Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Features

Pengarang Buku Sastra di Tengah Kesibukan Mengajar Mahasiswa (3)

07 Juli 2019, 14: 55: 38 WIB | editor : Abdul Basri

SAHABAT BUKU: Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura Suhairi menunjukkan buku karyanya di depan rak perpustakaan pribadinya, Jumat (5/7).

SAHABAT BUKU: Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura Suhairi menunjukkan buku karyanya di depan rak perpustakaan pribadinya, Jumat (5/7). (SUHAIRI FOR RadarMadura.id)

Share this      

Keterbatasan fasilitas tidak membuat keinginan Suhairi menjadi penulis surut. Hal tersebut justru dijadikan peluang dan tantangan. Kini dia merasakan buah perjuangan itu dengan tetap membaca dan menulis.

MOH. ALI MUHSIN, Pamekasan

SAYA belajar menulis secara otodidak,” kata Suhairi kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Jumat (5/7).

Sosok yang biasa menggunakan nama pena Suhairi Rachmad ini mulai belajar menulis secara otodidak sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan. Saat itu, workshop kepenulisan masih sangat jarang. Namun, karena memiliki keinginan kuat untuk menulis, dia terus belajar.

Keterbatasan fasilitas membuat dia semakin tertantang untuk menjadi penulis yang dikenal publik. Waktu itu, cara pengiriman naskah melalui kantor pos. Dia merasa puas ketika naskah yang dikirim sudah berada di meja pos pesantren.

”Andaikan naskah tersebut tidak dikirim ke alamat tujuan, sebenarnya saya sudah merasa puas,” terang dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura itu.

Setamat MA Mambaul Ulum Bata-Bata, dia melanjutkan pendidikan ke Fakultas Sastra Universitas Jember. Sejak saat itu dia mulai menulis di beberapa media cetak. Dia semakin aktif menulis puisi dan cerita pendek (cerpen). ”Saya baru menerbitkan novel pada 2015,” lanjutnya.

Novel itu berjudul Kelopak Cinta Kelabu. Novel ini merupakan refleksi kegelisahannya terhadap kondisi Madura pasca pemilihan umum (pemilu). ”Setiap pelaksanaan pemilu, masyarakat Madura rawan konflik. Bahkan, sering kali nyawa yang menjadi taruhannya,” ujar  pria kelahiran 20 Oktober 1977 ini.

Konflik pasca pemilu itulah yang menyebabkan novel tersebut lahir. Awalnya, judul novel tersebut adalah Tembang Perih Tanah Garam. Namun, karena permintaan penerbit, judulnya diganti. Pembudi daya lele itu pun mengganti judul dengan Kelopak Cinta Kelabu.

Di tahun yang sama dia menerbitkan kumpulan cerpen Surat dari Malaikat. Melalui buku itu Suhairi banyak mendedahkan persoalan manusia dan kemanusaiaan. Dalam beberapa cerpennya dia juga menggelitik perilaku kaum beragama.

Seperti dalam cerpen Anjing-Anjing Menyerbu Masjid dan Lampu Templek Mbah Sholeh. Tema serupa bisa dijumlah dalam cerpen Suara Azan, Surat dari Malaikat, Penggusuran Mayat, Lelaki yang Bersujud, Tamu di Waktu Subuh, Lelaki dalam Masjid, Ketika Darah Bicara, dan Mayat.

Pria yang tinggal di Jalan Asta Keramat 01 Talaga, Ganding, Sumenep, ini suka menularkan semangat literasi kepada siapa pun. Baik kepada teman-teman sejawat, siswa, dan mahasiswanya. ”Saya sering kali ngobrol dengan dosen dan mahasiswa tentang literasi. Betapa enaknya menulis, betapa gampangnya menulis,” lanjut guru di Mambaul Ulum Ganding itu.

Berkat kreativitasnya dalam menulis dia mendapat penghargaan sebagai Penulis Muda Sumenep dari Komunitas Jurnalis Sumenep (KJS). Bapak dua anak itu juga mendapat penghargaan sebagai mahasiswa produktif dari Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya. Perhargaan kejuaraan menulis juga sering diraihnya ketika kuliah di Jember.

Dia bangga ketika ada beberapa temannya yang ikut tergerak untuk menulis. ”Alhamdulillah, sudah ada beberapa tulisan dosen dan mahasiswa yang dimuat di koran. Tradisi ini harus tetap dirawat agar dunia tulis-menulis di Madura semakin hidup,” kata mantan wartawan televisi lokal di Sumenep itu.

Dia tidak sekadar menulis novel dan kumpulan cerpen. Dia juga menulis puisi dalam beberapa antologi bersama penyair lain. Karya tulisnya pernah nangkring di Jawa Pos, JPRM, dan sejumlah media lain. Puisinya juga ada yang dimuat dalam antologi bersama Puisi Rakyat Merdeka (Radio Nederland, Belanda)

”Mohon doanya, Insyaallah sebentar lagi saya akan mengajukan naskah buku motivasi ke salah satu penerbit mayor di Bandung. Judulnya Harap Senang, Ada Ujian. Ada sekitar 40 judul yang akan dimuat dalam buku itu,” harap suami Ainiyah itu.

Walaupun seleksi di penerbit mayor cukup ketat, dia yakin naskah tersebut akan bisa terbit dan bisa diterima oleh pembaca. Dia mengajak generasi penerus bangsa mengembangkan dunia literasi dengan cara menulis. Dengan menulis, manusia itu dipaksa untuk membaca.

Dengan demikian, peringkat bangsa ini di bidang membaca dan menulis bisa meningkat. ”Saya hanya ingin bermanfaat sepanjang masa,” ungkapnya mengakhiri perbincangan.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia