Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Features

Pengarang Buku Sastra di Tengah Kesibukan Mengajar Mahasiswa (2)

Wakil Dekan Menulis karena Kepuasan

06 Juli 2019, 05: 50: 59 WIB | editor : Abdul Basri

PRODUKTIF: Muhammad Tauhed Supratman menunjukkan Rapsodi Mawar dan Gerimis serta Humanitas Madura karyanya di Universitas Madura, Kamis (4/7).

PRODUKTIF: Muhammad Tauhed Supratman menunjukkan Rapsodi Mawar dan Gerimis serta Humanitas Madura karyanya di Universitas Madura, Kamis (4/7). (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

Share this      

Kesibukan di kampus sebagai dosen dan wakil dekan tidak membuat berhenti menulis. Muhammad Tauhed Supratman tetap produktif melahirkan karya.

PRENGKI WIRANANDA, Pamekasan

Pan-sampanan ja’ nga-nengnga

Ngarambang talena panceng

Abakalan ja’ na-perna

Paraban karena lanceng

PANTUN Madura itu mengawali perbincangan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) dengan Muhammad Tauhed Supratman, Kamis (4/7). Dosen sekaligus Wakil Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Madura (Unira) itu produktif menulis di tengah kesibukannya di kampus.

Mengenakan batik dan kacamata, penampilan pria kelahiran 27 November 1970 itu sangat rapi. Perbincangan seputar aktivitas dalam menulis buku mengalir. Bahkan, dia tidak segan menceritakan awal mula menjadi literat.

Cerita Tauhed mengenal dunia literasi cukup unik. Dia tertarik menulis karena rasa kekecewaan mendalam lantaran nilai mata pelajaran bahasa Indonesia pada saat sekolah sangat rendah.

Artikel menjadi ladang belajar menulis. Beberapa tulisan lahir. Pada 1989, dia menulis artikel berjudul Peranan Wanita dalam Pembangunan. Tulisan tersebut diterbitkan di Jawa Pos.

Semangat Tauhed menggeluti dunia tulis-menulis terus menggeliat. Maklum, selain namanya dikenal lantaran tulisannya terbit di koran, dia juga mendapat honor. ”Honor saya cukup buat bayar SPP,” katanya.

Kemudian, dia mencoba menulis puisi. Buku sastra menjadi bahan bacaannya. Sejumlah karya berhasil ditelurkan. Di antaranya, Sastra Madura, Di Mana Kau?, Potret Sosial dalam Pantun Madura, dan beberapa karya lain.

Sebanyak 14 karya puisi milik Tauhed bersama penyair lain diterbitkan. Di antaranya, dalam antologi Puisi Rakyat Merdeka yang diterbitkan pada 2003. Kemudian, Dari Are’ Lancor ke Hati Rencong pada 2005 dan Nemor Kara pada 2006.

Satu antologi puisi milik alumnus Lembaga Jurnalistik Mandiri itu diterbitkan di Kuala Lumpur, Malaysia. Kumpulan sajak itu berjudul Antologi Puisi Wangian Kembang. Sementara untuk karya tunggal, sebanyak tiga buku diterbitkan. Masing-masing berjudul Paparèghân, Rapsodi Mawar, dan Gerimis serta Humanitas Madura.

Karya Tauhed mendapat penghargaan dari dalam dan luar negeri. Di antaranya, sajak berjudul Nyanyian dari Kampus dibacakan Radio Nederland, di Helvirsum, Belanda. Kemudian, artikel ilmiah berjudul Soeharto dalam Cerpen Indonesia mendapat penghargaan dari radio tersebut.

Tauhed berjanji akan terus menulis. Bagi dia, dengan menulis umur akan panjang. Seluruh yang terjadi dalam kehidupan akan abadi melalui tulisan. ”Selama saya hidup akan terus menulis. Berhenti menulis berarti mati,” katanya.

Tauhed mengampu empat mata kuliah. Yakni, apresiasi puisi, apresiasi prosa fiksi, menulis karya sastra, dan metodologi penelitian. Dia juga diberi amanah menjadi wakil dekan I yang banyak bergelut di bidang administrasi.

Meski demikian, kesibukan itu tidak menghalagi aktivitasnya menulis. Bagi Tauhed, menulis adalah keharusan. Waktu di rumah banyak dihabiskan untuk membaca dan menulis. ”Senin sampai Kamis saya di kampus sebagai dosen dan wakil dekan. Setiap ada waktu luang, saya sempatkan membaca dan menulis,” katanya.

Tauhed mengatakan, sesuatu yang dipikirkan dan dirasakan bisa dituangkan dalam tulisan. Hasil karya itu bisa bermanfaat bagi orang lain. ”Dengan menulis, ada kepuasan batin yang tidak bisa ditukar dengan uang,” imbuhnya.

Pria yang tinggal di Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, itu mendalami dunia sastra. Bagi dia, karya sastra bisa meningkatkan pendidikan karakter. Salah satunya sastra lisan atau pantun yang banyak memberikan pelajaran hidup yang perlu diteladani.

Perreng odhi’ ronto biruna

Parse jenno rangrang tombu

Orang odhi’ neko koduna

Nyare elmo pataronggu

”Sastra lisan itu banyak memberikan pelajaran hidup,” tandasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia