Kamis, 12 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Atlet Taekwondo Madura Peraih Medali Emas Porprov VI Jatim (1)

24 Juli 2019, 03: 29: 39 WIB | editor : Abdul Basri

HARUMKAN PAMEKASAN: Dari kiri, Moh. Rizky Maulidi, Raja Dewantara Putra, dan Zainurrahman Basyir usai menerima medali emas pada Porprov VI Jatim beberapa waktu lalu.

HARUMKAN PAMEKASAN: Dari kiri, Moh. Rizky Maulidi, Raja Dewantara Putra, dan Zainurrahman Basyir usai menerima medali emas pada Porprov VI Jatim beberapa waktu lalu. (ZAINURRAHMAN BASYIR FOR RadarMadura.id)

Share this      

Pengkab Taekwondo Indonesia (TI) Pamekasan merupakan penyumbang medali emas terbanyak untuk Kota Gerbang Salam. Ada trik tersendiri yang diterapkan pelatih sehingga bisa meraih prestasi paripurna itu.

PRENGKI WIRANANDA, Pamekasan

EMPAT medali emas Porprov VI Jatim cabang olahraga taekwondo diboyong ke Pamekasan. Salah satunya disabet tim poomsae putra. Tim ini terdiri atas Moh. Rizky Maulidi, Raja Dewantara Putra, dan Zainurrahman Basyir.

Tiga atlet kebanggaan warga Pamekasan itu memiliki karakter berbeda. Teknik dan kondisi emosionalnya tidak sama. Pelatih bekerja keras menyatukan keberagaman mereka.

Ketua Pengkab TI Pamekasan Sudiyanto mengatakan, pekerjaan paling berat bagi pelatih adalah menyatukan perbedaan dari ketiga atlet. Sebab, di arena pertandingan, mereka harus sama dari berbagai sisi.

Sebab, pertandingan poomsae mengedepankan kekompakan. Dengan demikian, atlet harus seragam. ”Tugas pelatih mengawinkan perbedaan karakter dan teknik atlet,” kata Sudiyanto Senin (22/7).

Selama 1,5 tahun atlet digodok. Latihan intens terus dilakukan untuk mematangkan kemampuan sebelum bertanding. Latihan bersama anggota regu lebih dioptimalkan agar lebih kompak mengeluarkan jurus.

Berkat latihan intens itu, atlet taekwondo kategori beregu poomsae putra berhasil merebut medali emas. Salah satu kiat yang diterapkan dalam latihan yakni menanamkan kepada para atlet untuk menjadikan latihan seperti kejuaraan.

Meski sekadar latihan, keseriusan serta kedisiplinan mereka harus seperti kejuaraan. Sementara ketika bertanding secara resmi, mental mereka harus lebih rileks. Yakni, menjadikan kejuaraan seperti latihan.

Para atlet terbiasa berlatih seperti nuansa kejuaraan. Dengan demikian, mental dan emosional atlet stabil. ”Menjelang kejuaraan, latihannya sudah seperti bertanding di kejuaraan,” katanya.

Pria yang juga kepala pelatih TI Pamekasan itu menjelaskan, usai porprov, latihan terus dilakukan secara intens. Harapannya, kemampuan para atlet semakin matang menatap sejumlah agenda kejuaraan mendatang.

Prestasi yang diraih tidak menjadi pemicu atlet bersantai. Justru, semangat latihan, baik fisik, teknik, maupun mental harus lebih ditingkatkan. Tujuannya, agar kemampuannya lebih optimal dan bisa mengukir prestasi di tingkat nasional.

Di tempat terpisah, Zainurrahman Basyir bersyukur atas capaian gemilang yang ditorehkan bersama timnya itu. Prestasi diperoleh berkat kerja keras serta doa seluruh warga Bumi Ratu Pamelingan.

Semenjak mengikuti pemusatan latihan kabupaten (puslatkab), latihan dilaksanakan secara intens. Namun, kadang latihan tidak lengkap. Sebab, Zain –sapaan Zainurrahman Basyir– kuliah di Surabaya.

Namun, pada liburan kuliah beberapa waktu lalu, latihan intens dilakukan bertiga. Perbedaan karakter dan teknik tiap atlet berhasil menyatu. ”Alhamdulillah kami juara,” tandasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia