Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep
Prestasi Internasional

Anak Penjual Gorengan Ini Terima Penghargaan Presiden Turki

07 Juli 2019, 15: 01: 38 WIB | editor : Abdul Basri

TELADAN: Imam Syafiie menerima penghargaan dari Presiden Republik Turki Recep Tayyip Erdoğan sebagai salah satu mahasiswa internasional berprestasi pada acara The 8th International Student Graduation Ceremony.

TELADAN: Imam Syafiie menerima penghargaan dari Presiden Republik Turki Recep Tayyip Erdoğan sebagai salah satu mahasiswa internasional berprestasi pada acara The 8th International Student Graduation Ceremony. (YTB FOR RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Orang tua mana yang tak bangga jika anaknya mampu meraih prestasi gemilang? Apalagi mampu berbicara di panggung internasional. Imam Syafiie, mahasiswa asal Sumenep yang menuntut ilmu ke Turki berhasil mengharumkan nama Indonesia.

Dia dinobatkan sebagai salah satu Başarılı Öğrenci (mahasiswa berprestasi) dari sekitar 19 mahasiswa Internasional di The 8th International Student Graduation Ceremony. Wisuda mahasiswa internasional yang diprakarsai Yurtdışı Türkler ve Akraba Topluluklar Başkanlığı (YTB) dan Turkey Scholarship.

Saat ini, pemuda dari Bumi Sumekar itu masih ada di negara yang dipimpin Recep Tayyip Erdoğan. Jawa Pos Radar Madura menghubungi Imam –sapaan akrab Imam Syafiie– melalui nomor pribadinya kemarin (6/7).

PERTAMA: Imam Syafiie berpidato mewakili mahasiswa berprestasi dari negara-negara lain di Turki.

PERTAMA: Imam Syafiie berpidato mewakili mahasiswa berprestasi dari negara-negara lain di Turki. (YTB FOR RadarMadura.id)

Imam berkesempatan kuliah di Turki melalui jalur beasiswa YTB pada 2014. Sebelum menempuh pendidikan di perguruan tinggi, dia masuk kelas persiapan bahasa Turki selama setahun. Kemudian, pada 2015 baru mulai kuliah di Universitas Ankara. Pemuda asal Desa Sera Timur, Kecamatan Bluto, Sumenep, itu tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Bahasa, Sejarah dan Geografi, jurusan Ilmu Sejarah.

”Kuliah saya 100 persen menggunakan bahasa Turki. Dan dianggap sebagai salah satu jurusan yang susah karena Full-Turkish,” ungkap mahasiswa kelahiran Sumenep, 4 April 1994 itu.

Ada ribuan mahasiswa asing yang kuliah di Turki melalui jalur beasiswa dari YTB. Setiap akhir tahun akademik, ada wisuda khusus bagi mahasiswa asing. Tahun 2019 kali ini merupakan wisuda ke-8. Dalam hajatan tahunan ini, kata Imam, biasanya YTB melakukan asesmen bagi mahasiswa yang berhasil di bidang akademik. Dilihat berdasarkan nilai dan track record setiap mahasiswa selama masa studi.

Sekitar tiga pekan sebelum wisuda, dia dihubungi oleh YTB. Imam ditanyakan terkait status studinya akan lulus atau tidak. Usai dihubungi, YTB memberi tahu jika Imam merupakan salah satu Başarılı Öğrenci. Dia diminta untuk ikut shooting film pendek yang akan ditampilkan ketika wisuda digelar.

Di sela-sela pembuatan film pendek tersebut, sulung tiga bersaudara ini ditunjuk untuk memberikan speech (pidato lulusan) mewakili seluruh wisudawan. Saat diwisuda, Imam juga mendapat piagam penghargaan seperti yang diterima mahasiswa asing berprestasi pada umumnya. Hanya, penghargaan yang diterima kali ini diberikan langsung oleh Presiden Republik Turki Recep Tayyip Erdoğan. Presiden juga memberikan hadiah kepadanya kala itu.

Sebelum ke Turki, sejumlah tingkatan pendidikan dilaluinya. Imam pernah menempuh pendidikan di MI Tarbiyatul Athfal, MTs Nurul Islam, dan MA Nurul Islam Bluto. Selama menjadi mahasiswa di Universitas Ankara, dia juga pernah mendapat kesempatan Awardee Erasmus+Student Exchange Programme di Nicolaus Copernicus University, Torun, Polandia di 2017 selama satu semester. Program dari dana hibah Uni Eropa.

Selama di Turki, dia juga membagi waktu untuk aktif di organisasi. Bahkan, Imam pernah menjabat Bidang Keilmuan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Ankara 2015–2016. Kemudian 2017–2018 dipercaya menjadi sekretaris jenderal PPI Turki.

Putra Moh. Kutsi dan Endang Rahayu ini merupakan kakak dari Nadia Salsabila dan Haidar El-Ghazi. Selama kuliah, tidak mengecewakan hati orang tua dan keluarga menjadi motivasinya. Sebab, Imam menyadari tidak bisa sampai di titik saat ini tanpa perjuangan kedua orang tua. ”Ibu saya sebagai ibu rumah tangga sambil jualan gorengan. Bapak, merantau ke Bali jualan bakso,” ujarnya.

Dia mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuanya yang tanpa lelah mendukung. Serta guru-guru selama menempuh pelajaran di sekolah yang tiada henti memberikan ilmu dan pendidikan. ”Terima kasih tak terhingga atas setiap doa dan dukungannya,” ucap Imam.

Founder Turkish Spirits (TS) Bernando J. Sujibto menerangkan, ada belasan mahasiswa berprestasi yang diwisuda jalur beasiswa YTB setiap tahun. Mahasiswa asing beprestasi peraih nilai tertinggi diberi hadiah atau kenang-kenangan dari pemerintah Turki. Menurutnya, yang patut dibanggakan, Imam dipercaya memberikan pidato mewakili para mahasiswa berprestasi dari negara-negara lain. Sebab, kesempatan tersebut merupakan suatu kehormatan.

”Jarang sekali bisa mendapatkan kesempatan itu. Ini pertama kali untuk Indonesia mahasiswa internasional berprestasi di Turki ditunjuk memberikan speech,” jelas master sosiologi di Selcuk University, Konya Turki, itu.

Bj –panggilan Bernando J. Sujibto– menyebut, kepercayaan dan penghargaan yang diberikan kepada Imam merupakan anugerah. Patut menjadi cerminan khususnya bagi pelajar Indonesia di Turki. Imam merupakan sosok dengan tipikal pelajar yang tekun. Tidak mudah menyerah. Sebab, untuk bisa memahami bahasa Turki tidak mudah.

”Banyak mahasiswa dari berbagai negara dan dari Indonesia gagal mendapat prestasi. Perlu skill dan kemampuan memahami untuk menguasai bahasa ini,” terangnya. ”Harapannya Imam bisa melanjutkan pendidikannya,” kata pria asal Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, itu.

(mr/bad/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia