Minggu, 25 Aug 2019
radarmadura
icon featured
Madura Events

HUT JPRM Kembali Suguhkan Konsep Carancang

Tabun Educulture Art Libatkan Banyak Seniman

26 Juli 2019, 15: 13: 20 WIB | editor : Abdul Basri

KLASIK: Beberapa seniman mempersiapkan lokasi pertunjukan Carangcang II di Tabun Educulture Art, Desa Aeng Panas, Pragaan, Sumenep, kemarin.

KLASIK: Beberapa seniman mempersiapkan lokasi pertunjukan Carangcang II di Tabun Educulture Art, Desa Aeng Panas, Pragaan, Sumenep, kemarin. (ZAINAL ABIDIN/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Malam puncak resepsi Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-20 Jawa Pos Radar Madura (JPRM) kembali memilih Tabun Educulture Art sebagai venue. Seperti tahun lalu, kegiatan tersebut mengangkat konsep Carangcang II di potensi wisata di Desa Aeng Panas, Kecamatan Pragaan, itu.

Ragam kesenian bakal tersaji pada perayaan besok malam (27/7). Ada beberapa karya seni yang akan dipersembahkan. Di antaranya, pameran batik, seni instalasi, parade musikalisasi puisi, dan teater.

Pangrabat Tabun Educulture Art Turmidzi Djaka menyampaikan, konsep carangcang digagas pada HUT Ke-19 JPRM. Kemudian kembali diangkat untuk menjadi konsep perayaan HUT tahun ini.

Carangcang merupakan konsep pertunjukan yang khusus digelar dalam rangka HUT JPRM. Tahun ini merupakan pertunjukan Carangcang II. Kata carangcang diambil dari filosofi carang (Madura, Red) dan rancang.

Carang memiliki arti ranting bambu dan rancang bermakna daya kreasi ataupun daya cipta yang diberikan Allah kepada setiap makhluk. Ranting memang bukan batang utama. Namun dari ranting, dedaunannya bisa menaungi dan buahnya bisa dimanfaatkan.

”Hubungannya dengan media massa, khususnya JPRM apa? Yakni melalui konsep carangcang, Radar Madura diharapkan bisa memberikan manfaat. Pencerahan informasi bagi masyarakat. Berguna,” ucapnya kemarin (25/7).

Pada dasarnya, carangcang merupakan daya kreasi dalam merayakan HUT JPRM yang luar biasa. Sebuah upaya menyusun ragam ranting menjadi satu harmoni. Di dalamya ada kreasi, intuisi, dan inovasi.

Ada beberapa perbedaan sajian dalam Carangcang II. Yang jelas, Tabun Educulture Art berupaya memberikan yang terbaik. Nuansa di Tabun Educulture Art juga berbeda dari tahun lalu. Terlebih dengan berdirinya rumah klasik khas Madura dan beberapa tambahan lain.

Dalam perayaan tahun ini, Tabun Educulture Art melibatkan sejumlah seniman di Kota Keris. Salah satunya, kelompok Language Teater Indonesia yang kiprahnya sudah nasional. Kemudian, kelompok musik Naluria dan kelompok seniman lainnya.

Pesan yang ingin disampaikan dalam Carangcang II yaitu hidup dengan adanya informasi ini bisa dinamis. Belajar dari sejarah nabi setelah mendapat wahyu baru bisa dinamis dalam melaksanakan tugas kenabian dan kerasulannya. Dengan demikian, informasi menjadi penting.

”Bedanya kalau informasi itu untuk masyarakat umum. Ilham atau inspirasi itu bagi seniman dan kreator-kreator. Sedangkan wahyu untuk para nabi. Namun pada dasarnya, itu merupakan informasi,” tutup Turmidzi.

(mr/bad/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia