Selasa, 10 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Atlet Pencak Silat Peraih Medali Emas Porprov VI Jatim (4-Habis)

Nafis Selalu Yakin Akan Doa Orang Tua

19 Juli 2019, 14: 33: 32 WIB | editor : Abdul Basri

BERPRESTASI: Atlet pencak silat tunggal putra peraih medali emas Nafis Fajriyus Zuhur bercerita pengalamannya di ajang Porprov VI Jatim kemarin.

BERPRESTASI: Atlet pencak silat tunggal putra peraih medali emas Nafis Fajriyus Zuhur bercerita pengalamannya di ajang Porprov VI Jatim kemarin. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

Siapa tidak bangga mendapat medali emas. Terlebih di ajang bergengsi seperti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI Jawa Timur. Nafis Fajriyus Zuhur telah membuktikannya. Remaja kelahiran Juni 2002 ini berhasil menjadi juara 1 pencak silat tunggal putra di kompetisi tersebut.

DAFIR, Bangkalan

NAFIS Fajriyus Zuhur masih mengenakan seragam SMAN 1 Bangkalan saat ditemui Jawa Pos Radar Madura (JPRM) kemarin sore (18/7). Dia baru pulang sekolah. Remaja asal Kamal ini tampak kalem dan sopan.

”Baru pulang sekolah dan langsung mau ke Kamal,” kata Nafis mengawali obrolan. Nafis lalu berbagi pengalamannya tampil di Porprov VI Jatim.

Dia tidak menyangka bisa menyabet juara 1 pencak silat tunggal putra. Sebab, ajangnya bukan untuk tingkat pelajar. Tetapi, tingkat dewasa hingga batas umur 21 tahun. ”Saya baru pertama ikut porprov dan baru pertama juga turun untuk ajang dewasa,” ujarnya.

Berkat doa dan dukungan orang tua serta pelatih, dia bisa mengharumkan nama Bangkalan untuk kejuaraan pencak silat. ”Bismillah yakin. Karena saya ikut ajang ini awalnya hanya uji kemampuan saja,” ceritanya.

Tidak pernah tebersit sedikit pun bisa menjadi juara apalagi bisa meraih medali emas. Apalagi, lawan-lawannya sudah dewasa dan di atas umur 17 tahun. ”Tapi ternyata saya mampu mengalahkan atlet yang lain. Senang sekali dan tetap rendah hati,” tuturnya.

Anak kandung dari pasangan Moh. Salehoddin dan Yusmaningsih ini dari kecil suka pencak silat. Keluarga besarnya juga menggeluti pencak silat. ”Ayah dan ibu juga di pencak silat. Mungkin sudah keturunan,” terangnya.

”Awal-awalnya ikut latihan saja, diajak ayah. Tidak fokus. Fokusnya itu pada saat kelas 3 SD,” sambungnya.

Serius menggeluti cabor pencak silat ketika kelas 3 sekolah dasar. Selain untuk membentengi diri, juga mulai mengejar prestasi. ”Saya beranikan saja turun di ajang dewasa kemarin. Alhamdulillah, doa saya terkabul,” ungkap Nafis.

Anak tiga bersaudara itu menceritakan, setiap kali ada kejuaraan, latihan dioptimalkan. Bahkan, bisa tiap hari. ”Kalau tidak ada kejuaraan, ya seminggu dua kali,” ucapnya.

Tempat latihan pencak silat Nafis di Padepokan Pencak Silat (PPS) Jokotole di Kamal.  Di tempat tersebut awal menggeluti dunia pencak silat. ”Sekarang saya persiapan untuk ikut pekan olahraga pelajar nasional (Popnas) di Papua tingkat pelajar,” katanya.

Popnas bakal diselenggarakan Oktober mendatang. Tetapi, kejuaraan kali ini bukan mewakili Bangkalan, melainkan Jawa Timur. ”Sambung doanya saja, semoga berhasil lagi,” pintanya.

Kejuaraan yang akan dihadapi Oktober nanti tetap seperti di Porprov VI Jatim, yakni seni tunggal putra. ”Yang dinilai ya keindahan, gerakan, dan kemantapan. Bukan fight,” tandasnya.

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia