Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Cara Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura Berdayakan Ekonomi Warga

Olah Jagung Menjadi Kerupuk Gurih dan Nikmat

12 Juli 2019, 15: 29: 25 WIB | editor : Abdul Basri

PEMBERDAYAAN: Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura mengajari warga membuat kerupuk jagung di lokasi KKN 26 Desa Bringin Nonggal, Kecamatan Torjun, Sampang, Rabu malam (10/7).

PEMBERDAYAAN: Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura mengajari warga membuat kerupuk jagung di lokasi KKN 26 Desa Bringin Nonggal, Kecamatan Torjun, Sampang, Rabu malam (10/7). (DEAZ FOR RadarMadura.id)

Share this      

Setiap desa memiliki potensi berbeda-beda. Desa Bringin Nonggal memiliki produksi jagung melimpah. Selama ini jagung-jagung tersebut tak terolah dengan baik. Akhirnya, mahasiswa menyulapnya menjadi kerupuk gurih nan nikmat.

IMAM S. ARIZAL, Sampang

AKHIR April 2019, rombongan mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) angkatan ke-26 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) melakukan survei lapangan ke Desa Bringin Nonggal, Kecamatan Torjun, Sampang. Seperti persiapan KKN pada umumnya, sebelum kegiatan dimulai, mereka melakukan pemetaan serta analisis awal akan kondisi alam, lingkungan sosial, dan budaya daerah yang hendak ditempati.

Saat survei lapangan itulah, duta kampus asal Bangkalan itu menemukan hasil pertanian jagung yang melimpah. Berdasarkan pengakuan warga, jagung-jangung itu tidak diolah menjadi produk yang bernilai ekonomis. Petani rata-rata hanya menjual jagung mentah. Tak pelak, nilai jual jagung ini pun belum bisa mendongkrak ekonomi warga.

Mahasiswa kemudian berembuk kira-kira mau diapakan jagung itu. Mereka pulang ke kampusnya di Bangkalan dengan membawa oleh-oleh informasi jagung yang melimpah. Hingga akhirnya, mereka sepakat membuat kerupuk berbahan jagung.

KKN dimulai 1 Juli 2019. Sebanyak 15 mahasiswa memulai aktivitas dengan warga Bringin Nonggal. Setelah berembuk dengan TP PKK setempat, mereka sepakat menggelar pelatihan cara membuat kerupuk jagung Rabu malam (10/7).

”Sebelum memulai KKN di sini kami memang sudah menyiapkan konsepnya dari kampus,” kata Alifiah Lisna Oktaviani selaku penanggung jawab pelatihan pengolahan produk unggulan KKN 26 UTM.

Perempuan asal Lamongan itu sengaja memilih jagung karena di Bringin Nonggal cukup melimpah. Mahasiswa menginginkan hasil pertanian jagung bisa menyejahterakan masyarakat. Termasuk nantinya jagung ini bisa menjadi produk unggulan di desa tersebut. ”Kami harapkan, kerupuk jagung ini memiliki nilai jual dan akan dijadikan produk unggulan desa,” jelasnya.

Pembuatan kerupuk jagung cukup mudah. Caranya, jagung dicampur bawang putih, lalu diblender sampai halus. Berikutnya, jagung yang sudah diblender itu dicampur dengan tepung terigu dan tapioka, bawang daun, garam, serta tambahan penyedap rasa.

Selanjutnya, semua adonan diaduk hingga tercampur rata berbentuk lonjong panjang. Adonan ini kemudian dimasukkan ke dalam panci berisi air mendidih untuk direbus. Setelah matang, tinggal ditiriskan, kemudian dijemur hingga kering. ”Kalau sudah kering tinggal digoreng,” tuturnya.

Untuk membuat kerupuk jagung, biayanya juga murah. Warga cukup menyiapkan anggaran sekitar Rp 100 ribu. Dengan anggaran tersebut, sudah bisa mendapatkan keuntungan sekitar 25 persen. Karena itulah produk ini dinilai cocok dijadikan industri rumah tangga.

Bukan hanya pelatihan membuat kerupuk, mahasiswa KKN 26 UTM juga melatih warga packaging yang bagus. Sebab, saat ini kemasan menjadi penentu ketertarikan konsumen. Jika kemasannya bagus, konsumen akan tertarik membeli.

”Kalau packaging bagus, dapat menarik minat konsumen dan bisa dipasarkan secara online seperti yang telah marak dilakukan saat ini,” tegasnya.

Pelatihan membuat kerupuk jagung ini disambut antusias oleh warga. Salah satu anggota TP PKK Bringin Nonggal Sumidah menyebut inovasi yang dilakukan mahasiswa UTM cukup bagus. Jika masyarakat membuatnya secara terus-menerus, otomatis dapat mendongkrak ekonomi mereka.

”Kami sangat terbantu karena selama ini yang namanya jagung hanya dijual biasa saja, belum ada inovasi agar mempunyai nilai jual lebih,” katanya.

”Saya sangat senang dengan adanya pelatihan pembuatan kerupuk jagung ini karena bisa membantu kami dalam membuat olahan baru dari jagung. Saya juga berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa UTM,” tukasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia