Rabu, 21 Aug 2019
radarmadura
icon featured
Features

Upacara Adat Nyadar yang Terus Dilestarikan Warga Sumenep

Dilakukan Sebagai Penghormatan pada Leluhur

22 Juli 2019, 12: 36: 48 WIB | editor : Abdul Basri

SAKRAL: Ratusan warga memanjatkan doa bersama di upacara adat nyadar di Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Sabtu (20/7).

SAKRAL: Ratusan warga memanjatkan doa bersama di upacara adat nyadar di Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Sabtu (20/7). (RadarMadura.id)

Share this      

Upacara adat nyadar hingga kini masih dilestarikan. Tradisi ini rutin digelar setiap tahun sebagai penghormatan kepada jasa-jasa para leluhur dan tasyakuran petani garam di Sumenep.

ZAINAL ABIDIN, Sumenep

RATUSAN warga yang umumnya petani garam mengikuti upacara adat nyadar di Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi, Sabtu (20/7). Sejak pukul 06.00 mereka berdatangan. Untuk sampai ke lokasi tradisi sakral tersebut, warga harus menyeberangi sungai dengan menaiki perahu dari Desa Pinggir Papas. Sebagian lagi ada yang berangkat dari Kecamatan Saronggi.

KHUSYUK: Warga nyekar ke Asta Syekh Anggasuto di Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Sabtu (20/7).

KHUSYUK: Warga nyekar ke Asta Syekh Anggasuto di Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Sabtu (20/7). (RadarMadura.id)

Warga datang dengan membawa makanan yang disimpan dalam panjang. Panjang sendiri terbuat dari anyaman bambu dan hanya digunakan saat nyadar digelar. Ada sekitar 700 panjang berisi makanan dalam upacara tersebut.

Panjang diletakan berjejer di sebelah selatan asta. Selain membawa makanan, warga juga membawa kembang tujuh rupa untuk ditaburkan ke makam yang ada di asta. Kegiatan tersebut bukan hanya diikuti masyarakat Kalianget dan Saronggi.

Banyak warga dari luar daerah dan luar kota juga rela datang ke lokasi untuk menyaksikan proses upacara nyadar. Ada juga sejumlah mahasiswa dari Surabaya yang melakukan penelitian tentang tradisi nyadar.

Upacara nyadar dimulai setelah para ketua atau pemuka adat, juru kunci asta, sesepuh, dan tokoh masyarakat hadir di lokasi. Pemuka adat, sesepuh, dan juru kunci asta duduk di langgar depan asta. Sementara masyarakat umum berkumpul di sebelah selatan asta. Mereka duduk bersila di depan panjang masing-masing.

Upacara nyadar terdiri dari tiga kegiatan. Pertama, pengumpulan kembang tujuh rupa yang dibawa warga. Lalu, dilanjutkan dengan nyekar ke kuburan para syekh. Yakni, Syekh Anggasuto, Syekh Kabasa, Syekh Dukun, Nyai Kabasa, dan Nyai Bangsa.

Kegiatan nyekar dipimpin para sesepuh yang memiliki sanad atau turunan Syekh Anggasuto. Setelah itu warga diberi air minum dan bedak lalongsoran yang dioleskan di wajah, leher, dan lengan.

Warga meyakini, air dan bedak tersebut mengandung banyak manfaat dan barokah. Misalnya, bisa dijauhkan dari penyakit dan dimudahkan menjalani usaha dan mencari rezeki.

Setelah nyekar, acara dilanjutkan doa bersama dengan memohon kepada Allah agar semua masyarakat di Kota Keris diberi kesehatan jasmani dan rohani, terhindar dari segala macam musibah, dan memohon kemudahan juga kelancaran dalam usaha pertanian garam di Sumenep.

Kegiatan terakhir adalah menyantap makanan yang dibawa. Makanan tersebut tidak istimewa, hanya terdiri dari nasi putih, lauk telur, ayam, dan tongkol. Tapi porsinya cukup banyak dan bisa dimakan bersama semua anggota keluarga.

Namun, makanan tersebut tidak dihabiskan di lokasi. Warga hanya memakannya sedikit dan sisanya dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga.

Ahmad Riyadi, 32, warga Kecamatan Saronggi menuturkan, setiap tahun dirinya selalu mengikuti tradisi nyadar. Menurut dia, tradisi tersebut sudah ada sejak dulu dan menjadi tradisi turun-temurun bagi masyarakat, khususnya petani garam.

Tradisi nyadar bertujuan menghormati jasa Syekh Anggasuto dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada masyarakat. Nyadar juga bentuk tasyakuran para petani garam akan hasil produksi, meski selama ini harga garam tak menentu dan cenderung merugikan petani.

”Tradisi ini menjadi warisan nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan. Ini kekayaan tradisi yang sangat berharga,” tuturnya.

Bagi masyarakat, nyadar menjadi momentum silaturahmi yang sayang untuk dilewatkan. Banyak warga yang bekerja di luar kota, pulang kampung untuk bisa mengikuti kegiatan tersebut. Upacara nyadar digelar dua hari. Hari pertama hanya berupa nyekar ke asta. Sementara hari kedua, kegiatannya lebih banyak.

”Semoga kegiatan ini selalu membawa keberkahan bagi semua masyarakat. Dengan menghormati para leluhur dan mensyukuri nikmat yang ada, insyaallah usaha dan rezeki bertambah,” harapnya.

Mathor, sesepuh sekaligus juru kunci asta Syekh Anggasuto mengatakan, nyadar berasal dari kata nazar. Tujuannya, untuk menghormati jasa Syekh Anggasuto dalam menyiarkan dan menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada masyarakat.

Pangeran atau Syekh Anggasuto adalah salah satu tokoh masyarakat yang menyelamatkan orang-orang Bali yang terdesak ketika kalah perang melawan Pasukan Kraton Sumenep. Beliau juga orang yang kali pertama menemukan asal muasal garam di Madura. Dengan begitu, wajar jika para petani garam di Sumenep selalu mengikuti upacara ini.

Tradisi nyadar digelar tiga kali dalam setahun. Nyadar satu dan dua bertempat di Desa Pinggir Papas dan Desa Kebundadap Barat. Sementara nyadar ketiga digelar di rumah warga masing-masing. ”Nyadar ketiga itu nyadar bengko. Upacara atau selamatannya hampir sama,” terangnya.

Penentuan waktu pelaksanaan nyadar berdasar musyawarah para pemuka adat yang masih merupakan keturunan dari Syekh Anggasuto. Kini keturunan Syekh Anggasuto banyak. Merekalah yang selama ini menjaga dan melestarikan tradisi nyadar.

Ada beberapa syarat sehubungan dengan pelaksanaan nyadar. Syarat tersebut ada kaitannya dengan peringatan Maulid Nabi. Yakni, pelaksanaan upacara tidak diperkenankan diadakan sebelum tanggal 12 bulan Maulid. Pelaksanaannya tidak boleh melebihi selamatan yang diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Syarat tersebut mengindikasikan bahwa nyadar tumbuh dan berkembang setelah Islam masuk. Selain itu juga mengimplikasikan bahwa penghormatan terhadap leluhur mereka tidak boleh melebihi penghormatan terhadap Rasulullah.

”Upcara nyadar dijalankan sesuai dengan petunjuk para pemuka adat, tidak pernah ada yang berubah, dan digelar dengan sederhana. Karena nyadar itu merupakan kegiatan tasyakuran atas rezeki yang ada,” jelasnya.

”Semoga kegiatan ini membawa barokah dan kebaikan untuk seluruh masyarakat Sumenep. Semoga dengan barokah Syekh Anggasuto Sumenep menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” harapnya.

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia