. Karena pertarungan ke depan bahkan akan lebih menantang dengan semakin terbukanya informasi dan makin banyaknya media yang muncul.

Kami harus yakin. Karena kami punya modal: kepercayaan, legitimasi, dan profesinalisme. Kami masih bisa menjaga kepercayaan masyarakat Madura untuk memberikan informasi yang baik, benar, dan bermanfaat. Ini sekaligus legitimasi secara tidak langsung dari masyarakat. Legimitiasi secara formal, Radar Madura telah lolos verifikasi administrasi sebagai perusahaan media dari Dewan Pers. Profesionalime dalam jurnalistik tetap menjadi ”darah” dalam produksi berita.

Radar Madura akan selalu beradaptasi dan mengindentikkan diri sebagai Madura. Harus bisa menyampaikan keinginan dan harapan masyarakat Madura. Pada acara Radar Madura Bersalawat Sabtu (20/7) di Pamekasan, kami diberi amanat untuk menjadi media massa yang bisa mendorong persatuan, memberikan kesejukan, dan kedamaian. Salawatan di jalan depan kantor Pemkab Pamekasan malam itu dihadiri sejumlah ulama, bupati, forkopimda, komunitas, pimpinan organisasi, dan ribuan warga. Amanat dari ribuan warga itu tentu harus kami laksanakan. Hal ini sesuai dengan tema HUT Ke-20 Radar Madura: Jamin Profesionalitas, Sajikan Berita Berkualitas.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, bekerja sama, juga mengkritik Radar Madura yang telah bersama hingga 20 tahun. Terima kasih kepada semua mitra kami, pemerintah kabupaten, DPRD, perbankan, perguruan tinggi, sekolah, para stakeholder, para agen Jawa Pos Radar Madura, dan masyarakat Madura yang telah bersama-sama dengan kami untuk memajukan Madura.

Radar Madura akan selalu bersama masyarakat Madura. 

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia