Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Bangkalan
Tanah Basah Tidak Dibersihkan

Gepeknas Sebut Proyek Gedung Dewan Sembarangan

09 Juli 2019, 15: 38: 32 WIB | editor : Abdul Basri

DISOROT: Truk mengangkut bedel ke lokasi proyek pembangunan gedung DPRD Bangkalan kemarin.

DISOROT: Truk mengangkut bedel ke lokasi proyek pembangunan gedung DPRD Bangkalan kemarin. (A. YUSRON FARISANDY/RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN – Proyek pembangunan gedung DPRD Bangkalan di Jalan Halim Perdana Kusuma kembali disorot. Kali ini sorotan datang dari Gabungan Pengusaha Konstruksi Nasional (Gapeknas) Bangkalan.

Gapeknas menyebut proyek senilai Rp 45,2 miliar itu sembarangan. Sebab, tidak dilakukan pembersihan terlebih dahulu. Padahal, lahan yang digunakan untuk pembangunan gedung dewan merupakan tanah basah.

Ketua Gapeknas Bangkalan Saleh Farhat mengutarakan, setiap pekerjaan konstruksi, terutama tanah sawah, harus dibersihkan dulu. Yaitu, dibuang tanah basahnya, bukan langsung dipadatkan pakai bedel.

”Baik kontruksi kecil maupun besar, tanah basahnya harus dibuang dulu. Kalau tidak dibersihkan, itu salah besar,” kata dia kemarin (8/7).

Saleh melihat dalam pembangunan gedung dewan yang kini tengah digarap tidak dilakukan pembersihan. Mestinya kalau mengacu pada rencana anggaran biaya (RAB), tanah basah sedalam 50 sentimeter harus dibuang.

”Harus itu, tidak boleh tidak, karena ini pekerjaan konstruksi. Di mana-mana kalau pekerjaan konstruksi begitu,” ujarnya.

Saleh menjelaskan, ketika tanah basah dibuang, kemudian ketemu tanah padat, lalu dipadatkan menggunakan alat vibro, bedel tidak boleh langsung masuk. ”Setelah divibro padat, padatnya itu harus mencapai 95 kepadatan. Baru dikasih bedel setinggi 40 sentimeter sampai 50 sentimeter,” urainya.

Selesai diberi bedel, dipadatkan lagi pakai vibro. Setelah padat, dipasang lagi pakai bedel setinggi 30 sentimeter. Lalu, dipadatkan lagi pakai vibro. ”Saya tidak melihat itu di proyek gedung dewan. Langsung dikasih bedel. Itu sembarangan,” sebutnya.

Hal demikian, terang dia, bisa membuat konstruksi rentan bergerak karena tanah basah tidak dibersihkan terlebih dahulu. Bangunan nanti duduk di atas pancang. Tetapi, lantai yang dipasangi keramik tidak duduk di atas pancang. ”Agar tidak cepat retak, dibuang dulu tanah basahnya. Istilahnya pemadatan berlapis,” tuturnya.

Saleh menyampaikan, pekerjaan konstruksi yang benar harus ada pembersihan. ”Saya tegaskan, kalau pekerjaan konstruksi, pembersihan lokasi pasti ada. Eman proyek itu pakai uang rakyat,” paparnya.

Kabid Tata Bangunan dan Gedung Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Bangkalan Nur Taufik mengaku masih rapat saat akan dimintai penjelasan kemarin. Dihubungi melalui layanan pesan singkat, yang bersangkutan tidak merespons.

Sebelumnya, perwakilan PT Gala Karya Norman membenarkan bahwa dalam pemadatan tanah basah tidak dibuang terlebih dahulu. Sebab, dalam perencanaannya memang demikian. Tetapi, kata dia, tidak perlu khawatir karena pemasangan bedel pakai vibro.

Norman menegaskan, pihaknya tidak mungkin bekerja di luar perencanaan. Dia mengklaim semua pekerjaan proyek pembangunan gedung DPRD Bangkalan sudah berdasarkan perencanaan. 

(mr/daf/hud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia