Minggu, 15 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

Pembinaan UKM-IKM Tak Maksimal

HIPMI Sarankan Bentuk Tim Ekonomi Kreatif

15 Juli 2019, 21: 50: 53 WIB | editor : Abdul Basri

Pembinaan UKM-IKM Tak Maksimal

Share this      

SUMENEP – Usaha kecil menengah (UKM) dan industri kecil menengah (IKM) di Sumenep terus mengalami pertumbuhan. Setiap tahun jumlah pelaku usaha bertambah minimal 60 pengusaha yang tergabung dalam kelompok.

Meski UKM dan IKM terus tumbuh, Pemkab Sumenep dinilai tidak maksimal menjalankan program pembinaan. Hal itu diungkapkan anggota Himpunan Pengusaha Muslim Indonesia (HIPMI) Sumenep H. Syaiful Rahman.

Pengusaha ukiran kayu itu menyampaikan, kelompok UKM dan IKM cukup banyak di Kota Keris. Kurang lebih 757 usaha. Antara lain, kelompok usaha batik, keris, makanan dan minuman (mamin), kerajinan tangan, ukiran kayu, dan lain-lain. Tiap kelompok memiliki anggota minimal 28 orang.

”Potensi UKM dan IKM di Sumenep cukup besar. Banyak produk unggulan khas Sumenep yang sudah dikenal dan diminati masyarakat. Tapi, pemkab tidak maksimal mengembangkan ekonomi kerakyatan,” kritiknya kemarin (14/7).

Pemkab kurang serius menjalankan program pembinaan dan pelatihan kepada kelompok UKM dan IKM. Usai pelatihan, tidak ada tindak lanjut dan kejelasan program. Jadi, meski sudah mengikuti pelatihan, pelaku UKM dan IKM masih sulit mengembangkan usaha.

”Seharusnya setelah pelatihan ada tindak lanjut berupa pengarahan dan pendampingan agar program yang dijalankan betul-betul bermanfaat bagi pelaku UKM dan IKM,” ucapnya.

Selain itu, pelatihan dan pembinaan kurang progresif. Sebab, tidak semua kelompok bisa mengikuti pelatihan. ”Kelompok yang ikut pelatihan itu-itu saja. Tidak pernah berubah. Begitu juga dengan pemberian bantuan alat produksi, tidak banyak berubah,” bebernya.

Warga Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, itu menilai, tidak maksimalnya pembinaan bagi kelompok usaha disebabkan beberapa waktor. Antara lain, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) serta Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskop UM) Sumenep kurang bersinergi.

Sejatinya, kata Syaiful, program pembinaan UKM dan IKM yang dijalankan disperindag dan diskop UM cukup baik. Namun, sering terjadi ketidaksinkronan dan tumpang tindih program antardinas. Misalnya, saat menentukan produk unggulan yang akan dipasarkan.

”Seharusnya, semua program mengenai IKM dan UKM itu ditangani satu dinas agar hasilnya lebih maksimal. Pengusaha kecil juga tidak bingung ketika ingin berkonsultasi dan mengajukan permohonan bantuan,” ujar pria 49 tahun itu.

Dia berharap, pemkab membentuk tim ekonomi kreatif yang bertugas memfasilitasi pelaku usaha. Mulai pengurusan izin, pengembangan usaha, pengemasan, hingga marketing atau penjualan produk. ”Tim ekonomi kreatif penting dibentuk. Ini sebagai tindak lanjut dari program pemerintah pusat untuk menciptakan ekosistem ekonomi kabupaten/kota kreatif,” katanya.

Syaiful menyadari, tidak semua UMKM bisa meningkatkan kualitas dan kuantias produk. Karena itu, pemkab harus membantu mengembangkan usaha. ”Jumlah kelompok usaha di Sumenep perlu ditambah. Agar ketika ada pesanan produk dengan jumlah banyak, pemkab tidak perlu membeli produk dari luar daerah,” usulnya.

Kabid Perindustrian Disperindag Sumenep Agus Eka Hariyadi menyatakan, program pembinaan kepada kelompok usaha berjalan dengan baik. Pembinaan yang dilakukan berupa pelatihan peningkatan kelembagaan, kualitas produk, dan pemasaran berbasis digital.

”Kami hanya membina kelompok IKM. Sementara pembinaan untuk kelompok UKM merupakan kewenangan diskop UM,” ucapnya.

Di tempat terpisah, Kepala Diskop UM Sumenep Fajar Rahman mengklaim, program pembinaan kepada semua kelompok usaha, baik UKM maupun IKM, sudah maskimal. Pihaknya membina semua kelompok usaha yang ada.

Pembinaan berupa peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM), peningkatan pengetahuan dan wawasan berwirausaha, serta bantuan permodalan usaha melalui pinjaman dana bargulir dan kredit usaha rakyat (KUR).

Meskipun program pembinaan yang dijalankan sama dengan disperdagprin, hasilnya tidak sesuai dengan perencanaan. ”Semua kelompok UKM dan IKM kami bina dan bantu. Mulai SDM, manajemen usaha, pengelolaan keuangan, kualitas produk, hingga pemasaran,” ujarnya.

Untuk membantu pemasaran, setiap tahun lembanganya menggelar pameran produk unggulan. Semua produk unggulan khas Sumenep dipajang dan dipromosikan di event tersebut. ”Kami sudah membentuk kelompok ekonomi kreatif dan tenaga konsultan bisnis (TKB) di tiap kecamatan untuk membantu kelompok usaha agar berkembang,” tukasnya.

(mr/nal/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia