Sabtu, 14 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Bangkalan

Tangan Diborgol, Mata Dilakban

04 Juli 2019, 18: 17: 57 WIB | editor : Abdul Basri

TERBARING: M. Hafi menjalani perawatan intensif di Puskesmas Socah, Bangkalan, Selasa (2/7).

TERBARING: M. Hafi menjalani perawatan intensif di Puskesmas Socah, Bangkalan, Selasa (2/7). (IMRON FOR RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN - M. Hafi harus menjalani perawatan medis di Puskesmas Socah. Pria 49 tahun, asal Desa Junganyar, Kecamatan Socah, Bangkalan, itu diduga menjadi korban penganiayaan oknum polisi. Penyebabnya, operator tata suara (sound system) itu dituduh sebagai begal di sekitar kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM).

Informasi yang dihimpun JPRM, pria berkulit sawo matang itu didatangi ke Kabupaten Gresik oleh aparat kepolisian pada Sabtu (29/6) sekitar pukul 08.00. Saat itu Hafi menjadi operator sound system. Kedatangan polisi tersebut dengan alasan ingin menyewa sound system milik saudaranya.

Tanpa rasa curiga, Hafi manut ketika diajak keluar dan masuk ke mobil. Pada saat itulah dia mengaku dipukul bertubi-tubi sambil dicerca berbagai pertanyaan terkait pembegalan di sekitar kampus UTM. ”Tangan saya diborgol dan mata ditutup lakban,” akunya.

Insiden itu disebabkan oknum polisi meminta dirinya mengaku sebagai pelaku begal. Hafi juga ditanya tempat penyimpanan barang bukti (BB) sepeda motor hasil tindak kejahatan tersebut. Oknum polisi itu juga mengatakan bahwa sudah ada saksi.

Meski demikian, Hafi tidak mengakui tuduhan itu karena memang tidak pernah melakukan aksi kriminalitas tersebut. Bahkan Hafi siap ditembak jika harus mengakui tuduhan yang tidak pernah dilakukannya itu. ”Jangankan akan dijatuhkan dari Suramadu, ditembak sekalipun saya berani karena saya memang tidak pernah melakukan,” tegasnya.

Kasatreskrim Polres Bangkalan AKP David Manurung mengakui, Hafi memang sempat dibawa ke mapolres. Setelah memberikan keterangan, yang bersangkutan dikembalikan kepada keluarga. ”Kami sudah meluruskan hal-hal yang dimaksud kepada Pak Hafi dan keluarga,” ujarnya.

Perwira pertama berpangkat tiga balok emas di pundaknya itu menepis dugaan pemukulan kepada Hafi. Yang benar, kata David, pihaknya meminta keterangan. ”Pak Hafi diamankan untuk dimintai keterangan benar,” jelasnya.

Adik korban, Rofiah, didampingi anggota DPRD Bangkalan asal Socah Fadhur Rosi mendatangi Satreskrim Polres Bangkalan kemarin (3/7). ”Saya sama Kasi Provos sudah melakukan pendalaman yang ditugaskan Pak Kapolres untuk mengetahui fakta yang sebenarnya. Saya belum bisa menjawab detail terkait itu (dugaan pemukulan, Red),” jelas David.

Fadhur Rosi mengaku dimintai bantuan keluarga Hafi untuk mengklarifikasi. Pihaknya meminta keterangan dari satreskrim untuk menjelaskan seperti apa prosesnya. ”Biar Pak Kasat yang menjelaskan,” ucapnya.

(mr/luq/rul/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia