Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Features

Dosen-Dosen Peduli Pemuda agar Cinta Literasi dan Kesenian (1)

Karena dengan Karya Kita Bisa Melihat Dunia

09 Juli 2019, 15: 26: 29 WIB | editor : Abdul Basri

SEDERHANA: M. Helmy Prasetya menunjukkan buku-buku puisi karyanya di tempat usaha jualan kopi di depan SDN 1 Kemayoran, Bangkalan, Kamis malam (4/7).

SEDERHANA: M. Helmy Prasetya menunjukkan buku-buku puisi karyanya di tempat usaha jualan kopi di depan SDN 1 Kemayoran, Bangkalan, Kamis malam (4/7). (DAFIR/RadarMadura.id)

Share this      

Tugas manusia tidak hanya menghirup udara, makan, dan tidur. Manusia harus punya manfaat. Begitu pesan M. Helmy Prasetya.

DAFIR, Bangkalan

NAMA M. Helmy Prasetya tidak asing dalam dunia kesenian. Pria yang kini menjadi dosen itu banyak mendirikan sanggar dan membina kaum muda untuk berkesenian.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkesempatan menemuinya Kamis malam (4/7). Di sebuah warung kopi kecil, tepat di depan SDN 1 Kemayoran, kami ngobrol panjang lebar hingga larut malam.

Meski sudah jadi dosen, Helmy tidak malu berjualan kopi. Sesekali obrolan kami terhenti karena dia harus melayani pembeli. ”Kopi satu,” pesan seorang pria dengan akrab.

”Sebentar ya,” jawab Helmy sembari meracik kopi pesanan. Segelas kopi dihidangkan kepada pria itu. Obrolan kami pun berlanjut.

Di warung kopi inilah setiap saat diperbincangkan berbagai masalah kesenian. Melibatkan siapa saja yang mau nimbrung. Malam hingga dini hari. Bahkan, di belakang warung kopi itu digelar ”panggung terbuka” tempat berproses Komunitas Masyarakat Lumpur (KML).

”Selain mengajar dan melatih anak-anak di sanggar, rutinitas saya ya begini (jualan kopi),” ucapnya.

Helmy menyampaikan, tidak sedikit karya yang dituangkan dalam bentuk buku lahir di tempat ini. ”Karya saya baru ada lima. Itu yang dibuat dalam bentuk buku,” tuturnya.

Lima karya tersebut berjudul Sepasang Mata Ayu (2009), Tamasya Celurit Minor (2015), Mendapat Pelajaran dari Buku (2016), Antropologi Hilang (2016), dan Luka (2016). Tahun 2016 dia produktif bikin buku. ”Tahun ini insyaallah ada tiga buku yang saya garap, masih dalam proses,” katanya.

Helmy menuturkan, selama ini memang banyak orang bertanya alasan dirinya aktif di dunia seni dan literasi. Dia mengaku sangat sulit untuk menjawab. ”Sesepuh saya tidak punya darah seni. Tapi, nggak tahu kenapa saya sangat cinta dunia literasi dan kesenian,” ujarnya.

Banyak orang memandang sebelah mata terhadap dunia yang dia pilih. Sebab, dunia kesenian dan sastra tidak menjamin untuk hidup mapan dan sejahtera. ”Berkesenian dan menulis buku, tidak ada jaminan untuk bisa hidup layak,” terangnya.

Dia mengaku dulu sempat minder dan pesimistis mengajak teman-teman dan generasi muda untuk cinta literasi dan berkesenian. Namun, ajakan itu tetap dipaksakan meski banyak menerima pandangan sinis. Sebab, memang tidak ada jaminan. Tapi, semua itu dipaksakan agar para pemuda terus berkarya.

Menurut dia, karya itu catatan hidup. Karya itu menjadi bukti bahwa kita pernah menjalani hidup. Berkarya itu tidak perlu bagus, tapi konsisten.

”Kita ini lahir tidak semerta-merta menghirup udara, makan tidur, dan lainnya. Tapi, bagaimana kita punya manfaat dan arti di tengah-tengah masyarakat,” paparnya. ”Kebetulan saya menulis buku lewat jalur kesenian. Karena itu yang bisa saya lakukan,” ujarnya.

Helmy menjelaskan, kalau bicara karya, setiap manusia punya potensi untuk berkarya. Hanya, terkadang manusia sendiri yang tidak menyadari itu. ”Saya ngajak teman-teman, ayolah berkarya karena itu penting untuk hari tuamu. Memang naif sih, karena memang tidak ada jaminan untuk hidup sejahtera,” sebutnya.

Bahkan, kata Helmy, 2004 itu adalah tahun-tahun di mana dunia literasi dan seni masih tabu. Jangankan di lingkungan masyarakat, di dunia pendidikan saja, dunia seni dan sastra terpinggirkan. ”Tapi, saya gerak saja. Sekarang ini terjawab, di mana sekarang banyak pihak-pihak menggalang literasi. Termasuk pemerintah,” ungkapnya.

Dia bercerita, bergelut di dunia kesenian dan sastra penuh pertentangan. Bukan hanya dari lingkungan sekitar, melainkan juga keluarga. ”Kala itu saya menulis puisi. Tiba-tiba mbak kandung saya datang membuang tulisan saya. ’Buat apa nulis puisi, berteater. Emang bisa makan? Ayolah cari kerja yang jelas’,” kata Helmy menirukan ucapan mbak kandungnya ketika menegur saat itu.

Mendapat pertentangan demikian, Helmy hanya bisa diam. Namun, semangat untuk menulis puisi dan berkesenian semakin bergelora. Sekarang terbukti. Kini dia mendapat amanah jadi dosen. Bahkan, baru-baru ini Helmy mendapat penghargaan bidang sastra dari Gunernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. ”Itu karena karya saya,” jelasnya.

Prinsipnya, ketika ingin berkarya dan berkesenian, jangan setengah-setengah. Harus total. Totalitas itu dibuktikan sendiri oleh Helmy. Rumahnya menjadi sekretariat KML .

Bukan sebatas sekretariat dalam arti tempat administrasi, melainkan tempat berproses anak-anak muda dalam dunia kesenian dan literasi. KML menjadi komunitas sastra terbaik versi Balai Bahasa Jawa Timur 2004.

”Alhamdulillah, dari sekian komunitas dan sanggar yang kami dirikan, banyak prestasi yang sudah ditorehkan,” ucapnya. ”Berkaryalah, karena dengan karya kita bisa melihat dunia,” tandasnya.

Dari KML inilah kemudian banyak melahirkan seniman. Mereka juga mendirikan sanggar dan dibina. Hingga saat ini, KML memiliki agenda rutin. Antara lain, Festival Puisi Bangkalan (FPB), Baca Puisi Na’-kana’ Bhângkalan (BPNB), dan Manifesto Idiot.

Selain KML, dia membidani kelahiran sejumlah sanggar atau komunitas seni. Antara lain, Teater Dua, Teater Ndase, dan Sanggar Musikalisasi Pelangi SMAN 2 Bangkalan. Kemudian, Teater Topeng-Topeng SMKN 2 Bangkalan dan Teater Kisah Cinta SMKN 1 Bangkalan.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia