Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Berita Kota

Menuju Hari Koperasi Ke-72 Tahun 2019 (4-Habis)

Wajib Laporkan Keuangan Tiap Bulan

12 Juli 2019, 16: 04: 20 WIB | editor : Abdul Basri

Menuju Hari Koperasi Ke-72 Tahun 2019 (4-Habis)

Share this      

Hari ini (12/7) merupakan Hari Koperasi Ke-72. Tahun ini pemerintah mengangkat tema Reformasi Total Koperasi di Era Revolusi Industri 4.0. Namun, hingga saat ini masih banyak koperasi yang hidup segan mati tak mau.

DINAS Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (Diskop UKM) Jawa Timur mencatat jumlah koperasi mencapai 33.354. Namun, yang masih aktif hanya 26.683. Sedangkan 20 persen atau 6.671 koperasi terengah-engah.

Total koperasi di Bangkalan 805, terdiri atas 387 koperasi aktif dan 418 tidak aktif. Sementara yang memiliki nomor induk koperasi hanya 119. Koperasi di Sampang 444. Terdiri atas 252 koperasi aktif dan 192 tidak aktif. Koperasi di Sumenep 1.590. Sekitar 500 lebih koperasi tidak sehat. Sedangkan 26 koperasi terancam dibubarkan.

Kepala Diskop UKM Jatim Mas Purnomo Hadi menyatakan, puncak peringatan Hari Koperasi Ke-72 bakal dilaksanakan di Purwokerto, Jawa Tengah. Tahun ini pemerintah pusat akan melakukan reformasi total terhadap koperasi. Reformasi total bakal dimulai dari kelembagaan.

Misalnya, pengurus, karyawan, anggota, dan manajemen. Paling penting wajib melakukan rapat tahunan anggota (RAT). ”Kita akan kuatkan supaya profesional mengelola koperasi,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) kemarin (11/7).

Untuk meningkatkan SDM, pihaknya terus melakukan pelatihan. Melalui kegiatan itu, para pengelola diharapkan mengetahui prinsip-prinsip koperasi, idealisme koperasi, dan membentuk jati diri koperasi.

Selain revitaliasi kelembagaan dan sumber daya manusia (SDM), produk koperasi harus berkualitas dan bersertifikat sehingga layak jual dan memiliki nilai tambah. Caranya, melakukan pendampingan dan pelatihan terhadap koperasi berproduksi. ”Baik di sektor keaungan maupun sektor real-nya,” paparnya.

Selain dari anggota, Pemprov Jawa Timur menyiapkan anggaran permodalan koperasi berupa kredit murah. Misalnya, kredit di Bank Jatim dan Bank UMKM dengan suku bunga 6 persen. ”Supaya mereka leluasa dalam kegiatan simpan-pinjam ataupun sektor produksinya dan sektor real-nya,” jelas Purnomo.

Dia menegaskan, pengurus koperasi harus mengerti pembuatan laporan keuangan. Mengerti bahwa pembuatan laporan keuangan terhadap modal dikelola koperasi. Baik modal dari koperasi sendiri atau modal luar berupa pinjaman.

Setiap bulan koperasi harus melakukan evaluasi dan laporan keuangan. Setiap tahun harus mempertanggungjawabkan laporannya di depan anggota melalui RAT. ”Transparan kepada anggota karena koperasi dari, untuk, dan oleh anggota. Itu ada pengawas internal koperasi. Pengawas eksternalnya dari lembaga akuntan publik. Dengan begitu, laporan keuangannya betul-betul sesuai dengan kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip koperasi,” ujarnya.

Jika lembaga koperasi bagus, SDM profesional, produknya standar, dan permodalannya tercukupi, pihaknya membuka ruang untuk pemasaran. Baik pemasaran secara online maupun offline seperti pameran dan promosi dagang.

Selain itu, didorong program Nawa Bhakti Satya gubernur untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan. Terutama di daerah kategori miskin sehingga bisa mengurangi angka kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan meningkatkan IPM.

Dalam Nawa Bhakti Satya, Diskop UKM Jatim memiliki program Jatim Berdaya. Pihaknya akan banyak melakukan inovasi. Selain itu, gubernur memiliki program One Pesantren One Product untuk memberdayakan pesantren.

Pesantren akan membentuk koperasi agar punya produk, lalu menciptakan santripreneur. ”Sehingga di lingkungan pesantren bergerak pertumbuhan ekonominya,” tandas pria asal Pamekasan itu.

(mr/bam/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia