Sabtu, 24 Aug 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

27 Juli Itu Berdiri Pesantren Jurnalistik di Madura

Catatan: Hambali Rasidi

27 Juli 2019, 14: 30: 34 WIB | editor : Abdul Basri

27 Juli Itu Berdiri Pesantren Jurnalistik di Madura

Share this      

KEHADIRAN Radar Madura sempat menyentak publik Madura. Maklum, ketika itu, tiada koran harian yang terbit menyuguhkan aneka berita Madura secara masif. Kalaupun ada, hanya satu atau dua berita. Itu pun berita berskala nasional atau regional.

Radar Madura kian seksi di hadapan pembaca karena include koran Jawa Pos sehingga tercipta magnet. Banyak orang pingen nongol di halaman koran Jawa Pos. Walau tak punya news value.

Radar Madura lahir dan melekat di hati pembaca Madura hingga berumur 20 tahun, tak lepas dari terobosan manajemen koran Jawa Pos. Dahlan Iskan sebagai nakhoda jeli mencium pemberlakuan undang-undang otonomi daerah. Kekuasaan yang semula terpusat di Jakarta bergeser ke tiap kabupaten/kota se-Indonesia.

Hambali Rasidi

Hambali Rasidi

Sejak awal 1999, manajemen Jawa Pos mulai melahirkan koran-koran lokal di sejumlah eks keresidenan. Di Jawa Timur, mulai beredar Radar Kediri, Radar Malang, Radar Jember, Radar Banyuwangi, hingga Radar Madura.

Ketika itu, mencari wartawan di Madura sesuai selera Jawa Pos ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Efeknya, Radar Madura masuk paling buncit terbit dan beredar di tengah pembaca.

Halaman Jawa Pos berulang kali pasang pengumuman rekrutmen wartawan untuk ditempatkan di Madura. Peminatnya nihil. Kalau ada yang melamar, tergolong pelarian. Seperti, saya...ehhe....

Karena tak sesuai target mencari empat wartawan untuk tiap kabupaten, Ishak Bahri (ib) wartawan Jawa Pos yang diberi tanggung jawab, ambil jalan pintas. Menghubungi kolega sesama wartawan untuk direkrut jadi wartawan Radar Madura. Itu pun baru dapat satu orang. 

Lihat iklan rektrumen, saya antar lamaran ke Graha Pena. Ditemui Mas ib. Pria kelahiran Bangkalan itu cerita kalau susah nyari wartawan di Madura.

Jawa Pos selalu tanya, kapan Radar Madura terbit? Lalu, ib ambil langkah nekat. Sabtu, 24 Juli 1999, diadakan pertemuan empat wartawan di kantor pusat Radar Madura. Ditemani Manajer Pemasaran Jawa Pos Wilayah Madura Sukron.

Dalam pertemuan itu disepakati Senin, 26 Juli, Radar Madura terbit perdana. Tiap wartawan diberi tugas mengirim tiga berita plus foto. Empat wartawan itu langsung menyatakan sanggup.

Tanpa bekal apa. Kecuali film foto untuk bahan ambil gambar. Teknis menulis dan mengirim berita diserahkan ke masing-maisng wartawan. Khusus hasil jepretan gambar dikrim via bus. Tujuan pos polisi Bangkalan. Lalu, sore atau maghrib kurir ambil di pos polisi yang tak jauh dengan kantor pusat Radar Madura.

Untuk terbitan perdana, saya diberi tugas ambil foto stadion Bangkalan yang kumuh. Untuk dijadikan foto A alias foto utama. Maka saya ambil jepret sana sini. Lalu, film foto dikasih kepada Mas ib. Film hasil jepretan dibawa ke Graha Pena untuk dicetak. Lalu, di-scan ke komputer sebelum di-layout halaman.

Keesokan harinya, Minggu siang, semua wartawan harus mengirim berita. Saya bertugas di Pamekasan. Saya bingung. Mau menulis apa. Saya tak tahu teritorial Pamekasan. Saya lahir di Pulau Sapudi, Sumenep. Selama 4,5 tahun di Surabaya. Tapi, komitmen untuk mengirim tiga berita ke redaksi harus dipenuhi.

Saya jalan kaki ke polres. Eh, ternyata ruang Kasat serse tutup. Lalu, saya ambil inisiatif menulis berita mahasiswa. Saya menemui markas organisasi mahasiswa, PMII Pamekasan. Dari sini saya banyak tahu soal berita apa saja di Pamekasan.

Setelah numpang komputer untuk ngetik, lalu di-print. Hasil print dikirm via faximile ke Graha Pena, Surabaya. Batin terasa puas. Tugas pertama selesai. Saya santai di kosan. Habis Isya Mas ib telepon. Senin Radar Madura tidak bisa terbit.

Sang Pemred Radar Madura ini cerita, kiriman berita dari Madura minim untuk terbit empat halaman. ”Tambah foto hasil jepretan kamu, gosong,” ucap ib dari balik telepon.

Saya diam. Dan baru sadar jika kamera yang digunakan, rusak...hehe.

Kendala lain, ib cerita kalau di Sampang tidak ada kantor pemerintah yang buka untuk numpang mengirim via faximile. Waktu itu, gak ada wartel yang nyediakan faximile, katanya.

Mas ib minta Senin perbanyak mengirim berita. Termasuk foto untuk pemanis berita.

Senin, 26 Juli, saya memperkenalkan diri sebagai wartawan Radar Madura. Narasumber bilang tidak ada korannya. Agak susah memperkenalkan wartawan media yang belum pernah terbit dan hadir kepada pembaca. Tapi, saya jelaskan, Radar Madura akan terbit di halaman dalam Jawa Pos.

Selasa, 27 Juli 1999, Radar Madura terbit perdana. Sajian beritanya keluar dari arus mainstream. Pembaca dibuat berdecak kagum. Tiga halaman itu berisi berita kasus, kontroversi, dan hiburan.

Mas ib yang juga redaktur hiburan di Jawa Pos menyuguhkan berita yang enak dibaca dan menghibur. Sesekali, buat pembaca kagum.

Mas ib tiap hari tanya berita apa yang akan ditulis. Jika disebutkan tapi tak sesuai selera, Mas ib bilang, ”Apa gak ada berita lain?” Saya bilang gak tahu. Mas ib telaten menunjukkan bentuk berita daerah luar yang ada di Jawa Pos sebagai referensi.

Mas ib juga mengajari menulis berita dan feature yang disenangi pembaca. Termasuk resep nulis berita satu Minggu dalam topik yang sama sehingga menyedot perhatian untuk terus baca tulisan itu.

Pelajaran yang masih membekas hingga saat ini, ketika saya diberi kesempatan rapat bulanan dengan semua manajemen Radar Timur di Graha Pena, Surabaya. Sang mentor, Dahlan Iskan, memberikan berbagai penjelasan cara mengelola media dan menulis berita yang disukai pembaca.

Resign dari Radar Madura sejak 2002, ilmu Mas ib dan Dahlan Iskan ternyata jadi bekal untuk bertahan hidup hingga saat ini.

Saya merasa beruntung menjadi salah satu santri jurnalistik di Pesantren Radar Madura.

Selamat Ulang Tahun Ke-20 Radar Madura. Media Pelopor Kebangkitan Jurnalistik di Madura.

Pesona Satelit, Juli 2019

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia