Jumat, 19 Jul 2019
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Harus Tinggalkan Simpan Pinjam

12 Juli 2019, 15: 57: 31 WIB | editor : Abdul Basri

PRODUK LOKAL: Warga melihat produk UKM yang dipajang di galeri UKM Diskop dan UM Pamekasan kemarin.

PRODUK LOKAL: Warga melihat produk UKM yang dipajang di galeri UKM Diskop dan UM Pamekasan kemarin. (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

Share this      

PEMKAB Pamekasan berupaya menghidupkan koperasi dengan memberikan sumbangan pemikiran. Salah satunya, menekan agar koperasi meninggalkan layanan simpan pinjam.

Lembaga yang diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat itu diarahkan bergerak di bidang jasa dan produksi. Sejumlah produk usaha kecil mikro lahir dari koperasi tersebut.

Kepala Diskop dan Usaha Mikro Pamekasan AM. Yulianto mengatakan, total koperasi d Bumi Pamelingan 600 lembaga. Rata-rata koperasi mulai bergerak di bidang layanan jasa dan produksi usaha kecil mikro.

Sejak beberapa tahun, pemerintah mengarahkan koperasi meninggalkan layanan simpan pinjam. Harapannya, lembaga tersebut lebih hidup dan dapat meningkatkan perekonomian kerakyatan. ”Simpan pinjam harus ditinggalkan,” katanya kemarin (11/7).

Jon –sapaan akrab AM. Yulianto– menyatakan, masyarakat yang ingin melakukan simpan pinjam uang diarahkan ke bank. Sementara koperasi fokus pada peningkatan perekonomian kerakyatan. Beberapa waktu lalu presiden membentuk tim pembaruan koperasi.

Salah satu implementasi pembaruan itu adalah layanan jasa, produksi usaha kecil mikro, dan pengembangan informasi teknologi. Harapannya, koperasi menjadi tonggak peningkatan ekonomi berbasis kerakyatan. Pemerintah memberikan pembinaan berupa pelatihan terhadap anggota koperasi.

Mereka diajari membuat produk usaha mikro dari bahan di wilayahnya masing-masing. Kemudian, diberi keterampilan pengolahan bahan menjadi bahan konsumsi. Di antaranya, sepuluh produk berbahan durian. Anggota koperasi diajari mengolah buah durian menjadi aneka ragam makanan.

Bahkan, kulit hingga biji durian juga diolah menjadi bahan makanan. Hasil produksinya dijual di koperasi masing-masing. ”Koperasi harus jadi agen perubahan dalam meningkatkan perekonomian,” katanya.

Pemerintah juga menggelar pelatihan seputar dunia fashion. Di antaranya, pelatihan menjahit, bordir, dan sulam. Pelatihan itu bertujuan agar pelayanan jasa dari anggota koperasi semakin hidup.

Wakil Ketua DPRD Pamekasan M. Suli Faris menjelaskan, pendirian koperasi bertujuan mendorong laju pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Sementara di Pamekasan, masih sangat sedikit koperasi yang menjadi ujung tombak pemerintah dalam rangka membangun ekonomi kerakyatan.

Pemerintah harus melakukan terobosan untuk merevitalisasi koperasi. Dari 600 koperasi, hanya segelintir yang aktif dan efektif. Butuh sentuhan pemerintah untuk menghidupkan lembaga tersebut.

Sejauh ini, Suli melihat peran pemerintah terhadap kemajuan koperasi kurang maksimal. Pemerintah memosisikan diri hanya sebagai pengawas. Sementara fungsi pembinaan belum optimal.

Pemerintah harus menggelar program peningkatan kualitas SDM secara masif. Harapannya, anggota koperasi bisa mengikuti tantangan zaman. ”Maka tidak heran jika ada koperasi yang tidak aktif karena peran pemerintah kurang maksimal,” ujarnya.

Kendala yang dihadapi koperasi biasanya dari sisi pendanaan. Pemerintah harus hadir memberikan suntikan modal. Hanya, pengawasan penggunaan uang rakyat itu harus ketat. ”Harus ada inovasi agar koperasi di Pamekasan semakin hidup,” tandasnya.

(mr/pen/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia