Jumat, 19 Jul 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

Menuju Hari Koperasi Ke-72 Tahun 2019 (3)

Modal Rp 400 Ribu, Aset Sekarang Rp 225 M

11 Juli 2019, 14: 20: 33 WIB | editor : Abdul Basri

ISLAMI: Karyawan BMT NU Jawa Timur melayani nasabah di kantor pusat yang beralamat di Desa Gapura Tengah, Kecamatan Gapura, Sumenep, kemarin.

ISLAMI: Karyawan BMT NU Jawa Timur melayani nasabah di kantor pusat yang beralamat di Desa Gapura Tengah, Kecamatan Gapura, Sumenep, kemarin. (JUPRI/RadarMadura.id)

Share this      

Dari Gapura untuk Indonesia. Demikian kalimat yang dapat menggambarkan koperasi yang satu ini. Berdiri di ujung timur Madura, kini sudah membuka cabang di puluhan kota dan kabupaten.

BAITUL Maal wat Tamwil Nuansa Ummah atau biasa disebut BMT NU. Koperasi ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Madura. Lembaga koperasi yang berkembang pesat itu awal mulanya berdiri di Kecamatan Gapura, Sumenep.

Lembaga simpan pinjam ini berkembang di 12 kabupaten. Awalnya hanya bermodal Rp 400 ribu. Saat ini aset BMT NU sudah mencapai ratusan miliar rupiah.

Sekretaris BMT NU Jawa Timur (Jatim) Sudahri Arifandy mengatakan, BMT NU awal berdiri 1 Juli 2004. Modal awalnya Rp 400 ribu. Uang itu dikumpulkan dari 17 anggota Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Gapura.

Sudahri menceritakan, awal berdirinya BMT NU didasari banyaknya rentenir yang memberatkan pedagang kaki lima (PKL) di Gapura. Atas dasar itulah, kata Sudahri, MWC NU Gapura berinisiatif membentuk lembaga koperasi yang disebut BMT NU.

”Rentenir di sini dulu sangat mencekik pedagang kecil dalam menerapkan bunga pinjaman,” tuturnya saat ditemui di ruang kerjanya kemarin (10/7).

Saat awal berdiri, BMT NU tidak membebankan bunga kepada peminjam. Peminjam diberi kebebasan dalam memberikan bunga saat mengembalikannya. ”Di BMT NU peminjam cukup memberikan bunga seikhlasnya sehingga tidak memberatkan PKL” tuturnya.

Sejak itu, BMT NU terus berkembang pesat. Setelah tiga tahun berdiri atau pada 2007, pengurus yang tergabung di MWC NU Gapura mendaftarkan BMT NU ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) untuk dibadanhukumkan.

Namun, ketika itu Kemnkum HAM tidak merestui sebutan NU mengandung arti Nahdlatul Ulama. Kemudian, nama tersebut diubah menjadi Nuansa Ummah. Menurut Sudahri, ekspansi pertama yang dilakukan yakni dengan membuka kantor cabang di Kecamatan Pragaan, Sumenep.

Sejak itu, kantor cabang BMT NU semakin menjamur. Pengelola BMT NU kemudian mengurus izin ke Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur untuk bisa membuka cabang di luar Sumenep. Pengurusan izin ini dilakukan pada 2012. Sejak saat itu, nama BMT NU Gapura berubah nama menjadi BMT NU Jawa Timur.

”Saat ini kami sudah memiliki 53 kantor cabang di 12 kabupaten di Jawa Timur dan karyawan 360 orang. Kantor pusatnya di Gapura ini,” tutur pria berkopiah hitam itu.

Sudahri sangat bersyukur BMT NU bisa berkembang pesat dan memberikan kemudahan bagi masyarakat, khususnya kaum nahdliyin yang ingin mengembangkan usaha. Sebab, BMT NU tidak memberatkan debitur. ”Alhamdulillah bisa meringankan beban masyakarat yang membutuhkan pinjaman,” katanya.

Organisasi ekonomi ini awalnya bernama Koperasi Jasa Keuangan Syariah  (KJKS). Namun, pada 2015 berubah menjadi Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS). Perubahan itu sesuai dengan regulasi baru dari pemeerintah.

KSPPS BMT NU Jawa Timur memiliki empat produk pembiayaan. Yakni, Al-Qardul Hasan atau pembiayaan dengan jasa pembayaran seikhlasnya dengan jangka waktu maksimal 36 bulan dengan angsuran mingguan, bulanan, 4 bulanan, dan cash tempo. Kemudian, Murabahah dan Ba’i  Bitsamanil Ajil  atau pembiayaan dengan pola jual beli barang. Harga pokok diketahui bersama dengan harga jual berdasarkan kesepakatan. Selisih harga pokok dengan harga jual merupakan keuntungan BMT NU.

Produk ketiga adalah Mudharabah dan Musyarakah atau pembiayaan seluruh modal kerja yang dibutuhkan atau sebagian modal kerja dengan pola bagi hasil, bagi hitung berdasarkan keuntungkan yang sebenarnya, dengan bagi hasil berdasar kesepakatan. Terakhir, Rahn/gadai atau pembiayaan dengan menyerahkan barang kemilikan sebagai barang tanggungan peminjam.

Secara manajerial, BMT NU sangat sehat. Berdasar rapat anggota tahunan (RAT) 2019, total asetnya mencapai Rp 225. 497.293.042. Meliputi aset barang bergerak dan tidak bergerak. Aset-aset itu tersebar di 53 kantor cabang.

Kekayaan BMT NU tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat dalam bertransaksi sesuai syariat Islam. Selain itu, berkat dukungan Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadikan BMT NU semakin melejit.

Koperasi ini kemudian mampu membeli empat unit ambulans. Kendaraan itu dibeli dari sedekah mal kantor cabang. Kendaraan ini disebar di kantor pusat, kantor cabang Batang-Batang, Batuputih, dan Manding untuk melayani masyarakat. ”Secara kelembagaan, NU juga mendukung,” tandasnya. (jup)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia