Jumat, 19 Jul 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

Meski Sakit Ingin Tetap Berkarya

07 Juli 2019, 14: 42: 46 WIB | editor : Abdul Basri

Agus Suharjoko semasa hidup.

Agus Suharjoko semasa hidup. (ISTIMEWA)

Share this      

SUMENEP – Suasana duka menyelimuti rumah keluarga Agus Suharjoko di Perum Trunojoyo Regency Blok E, Desa Marengan Daya, Kecamatan Sumenep, kemarin (6/7). Banyak tamu yang datang melayat ke rumah seniman teater itu. Baik, kerabat, teman, warga setempat, guru, dan seniman.

Femi Lusiana Dewi, istri almarhum Agus Suharjoko menemui tamu di teras depan. Dengan mata sembap dan berkaca-kaca, Femi berusaha tegar menerima kepergian suami tercinta yang menikahinya pada 2006 itu. Mereka memiliki dua anak. Yakni Forlana Teateristico Agusta, 12, dan Dramasta, 8.

Di mata istri dan anaknya, Agus merupakan sosok pemimpin keluarga yang ramah, penyayang, dan disiplin. ”Dia selalu mengajarkan kepada saya dan anak-anak agar selalu disiplin terhadap waktu dalam melakukan hal apa pun,” tuturnya.

Agus mengembuskan napas terakhir di rumahnya pada Jumat (5/7) sekitar pukul 21.00. Seniman teater yang juga merupakan penata tari itu meninggal setelah sekian lama berjuang melawan sakit.

Jenazah dimakamkan di pemakaman keluarga di Kecamatan Saronggi kemarin. Selain sebagai seniman, pria kelahiran 16 Agustus 1969 itu aktif mengajar di SMAN 1 Kalianget. Sebelumnya, dia juga pernah mengajar di SMAN 1 Sumenep. Selain mangajar keseninan, di sekolah tersebut dia juga membentuk komunitas teater yang diberi nama Komunitas Teater SMAN 1 Sumenep (Kates).

Namun, sejak awal 2019, Agus terpaksa mengajukan cuti karena kondisi kesehatannya menurun. Hasil pemeriksaan rumah sakit, Agus didiagnosis mengalami radang tenggorokan akut hingga menyebabkan dia tidak bisa berbicara. ”Tidak makan banyak dan berbicara juga tidak bisa. Kalau mau menyampaikan sesuatu kepada kami menggunakan bahasa isyarat atau menyampaikannya melalui HP,” terangnya.

Selama sakit dia tidak pernah lagi keluar rumah. Setiap hari dia hanya bisa beristirahat sambil membaca buku, mendengar ceramah agama dan lantuan ayat suci Alquran di Youtube. Agus pernah menjadi pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur periode 2008–2013 sebagai anggota komite teater.

Seminggu terakhir sebelum Agus meninggal, Femi tidak diperbolehkan keluar rumah. Aktivitasnya sebagai perias juga dibatasi. Tidak boleh lebih dari satu jam.

Femi mengaku syok dengan kepergian Agus. Sebab, sebelum meninggal kondisi suaminya biasa saja. Mulai dari siang batuk terus, namun tidak mau dibawa ke rumah sakit. Hanya meminta diolesi minyak angin.

Dalam kondisi seperti itu dia masih memberikan semangat kepada anak-anaknya untuk tidak sedih. ”Semangat, ayah tidak apa-apa. Insyaallah ayah sembuh. Padahal, saat itu kami sudah panik,” tuturnya.

Tidak lama kemudian, suaminya itu meminta rebahan di kasur. Setelah meluruskan badan, dia perlahan memejam dan meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Suaminya itu memiliki karakter kuat dan semangat tinggi untuk tetap berkarya dan aktif di kegiatan kesenian. Dia tidak pernah mau dilarang dalam berkesenian meski dalam kondisi sakit. Baginya, seni adalah hobi dan bagian dari perjalanan hidup. Dia ingin meninggal dalam keadaan berkarya.

”Pernah waktu itu ayah bilang kenapa selama sakit kok tidak pernah ada undangan untuk tampil, jadi juri, dan semacamnya. Saya pernah menenaminya saat menjadi juri di kegiatan lomba puisi, saya sampai membawa obat khawatir dibutuhkan,” ucapnya.

Perjuangan suaminya dalam melawan sakit sangat luar biasa. Segala macam upaya pengobatan sudah dijalani. Baik medis maupun pengobatan herbal. Harapannya, agar suaminya itu bisa sembuh. ”Pernah dibawa berobat ke Rumah Sakit dr. Soetomo, Surabaya. Tapi, dokter yang menangani angkat tangan karena sakitnya sudah lama dan cukup parah,” ujarnya.

Dirinya berharap kepada semua orang yang mengenal Agus mulai dari seniman, guru, siswa, dan anak sanggar atau komunitas seni apabila ada salah-salah kata, ucapan, sikap, perbuatan, tulisan, dan sebagainya mohon dibukakan pintu maaf.

(mr/luq/nal/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia