Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Features

Dosen-Dosen Peduli Pemuda agar Cinta Literasi dan Kesenian (2-Habis)

Tak Ada Kata Rugi demi Proses Bersama Teman

10 Juli 2019, 14: 27: 16 WIB | editor : Abdul Basri

BERDEDIKASI: Alfaizin Sanasren menunjukkan buku karangannya yang berjudul Talken Koneng saat ditemui di kediamannya di Desa/Kecamatan Batuan, Sumenep, Senin malam (8/7).

BERDEDIKASI: Alfaizin Sanasren menunjukkan buku karangannya yang berjudul Talken Koneng saat ditemui di kediamannya di Desa/Kecamatan Batuan, Sumenep, Senin malam (8/7). (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Share this      

Selain mengabdi di dunia pendidikan, Alfaizin aktif di dunia tulis-menulis. Dia juga merupakan pendiri Pangesto yang sudah banyak menelurkan sastrawan, jurnalis, dosen, hingga pengasuh lembaga pendidikan.

BADRI STIAWAN, Sumenep

MUSIM kemarau, cuaca malam lebih dingin dibandingkan musim penghujan. Senin (8/7) pukul 20.00, Jawa Pos Radar Madura menuju kediaman Alfaizin Sanasren. Sedikit menggigil perjalanan menuju rumahnya di Desa/Kecamatan Batuan, Sumenep. Namun, sambutan hangat dan suguhan kopi hitam melancarkan perbincangan kami malam itu. Di gazebo dekat pintu gerbang rumah Alfaizin.

Dia sosok sederhana. Tapi, dedikasinya luar biasa. Bukan hanya di dunia pendidikan, melainkan dalam pendampingan dan pembinaan pemuda melalui dunia literasi. Dosen di dua perguruan tinggi di Kota Keris ini merupakan pengarang buku Talken Koneng. Berisikan puisi-puisi mantra.

Kegemarannya menulis tidak hanya dijalani sendiri. Melalui wadah yang diberi nama Lembaga Kajian Seni Budaya (LKSB) Pangesto Net_Think Community, Alfaizin lebih suka berproses bersama. Mengajak pemuda aktif menulis dan membaca.

Yang tak biasa, dia mendanai hampir semua kebutuhan anggota selama berproses. Kontrakan, makan, komputer, printer, hingga kendaraan, semua ditanggung. Bahkan, dulu biaya untuk mengakses internet ke warung internet (warnet) juga ditanggung. Anggota hanya diminta bersungguh-sungguh berproses dan berkarya.

Untung secara finansial? Tidak. Rugi, iya. Tapi, bukan itu tujuan pria kelahiran Sumenep, 1976 itu. Semua itu dia lakukan karena kesenangan. Senang ketika berkumpul bersama teman. Senang saat teman berkarya. Senang setelah teman-temannya bisa survive dari wadah yang disediakan untuk berproses.

Keluarga juga tidak ada bedanya. Orang tua, istri, bahkan mertua mendukung Alfaizin. Keluar biaya banyak bukan persoalan. Jika lama tak ada teman menyambang, keluarga ikut menanyakan.

Seakan biasa dengan kehadiran anggota komunitas sekaligus teman berproses. Tradisi kumpul-kumpul sembari melakukan kajian seni budaya masih sering dilakukan. Meski tak serutin dahulu. Sebab, anggota sudah banyak sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Tapi, sekali kumpul, anggota komunitas biasa membawa istri dan anak untuk ikut nimbrung. Maklum, banyak yang sudah berkeluarga. Namun, tak menyurutkan niat silaturahmi dan berbagi cerita. Sekitar 2006 komunitas tempatnya berbagi itu didirikan.

”Alhamdulillah keluarga paham betul. Keluarga senang dengan teman-teman ketika kumpul,” tutur pria yang pernah mengenyam pendidikan di MI-MA Nurul Islam, Karang Cempaka, Bluto, itu.

”Saya tidak mengejar kaya,” lanjutnya. Ketenangan dan kesenangan menjadi dasar untuknya berbagi dengan pemuda melalui literasi. ”Kalau mikir kaya, ngapain saya biayai teman-teman untuk berproses,” sambung Alfaizin.

Lulusan STKIP PGRI Sumenep itu memaparkan, kontrakan untuk menampung anggota komunitasnya berpindah-pindah. Pernah di dua kontrakan di Desa Kolor. Kemudian, pindah ke Desa Pandian di belakang kantor JPRM Biro Sumenep. Lalu, bermarkas di gudang sebelah rumahnya di Batuan. Aktivitas dalam komunitas didominasi dengan kegiatan membaca dan menulis.

Karya-karya anggota Pangesto banyak yang terbit di media massa. Sekitar 15 anggota yang bergabung pada komunitas itu. Kemudian, terus bertambah seiiring berjalannya waktu.

”Memang tidak perlu banyak. Yang penting serius berproses. Kalau bersungguh-sungguh, saya biayai semua. Saya temani mulai dari berproses sampai berkeluarga,” ucap dosen lulusan pascasarjana Universitas Islam (Unisma) Malang itu.

Saat ini Alfaizin sudah tidak mengader lagi. Namun, keinginan mengajak pemuda untuk berproses masih ada. Tinggal menunggu waktu. Dia selalu gelisah untuk terus berproses bersama-sama. Apalagi, di tengah kecenderungan pemuda masa kini yang serbainstan.

Buku Talken Koneng merupakan satu-satunya karya pribadi yang diterbitkan. Buku yang terbit 2012 itu berisi puisi kitab Kelelakian, Rokat Kematian, Pemisau Sukma, Sihir, dan Mantra Alif. Banyak karya puisinya yang sengaja tidak dipublikasikan. Selebihnya, banyak puisi Alfaizin yang masuk dalam buku antologi bersama.

Masih ada lebih dari 100 puisi lain yang akan dibukukan. Menulis tetap dilakukan. Terutama soal tradisi dan kebudayaan Madura. Menurut Al –demikian dia biasa dipanggil–, Madura punya tradisi mantra yang kuat.

”Referensi yang saya gunakan berdasarkan ritual-ritual. Di situ biasanya ada mantra-mantra yang dibacakan. Itu yang membuat saya tertarik menjadikannya puisi,” ujar Al.

Bunyi kendaraan dan jangkrik masih menemani kesunyian malam. Entah sudah berapa kali kopi dituangkan ke gelas. Perbincangan malam itu masih berlanjut hingga bunyi-bunyi mesin yang melintas di jalan aspal perlahan menyepi.

Hingga saat ini, Al mengajar di STKIP PGRI Sumenep dan STIQNIS Karang Cempaka Bluto. ”Main-main ke sini. Kita diskusi. Walaupun sekadar ngopi,” ucapnya mengakhiri pertemuan malam itu.

Ketua Program Studi (Kaprodi) PGSD STKIP PGRI Sumenep Em Ridwan merupakan salah seorang yang pernah berproses di LKSB Pangesto Net_Think Community. Ridwan mengungkapkan, Al bukan sekadar teman berproses, melainkan guru sekaligus menjadi orang tua.

Apalagi, Pangesto berjalan secara kekeluargaan. Bukan organisasi yang kaku. Jangankan kontrakan, rokok Kak Al sering saya ambil. Saya merindukan momen itu,” katanya diiringi tawa.

Kini proses itu telah dirasakan semua. Ada yang jadi wartawan, seperti Kepala Biro JPRM Sampang Hendriyanto, Pemred JPRM Lukman Hakim AG., dan penyair Manusia Perahu di Sapeken. ”Ada yang jadi pengelola lembaga pendidikan, ada juga yang beternak dan bertani,” tandas Ridwan.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia