Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Bangkalan
ATM Penerima PKH Sering Tertelan

Jumlah Pendamping Tak Ideal

05 Juli 2019, 14: 38: 47 WIB | editor : Abdul Basri

TELITI: Operator PKH Bangkalan sibuk memproses data di ruang kerjanya kemarin.

TELITI: Operator PKH Bangkalan sibuk memproses data di ruang kerjanya kemarin. (DARUL HAKIM/RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN – Jumlah pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Bangkalan belum ideal. Pasalnya, sesuai standar, tiap pendamping mendampingi 250 keluarga penerima manfaat (KPM).

Kenyataannya di Kota Salak, pendamping ada yang harus mendampingi 300–400 KPM. Jumlah pendamping yang tersebar di 18 kecamatan secara keseluruhan 206 orang. Total KPM PKH mencapai 69.327. Jika dirata-rata, satu pendamping harus melayani 336 penerima PKH. (selengkapnya lihat grafis). Sementara total anggaran yang akan dicairkan tahap ketiga Rp 54.686.600.000.

Koordinaor Kabupaten (Korkab) PKH Bangkalan Heru Wahyudi menyampaikan, meski jumlah KPM berubah, tidak ada penambahan. Untuk by name by address (BNBA), pihaknya tidak bisa memberikan data karena sudah ada aturan. Kecuali langsung berkoordinasi dengan kementerian. ”Sementara ini, ada KPM yang meninggal 19 orang,” ungkap dia saat ditemui di ruang kerjanya kemarin (4/7).

KPM yang meninggal, lanjut Heru, akan diproses sesuai prosedur dan prosesnya agak lama. Sebab, saat ini pencairan sudah menggunakan ATM. Dulu ketika pencairan di pos cukup menunjukkan surat ahli waris bisa dilakukan pencairan.

Saat ini ketika meninggal, prosedur pengambilannya harus ahli waris. ”Buku tabungan dan ATM tidak diberikan. Artinya, ditahan sampai dilakukan proses perubahan. Secara otomatis, Kemensos akan mencetak buku tabungan dan kartu sesuai dengan ahli waris sesuai perubahan,” jelasnya.  

Pria berkacamata itu menambahkan, pendamping tetap melakukan pemutakhiran data. Pihaknya sudah melakukan proses secara keseluruhan. Dalam PKH, kata Heru, mengacu pada pengurus atau penerima bantuan. Sebab, yang tercetak di buku tabungan dan kartu ada nama tersebut.

”Acuan di PKH penerima itu pengurus, namanya. Kalau pengurus meninggal, secara otomatis bantuan PKH itu harus ditindaklanjuti sesuai aturan,” terangnya. ”Kartu dan buku tabungan yang mencetak dari kementerian,” sambungnya.

Korkab PKH Bangkalan lainnya Mashudi menambahkan, KPM terkadang melakukan pencairan sendiri ke ATM tanpa pendamping. Dengan demikian, banyak ATM yang tertelan. ”Nanti direkap oleh pendamping, lalu disampaikan kepada kami, lalu ditembuskan ke BRI. Setelah itu, diterbitkan kartu pengganti,” ujarnya.

Mashudi menjelaskan, sesuai standar, ada 250 KPM yang harus diawasi pendamping. Sedangkan fakta di lapangan tidak demikian. ”Pendamping memang tidak ideal. Kekurangan sebenarnya. ”Kurang ideal jumlah (pendamping) yang ada. Sempat ada yang berhenti, ada enam orang. Tapi, penggantinya empat orang,” imbuhnya.

Masih kata Mashudi, komponen KPM seperti pendidikan (memiliki anak sekolah), kesehatan (ibu hamil dan balita), dan kesejahteraan sosial (kesos) diberikan kepada penyandang disabilitas dan lanjut usia (lansia). ”Maksimal penerima Rp 6 juta dalam setahun, jika dalam satu penerima ada tiga komponen itu,” pungkasnya. 

(mr/onk/rul/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia